
Keesokan harinya, Zeline tampak cantik dengan balutan dress berwarna peach selutut. Dengan rambut yang digerai dan dibentuk sedikit bergelombang di bagian ujungnya.
Prokk ... Prokk ... Prokk ...
Terdengar tepuk tangan dari arah belakang, membuat Zeline pun langsung mengarahkan pandangannya menuju ke sumber suara.
"Luar biasa! Kamu memang sangat cantik!" ujar Vera berdecak kagum melihat penampilan Zeline malam ini.
"Ya ... Semua yang kamu pilihkan selalu cocok di tubuhku. Penampilanku sesempurna ini juga karena mu," balas Zeline berjalan menuju ke cermin besar, melihat pantulan dirinya di cermin tersebut.
"Tentu saja! Aku tidak ingin membuatmu tampil terlalu sederhana apalagi ini adalah pertemuan pribadi dengan Pak Arman. Sebisa mungkin, aku akan membuat Pak Arman terhipnotis dengan kecantikanmu malam ini," ucap Vera dengan sangat bersemangat.
"Bisa jadi ini ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Jadi, berhentilah berangan-angan lebih!" ujar Zeline sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Vera yang terlalu bersemangat akan pertemuannya dengan Pak Arman.
"Jika pertemuan tersebut memang untuk pekerjaan, tidak mungkin ia meminta bertemu secara pribadi. Lagi pula jika memang membahas masalah pekerjaan, ia akan menghubungiku terlebih dahulu, selaku managermu bukan langsung menghubungimu," jelas Vera sedikit menata rambut Zeline, membawanya sedikit ke depan.
"Sekarang bersiaplah! Supir pribadi Pak Arman sudah menunggu di depan," lanjut Vera.
"Supir pribadi? Berarti bukan Gery yang mengantarkan ku?" tanya Zeline.
"Tentu saja bukan. Ayo cepatlah! Tidak usah terlalu banyak berpikir! Aku takut wajahmu berkeriput karena terlalu banyak memikirkan sesuatu," ujar Vera yang langsung menarik tangan Zeline dan membawa sling bag milik gadis itu yang tergeletak di atas kasur.
Kedua orang tersebut turun dari tangga. Vera berjalan lebih dulu, melihat ke sekitar aman atau tidaknya. Setelah itu, barulah ia membawa Zeline masuk ke dalam mobil.
"Titip artis saya ya, Pak." Vera berucap pada supir yang telah menduduki kursi depan.
"Siap Nona," ucap supir tersebut.
Vera melambaikan tangannya pada Zeline seiring mobil tersebut berjalan pergi meninggalkannya. "Ku harap, setelah ini kamu dan Pak Arman akan lebih berhubungan dekat lagi. Setidaknya, jika bersama beliau, kamu akan semakin berkilau, Zeline." Vera bergumam sembari menyunggingkan senyumnya. Mobil yang membawa Zeline tadi sudah tak terlihat lagi, dan gadis itu pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.
....
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil yang membawa Zeline pun terhenti di sebuah restoran mahal.
Zeline segera masuk ke dalam. Tak lupa ia menggunakan syal, yang berfungsi untuk menutupi wajahnya agar tak dikenali oleh orang lain.
Supir tersebut langsung menghampiri salah satu pelayan. Dan berbisik di depan telinga pelayan itu. Sang pelayan pun menganggukkan kepalanya.
Ia tersenyum menatap Zeline, dan langsung membawa gadis tersebut menuju ke salah satu ruangan tertutup yang ada di sana. Yang biasanya hanya disewa oleh beberapa orang memiliki kepentingan.
Sang pelayan membawa Zeline ke salah satu ruangan tertutup yang ada di sana. Ia membuka pintu, terlihat Pak Arman yang sudah berada di dalam sana, tersenyum menatap Zeline yang baru saja tiba.
Zeline masuk ke dalam ruangan itu. Ia membuka syal yang tadi menutupi wajahnya, lalu kemudian memilih untuk melepas syal tersebut.
"Maaf karena telah membuat Pak Arman menunggu lama," ucap Zeline.
"Tidak apa-apa, santai saja. Silakan duduk!" ujar Pak Arman mempersilakan Zeline untuk duduk.
Zeline menjatuhkan bokongnya di atas kursi. Pelayan tersebut menunggu keduanya memesan makanan yang ada di daftar menu.
"Saya pesan yang ini," ujar Arman sembari memperlihatkan menu yang ia tunjuk pada pelayan tersebut. Pelayan itu pun segera mencatat pesanan Arman.
"Saya yang ini saja." Kini giliran Zeline memperlihatkan makanan yang hendak ia pesan kepada pelayan tersebut.
Pelayan itu juga mencatat pesanan Zeline, lalu kemudian pamit undur diri dari hadapan keduanya hendak menyiapkan makanan tersebut.
"Apa kegiatanmu tadi siang?" tanya Arman mencoba untuk mencairkan suasana.
"Hanya melalukan pemotretan di luar ruangan. Tidak ada jadwal yang lainnya," timpal Zeline seadanya.
"Lumayan santai. Tapi sepertinya bulan depan jadwalmu akan padat," ucap Arman.
"Hehe iya, kebetulan untuk bulan depan saya sudah kembali syuting salah satu film yang disutradarai oleh Pak Subagyo," timpal Zeline lagi.
"Waw, sangat bagus! Pak Subagyo itu terkenal akan film yang ia garap selalu sukses. Namamu akan semakin besar setelah ini," ujar Arman.
"Iya, Pak. Semoga saja untuk kali ini rejeki saya," balas Zeline.
Setelah pembicaraan tersebut, keduanya pun kembali hening. Zeline beberapa kali menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Hanya berdua seperti ini membuat Zeline tampak tak nyaman.
"Ada apa? Apakah kamu merasa tidak nyaman berada di sini denganku?" tanya Arman yang menyadari ekspresi dari gadis yang ada di hadapannya.
"Ah, tidak Pak. Saya tidak merasa seperti itu," timpal Zeline.
"Kita sedang tidak berada di dalam lingkungan pekerjaan. Ada baiknya kamu memanggilku santai saja. Tidak usah berbicara terlalu formal," ucap Arman.
"Panggil nama saja. Saya akan merasa lebih muda di panggil nama ketimbang di sebut dengan embel-embel seperti itu. Jika berada di lingkungan pekerjaan, mungkin saya bisa memakluminya," lanjut Arman.
"Baiklah, Pak. Eh, maksudnya Arman," ujar Zeline yang langsung meralat ucapannya.
Arman menatap gadis cantik yang ada di hadapannya sembari terkekeh. " Kamu ini benar-benar lucu," ucap Arman yang ditanggapi sebuah senyuman simpul oleh Zeline.
Hidung Zeline yang tinggi, bibir mungil, matanya yang bulat serta bentuk wajahnya oval, membuat Zeline terlihat sangat sempurna. Arman sangat terpesona akan kecantikan gadis yang ada di hadapannya itu.
Zeline sadar akan tatapan Arman yang sedari tadi menatapnya tak berkedip. Hal itu tentu saja membuat dia sedikit gugup.
Tatapan kagum dari Arman, membawa ia ke masa lalu. Dimana saat itu semua orang menatap dirinya dengan penuh kebencian dan merasa sedikit jijik melihat Zeline. Paras cantik yang ia dapatkan saat ini, tentu saja karena sebuah perawatan dan juga berbagai macam cara ia lakukan untuk merubah dirinya menjadi cantik seperti sekarang ini.
"Aku mendengarnya dari Vera, kamu selalu menerima buket mawar yang dianggap spesial," ujar Arman menatap Zeline dengan lekat.
"Iy-iya," ujar Zeline menjawab seadanya dan juga terbata-bata.
"Haruskah aku lebih banyak lagi mengirimkan buket bunganya padamu?" tanya Arman.
Kening Zeline berkerut, ia melihat Arman dengan seksama. "Apakah mawar serta kartu ucapan itu dari Pak Arman?" tanya Zeline yang kembali terbawa bahasa formal lagi.
"Menurutmu?" Arman justru balik bertanya pada gadis tersebut.
"Menurutku itu bukan lah dari Pak Arman."
Mendengar hal tersebut, Arman hanya terkekeh geli. Tak lama kemudian, pelayan pun datang membawakan makanan yang mereka pesan tadi. Arman tak lagi membahas masalah mawar tersebut, ia lebih memilih untuk mengalihkan perbincangan itu dengan menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"Makanlah, menu di sini semuanya sangat lezat," ujar Arman sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Zeline menganggukkan kepala. Ia mulai mencicipi hidangan tersebut. Sesekali gadis itu mencuri pandang ke arah Arman.
"Kenapa dia tidak membahasnya lagi? Apakah memang dia yang mengirimkan mawar itu? Atau bukan? Atau memang dia tersinggung karena ucapanku yang tak mempercayai ucapannya tadi?" batin Zeline bertanya-tanya.
Bersambung ....