
Keesokan harinya, Zeline tengah mengemasi pakaian yang akan ia bawa ke villa nanti. Tentu saja, gadis itu mengemasi pakaian terbaiknya, mengingat bahwa Ezra juga akan turut serta ada di sana. Tidak mungkin bagi Zeline jika harus berpenampilan kacau di depan Ezra. Pokoknya, ia harus tampil dengan cantik!
Sembari memasukkan pakaian ke dalam koper yang berukuran besar, sesekali Zeline melirik ke jendela kaca. Ia menunggu kedatangan Ezra yang akan ikut bersamanya ke villa.
Tokkkk ... Tokkk ....
Terdengar suara pintu diketuk, membuat Zeline pun langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Ia melihat sang ibu yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Sudah siap, Nak?" tanya ibu Zeline.
"Masih berkemas, Bu. Sebentar lagi juga akan selesai," timpal Zeline.
"Ya sudah, kalau begitu selesaikanlah dulu. Ibu tunggu kamu di ruang tengah bersama dengan ayah. Sekalian menunggu Ezra datang ke sini," tutur ibu Zeline.
Zeline menganggukkan kepalanya, dan tangannya pun kembali bekerja untuk mengemasi barang-barangnya, dan memasukkan semua pakaian yang telah ia siapkan ke dalam koper.
Pintu kembali di tutup, sepeninggal ibunya Zeline pun langsung menghela napas. Ia melirik jam yang ada di ponselnya sembari bergumam,
"Kenapa Ezra belum datang juga? Kemarin kan sudah aku katakan untuk datang lebih awal," gerutu Zeline. Ia mengancingkan resleting koper tersebut karena semua pakaiannya sudah masuk ke dalam benda itu.
Gadis itu pun segera bersiap untuk keluar dari kamar. Ia menarik kopernya, sesaat kemudian pandangannya terarah pada jendela ketika mendengar suara mobil yang baru saja datang.
Zeline segera berlari, melepaskan koper yang ada di genggamannya. Ia pun tersenyum lebar saat melihat Ezra yang baru saja keluar dari mobil tersebut.
Pria itu sangat tampan dengan pakaian kasualnya, akan tetapi warna dari pakaian itu tak pernah berubah. Sama seperti pakaian yang sebelumnya ia kenakan, yaitu berwarna putih.
Dengan segera Zeline kembali menuju ke meja riasnya. Ia bercermin sembari menyisir rambutnya dengan jari. Senyum di wajah cantiknya masih saja terukir tatkala melihat kedatangan pria idamannya.
Setelah semuanya selesai, Zeline pun langsung keluar dari kamarnya sembari menarik koper yang ada di tangannya. Gadis itu diam-diam mengulum senyum, menuruni anak tangga dengan langkah yang anggun dan juga sedikit pelan.
"Ezra sudah datang, Nak." Ibu Zeline berucap pada putrinya, melihat anak semata wayangnya baru saja menuruni tangga.
"Oh, sudah datang. Aku kira kamu tidak jadi ke sini tadi," balas Zeline yang berpura-pura tidak mengetahuinya. Padahal, gadis itu sudah bersiap merapikan diri sebelum keluar dari kamarnya. Hanya untuk terlihat cantik di mata Ezra.
"Baiklah, semua sudah kumpul. Sekarang waktunya kita berangkat!!" seru ayah Zeline yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Ezra satu mobil dengan Zeline saja. Nanti kalian ikuti kami dari belakang," lanjut ayah Zeline.
"Siap, Om!" jawab Ezra yang terdengar sangat tegas. Ia juga bersemangat jika harus dipersatukan dengan Zeline, dan itu adalah harapan yang selama ini ia impikan.
Kedua orang tua Zeline berjalan terlebih dahulu. Sementara Zeline dan Ezra mengekor di belakang. Ezra mengambil alih koper yang dibawa oleh Zeline.
"Sini, biar aku saja," tawar Ezra menadahkan tangannya, meminta agar Zeline memberikan koper tersebut padanya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula ini berat dan aku ...."
"Aku tidak selemah itu. Berikan padaku!" ujar Ezra sedikit memaksa, memotong ucapan Zeline yang belum terselesaikan.
Kedua orang tersebut berjalan menuju ke mobil. Ezra meletakkan koper Zeline di bagasi, tepatnya bersebelahan dengan koper miliknya. Setelah menutup pintu bagian belakang, Ezra pun langsung membukakan pintu untuk Zeline.
"Aku sepertinya sangat merepotkan," celetuk Zeline melihat sikap Ezra yang manis semanis gula.
"Aku sangat senang untuk direpotkan. Ku harap, kamu akan selalu seperti ini nantinya," ujar Ezra mengucapkan kalimat tersebut yang memiliki makna begitu dalam. Namun, tampaknya Zeline belum memahami maksud dari apa yang diucapkan oleh Ezra tadi.
Setelah memastikan Zeline masuk ke dalam mobil, Ezra pun langsung menutup kembali pintu mobil tersebut dan segera bergegas menuju ke kursi kemudi.
"Mari kita berangkat!" ujar pria itu sembari menghidupkan mesin mobilnya. Ia pun melajukan kendaraan tersebut, mengikuti mobil yang ada di depan, tak lain adalah ayah dan ibu Zeline.
Di perjalanan, Zeline menurunkan jendela kaca. Membiarkan angin masuk melalui celah tersebut. Hatinya merasa sangat senang. Berada di samping Ezra benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Begitu pula dengan Ezra. Diam-diam pria itu juga tak henti-hentinya mengulas senyum. Mencuri pandang ke arah Zeline, menatap sekilas wajah cantik gadis yang ada di sebelahnya, lalu kemudian kembali mengembangkan senyumnya.
"Ku perhatikan, sedari tadi kamu terus saja tersenyum," ujar Zeline yang menyadari ekspresi Ezra sedari tadi.
"Benarkah? Mungkin karena aku sedang merasa berbahagia," balas Ezra mengendalikan setir dengan sebelah tangan, dan tangan yang satunya lagi, ia gunakan untuk mengusap wajahnya.
"Berbahagia? Apa yang membuatmu merasa seperti itu?" tanya Zeline lagi.
"Kamu. Aku merasa bahagia karena kamu," ungkap Ezra menatap ke arah Zeline sekilas.
Zeline melihat tatapan Ezra yang hanya beberapa detik itu, dan terpancar jelas sebuah keseriusan di wajah tampan pria itu.
"Aku bahagia karena kamu tersenyum," lanjut pria itu.
Zeline terdiam. Matanya tak beralih menatap Ezra yang sibuk melihat ke jalan. Ia merasa, bahwa Ezra adalah laki-laki yang tepat. Ia tak salah, jika jantungnya berdegup lebih kencang setelah mendengar ucapan pria itu. Ezra memang tipe pria yang sangat romantis.
"Hahaha ...." Zeline langsung tertawa renyah, mencoba untuk mengusir suasana yang mendadak canggung.
"Sepertinya kamu memang paling pintar merayu wanita. Sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban rayuanmu itu?" tanya Zeline seraya terkekeh geli.
"Tidak ada. Hanya kamu saja wanita pertama dan terakhir yang ku rayu. Setelah itu tidak ada lagi," balas Ezra dengan bersungguh-sungguh.
Zeline mengerjapkan matanya beberapa kali. "Wanita pertama dan terakhir? Hahaha ... jangan terlalu berlebihan! Aku bisa-bisa diabetes karena mendengar rayuan mautmu itu," celetuk Zeline yang masih menganggap ucapan Ezra main-main.
"Aku serius! Kamu ... wanita pertama dan terakhir yang aku rayu. Setelah itu tidak ada lagi," ucap Ezra memasang wajah seriusnya.
Degggg ....
Jantung Zeline terasa dihujam begitu saja. Bukan karena ia tak bahagia mendengar ucapan Ezra barusan. Kalimat yang dilontarkan oleh pria itu bisa membuatnya merasa terbang hingga ke langit ke tujuh. Namun, jika ditelaah lagi kalimat yang dikatakan oleh Ezra, membuat hati Zeline seolah disayat oleh sembilu.
"Aku adalah wanita terakhir yang ia rayu. Sedangkan kami, belum mempunyai ikatan apapun. Itu berarti tandanya ...." Zeline bergumam dalam hatinya, mencoba membuang muka, agar tak terlalu menampakkan wajah pilunya.
Bersambung ....