
Zeline tengah berjalan seorang diri. Tak jauh dari tempatnya, ia menemukan sebuah bunga mawar yang layu, terbuang di kotak sampah.
Zeline memungut bunga tersebut, matanya berkaca-kaca tatkala melihat mawar cantik yang amat ia kenali itu tergeletak bagai tak berharga.
"Kamu seperti seorang pemulung! Aku membuangnya, dan kamu memungut bunga itu!!" ketus seorang wanita dengan berkacak pinggang.
Zeline tampak samar-samar melihat wanita dengan paras yang angkuh itu. Gadis itu menyipitkan mata, mencoba untuk mengingat siapa sosok yang tengah berbincang dengannya saat ini.
"Apakah seseorang memberikannya padamu?" tanya Zeline.
"Ya ... tentu saja! Memangnya kamu pikir aku tidak memiliki penggemar sama sekali?!" ketus gadis itu dengan angkuh.
"Sepertinya kamu sudah tidak waras! Apa pemberian Pak Arman masih kurang? Dasar serakah!" cecarnya lagi.
"Pak Arman? Siapa?" gumam Zeline pelan. Ia bertanya-tanya, pria mana yang dimaksudkan oleh gadis tadi.
Zeline hendak kembali bertanya, akan tetapi saat Zeline melemparkan pandangannya ke sekitar, ia tak menemukan keberadaan gadis yang baru saja berbicara dengannya.
"Tidak! Jangan dulu pergi! Masih ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan," seru Zeline melirik ke sana dan kemari, mencari keberadaan wanita tersebut.
"Tolong, jangan pergi dulu!!" lanjut gadis itu sembari berteriak.
Zeline langsung terbangun dari tidurnya dengan napas yang tersengal.
"Ternyata semua itu hanyalah mimpi," gumam Zeline.
"Namun, mimpi apa itu tadi? Lantas siapa pria yang bernama Arman? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya."
Ada banyak pertanyaan yang kembali bermunculan. Tentunya membuat Zeline menjadi pusing sendiri. Sementara itu, satu hal yang Zeline ingat. Sebuah bunga yang ia temukan di tong sampah. Gadis itu sangat mengetahui bunga itu dari siapa.
Zeline sangat mengenal mawar tersebut dari Ezra. Karena pria itu selalu membawa bunga mawar saat menemui Zeline setiap harinya.
"Entahlah!!" kini Zeline menyerah sendiri dari rasa keingintahuan yang menghinggapi dirinya.
Gadis itu meraih segelas air minum yang ada di atas nakas, lalu kemudian menenggaknya hingga tandas. Matanya melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 8 pagi.
Sesaat kemudian, terdengar sebuah suara ketukan pintu, membuat Zeline pun mengikuti pandangannya ke arah sumber suara. Gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya dan langsung membukakan pintu. Ia melihat pria tampan dengan senyum menawan menyambut paginya, muncul dari balik pintu.
"Hai ...." Ia melambaikan tangannya, menatap Zeline sembari memperlihatkan senyum terbaiknya.
Zeline masih sedikit loading, ia memperhatikan Ezra yang sudah rapi, mengenakan hoodie berwarna putih, serta celana training.
Sementara Zeline, penampilan gadis itu masih sangat berantakan. Rambut yang acak-acakan, dan juga wajahnya masih sedikit kusut layaknya baju yang belum disetrika.
Gadis itu membelalakkan matanya, dengan cepat ia pun langsung menutup pintunya. "Astaga!!" ujar Zeline sembari mengacak rambutnya yang semakin acak-acakan.
"Yang benar saja. Dia sudah sangat rapi, sementara aku ...."
Dengan cepat Zeline pun berjalan menuju ke meja rias di kamar tersebut. Mulutnya langsung menganga, melihat penampilannya yang benar-benar sangat kacau.
Zeline membersihkan sisa kotoran yang masih menempel di sudut matanya. "Ini benar-benar menyebalkan! Seharusnya aku bangun lebih awal dari pada dia!" keluh Zeline.
Di luar sana, Ezra hanya bisa mengulum senyumnya melihat Zeline yang tiba-tiba menutup pintu. Ezra tahu, apa alasan gadis tersebut dengan cepat menutup pintu kamarnya, yaitu karena dirinya yang masih berpenampilan acak-acakan, sementara Ezra sudah rapi.
"Tidak apa-apa. Meskipun begitu, kamu masih tetap terlihat cantik," seru Ezra yang sedikit mendekatkan wajahnya ke pintu kamar Zeline.
Dari dalam, Zeline mendengar suara Ezra. Ia langsung benar-benar merasa malu karena ucapan Ezra. Gadis itu menghentakkan kakinya, dan bergegas menuju ke kamar mandi, agar berpenampilan semenarik mungkin di depan Ezra.
"Cukup satu kali ini saja, Zeline. Mulai besok, aku harus bangun lebih awal, agar tak tetap terlihat cantik di depan Ezra," gumam gadis itu seraya memasuki kamar mandi.
Setelah memakan waktu selama 20 menit lamanya berada di dalam kamar mandi, Zeline pun keluar dengan wajah yang lebih segar. Ia mengenakan bathrobe berwarna putih, serta rambut panjangnya yang digulung dengan kain handuk.
Sembari bersenandung, Zeline membuka kopernya, memilih salah satu baju cantik yang sudah ia siapkan. Ia pun langsung mengenakan pakaiannya itu, lalu kemudian berjalan menuju ke cermin yang berukuran besar.
"Menurutku ini sudah benar-benar cocok di tubuhku," ujar Zeline.
Di waktu yang bersamaan, Ezra tengah duduk bersama dengan ayah Zeline di gazebo yang ada di depan villa. Kedua pria berbeda generasi itu tengah berbincang sembari ditemani dengan secangkir kopi.
"Bagaimana dengan kalian selanjutnya?" tanya ayah Zeline seraya menyeruput kopi yang ada di tangannya.
Ezra menggelengkan kepala, " Aku masih belum mengetahuinya, Om. Apapun itu, aku hanya bisa pasrah dan berserah pada Maha membolak-balikkan takdir," tutur Ezra sudah pasrah dengan apapun yang terjadi nantinya.
"Bagaimana dengan reaksi Zeline? Apakah dia sudah menyadari tentangmu?" tanya ayah Zeline lagi.
"Ada beberapa reaksi yang ku dapati di wajahnya. Beberapa kalimat yang aku keluarkan, membuat wajahnya tiba-tiba berubah."
"Pertemuanku dengannya di alam bawah sadarnya, membuatku merasa sangat bahagia. Keinginan terakhirku dikabulkan oleh Tuhan. Namun, tampaknya aku serakah. Aku ingin tetap bersama Zeline, melepaskan gadis itu membuatku kembali merasa hancur," papar Ezra panjang lebar.
Ayah Zeline menepuk pundak pria yang ada di sampingnya. Ia berusaha menenangkan Ezra, mengetahui bagaimana perasaan Ezra jika suatu hari nanti mereka harus kembali berpisah.
"Om juga mengalami hal yang sama denganmu. On bersyukur, dapat melihat Zeline kembali saat anak itu berada di alam bawah sadarnya. Namun, om sebagai orang tua masih merasa sedih, jika kenyataannya bahwa anak kami ini sedang berjuang antara hidup dan matinya. Hanya ruh nya saja yang masih bersama kita hingga saat ini," tutur ayah Zeline.
"Om merasa bahagia atas pertemuan kami, akan tetapi kami juga akan lebih bahagia lagi jika anak kami ini dapat kembali melanjutkan perjalanan hidupnya," lanjut ayah Zeline.
Tak lama kemudian, kedua pria berbeda generasi itu pun melihat kedua wanita yang juga berbeda generasi, tengah berjalan menuju ke arah mereka berada.
Ezra terpana akan paras elok gadis pujaan hatinya. Jika mengingat kejadian tadi pagi, dimana saat Zeline yang mendadak menutup pintu karena penampilannya masih acak-acakan, membuat Ezra menahan tawanya. Namun, pria itu mencoba untuk langsung mengubah ekspresinya seperti biasa saat Zeline dan ibunya sudah tepat berada di hadapan mereka.
"Masuklah! Kita makan dulu, ibu sudah menyiapkan semuanya," ujar ibu Zeline.
"Ayo kita makan dulu, Nak. Sedari pagi tadi, kita belum sarapan," ucap ayah Zeline.
Ezra pun menganggukkan kepalanya. Mereka segera beranjak dari tempat duduk, berjalan masuk ke dalam villa untuk menikmati makanan yang telah dihidangkan oleh ibu Zeline.
Bersambung ....