40 Days With You

40 Days With You
Bab 51. Day 11 (Bagian 3)



Hari mulai malam, Zeline dan Ezra masih mencoba untuk berusaha kembali ke villa, setelah tadi berjalan-jalan dengan cukup lama.


Ezra dan Zeline saling bergandengan tangan, dan sesekali mereka tersenyum. Jika mengingat saat mereka berciuman tadi, membuat pipi Ezra merah merona. Bagaimana tidak? Itu adalah ciuman pertamanya dan ia dapatkan dari gadis yang diidolakan semasa ia hidup dulu.


"Apakah boleh kita istirahat sebentar? Kakiku lelah sedari tadi menyusuri jalan," ujar Zeline seraya menunduk sembari memijat kakinya yang terasa sangat pegal.


Ezra menganggukkan kepalanya. Mereka pun duduk di pinggiran jalan setapak tersebut. Zeline memijat kakinya, sesekali Ezra melihat Zeline. Ia sangat bersyukur, bisa melihat wajah cantik gadis itu dalam jarak yang dekat. Selama ini, Ezra hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja. Dan mengambil foto-foto Zeline dari kejauhan hanya untuk ia simpan di dalam kamar, sebagai koleksinya.


"Ayo kita lanjutkan perjalanannya lagi!" ajak Zeline yang sudah kembali berdiri.


"Kamu yakin?" tanya Ezra.


"Iya, aku sangat yakin. Lagi pula, aku punya kaki yang kuat untuk berjalan menuju villa," ucap Zeline seraya menepuk-nepuk kedua kakinya secara bersamaan.


Tak lama kemudian, Ezra berjongkok tepat di hadapan Zeline. Tentu saja hal tersebut membuat Zeline kebingungan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zeline dengan wajah herannya.


"Ayo naiklah! Aku akan membawamu ke villa menggunakan punggungku," timpal Ezra.


"Haha ... tidak usah! Aku sangat berat," ucap Zeline seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Ku rasa kamu tidak seberat itu. Ayolah! Aku punya tulang yang kuat, bisa membawamu pergi kemana pun," ujar Ezra.


Zeline mengulas senyum, selang beberapa detik kemudian gadis itu pun mulai naik ke atas punggung Ezra. Kedua tangannya ia kalungkan tepat di leher pria tersebut.


Ezra mulai beranjak, ia membawa Zeline dengan langkah yang tegap, seolah bobot tubuh Zeline seringan kapas.


"Kalau berat katakan saja. Jangan memaksakan dirimu untuk terlihat kuat," ucap Zeline.


"Bukankah kalimat itu harusnya kamu lontarkan pada dirimu sendiri?" balas Ezra yang langsung mengembalikan kalimat yang baru saja diucapkan oleh gadis tersebut.


Kini Zeline tersadar, seharusnya kalimat itu juga untuk dirinya sendiri. Ia terlihat kuat di depan Ezra, padahal hatinya menangis pilu. Beberapa ingatan tentang Ezra bermunculan secara perlahan, dan hal itu benar-benar menyesakkan dadanya.


Zeline tak menjawab ucapan Ezra. Ia justru semakin memeluk erat punggung pria itu. Gadis tersebut menggigit bibirnya, berusaha menahan air matanya agar tak tertumpah.


Kepingan ingatan yang bermunculan, bisa membuatnya menebak apa yang terjadi antara dirinya dengan Ezra. Dan diantara mereka tak pernah tercipta sebuah kenangan manis sama sekali. Walaupun masih menjadi misteri bagaimana yang sebenarnya terjadi, akan tetapi Zeline bisa menebak hal itu.


"Punggungmu terasa sangat hangat," ucap Zeline.


Mendengar hal tersebut, Ezra hanya bisa tersenyum simpul. Ia juga merasakan sebuah kesedihan yang sama dengan Zeline. Pria itu memikirkan bagaimana akhir dari kisah mereka nanti. Apakah akan berakhir indah atau harus mengikhlaskan Zeline seperti yang dikatakan oleh ayah Zeline sebelumnya.


Kaki Ezra terus saja melangkah, akan tetapi pikirannya melalang buana. Ingin sekali Ezra meminta pada gadis itu untuk tetap tinggal bersamanya jika memang mereka harus dipisahkan nantinya. Namun, bagaimana mereka akan menentang takdir? Sementara cinta beda dunia itu tidak akan pernah berakhir indah.


"Apakah kamu lelah?" tanya Zeline.


"Tidak. Untukmu ... aku tidak akan pernah merasa lelah," jawab Ezra.


Sontak, air mata Zeline jatuh begitu saja mendengar penuturan manis dari pria tersebut. Hatinya teramat senang mendengar jawaban dari pria pujaannya itu.


"Basah? Kamu menangis?" tanya Ezra yang sempat menghentikan langkahnya.


"Aku hanya merasa beruntung, dicintai seorang pria sedalam ini. Ternyata aku mencintai pria yang tepat," ujar Zeline dengan nada yang bergetar.


Melihat Zeline bersedih, Ezra juga ikut larut dalam kesedihannya. Jika Zeline memikirkan masa lalu yang terjadi sebelumnya, berbeda dengan Ezra. Pria ini justru memikirkan bagaimana kedepannya. Apakah mereka akan dipersatukan? Atau dipisahkan lagi dengan takdir yang begitu menyakitkan.


Setelah terhenti selama beberapa detik, Ezra kembali melanjutkan langkahnya. Perasan yang tadinya bahagia, langsung mengharu biru.


"Tuhan, bisakah untuk kali ini saja aku menjadi serakah? Aku benar-benar ingin bersama dengan wanita ini. Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya," batin Ezra yang juga ikut menangis pilu.


Malam itu, langkah kaki Ezra terasa berat. Dadanya juga terasa sesak. Sementara gadis yang ada digendongnya, tampaknya sudah tertidur karena menangis tadi. Terlihat bagaimana tangan Zeline yang sudah terkulai begitu saja, tak lagi berpegangan dengan erat.


Punggung Ezra terasa basah karena air mata Zeline. Kini Ezra tahu, jika ingatan Zeline perlahan mulai kembali. Dan itu berarti, hari dimana akan menjadi pilihan takdir pun akan semakin dekat.


Ezra menghirup napasnya dalam-dalam. Mencoba untuk bersikap tetap tegar. Ia juga memasang wajah senangnya, karena mereka sudah berada di dekat villa.


Di luar, Ezra melihat kedua orang tua Zeline yang sedang menunggu kepulangan mereka. Ezra melangkahkan kakinya menuju kedua orang tua Zeline.


Mereka menunjukkan raut wajah yang penuh kekhawatiran. Ezra berjalan ke arah mereka, dan langsung menghadap pada kedua orang tua Zeline karena telah pulang terlambat.


Kedua orang tua Zeline tak menjawab. Mereka hanya masuk dan mengarahkan kepada Ezra untuk membawa putrinya menuju ke kamar.


Ezra membaringkan Zeline yang tertidur pulas dengan sangat hati-hati. Setelah menatap Zeline selama beberapa detik dengan mata yang terpejam, Ezra pun langsung kembali berjalan keluar menemui ayah Zeline. Sementara ibu Zeline, ia masih berada di dalam kamarnya, membalut putrinya dengan selimut tebal. Tubuh Zeline terasa dingin karena terlalu lama terkena angin malam.


Ezra berada di ambang pintu, pria tersebut langsung menemui ayah Zeline.


"Om, ...."


Pria paruh baya itu langsung mengarahkan pandangannya pada Ezra. Namun, pandangan itu tak seteduh biasanya. Ezra merasakan sebuah amarah yang ada di dalam diri ayah Zeline tersebut.


Plakkk!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi bagian kirinya. Ayah Zeline menatap nyalang ke arah pria yang ada di hadapannya itu.


"Zeline menangis, apakah kamu yang membuatnya seperti itu? Apakah kamu menceritakan semuanya dan berencana untuk membuat Zeline benar-benar terjebak di sini?" tukas ayahnya dengan suara yang pelan, akan tetapi penuh penekanan.


"Bukankah sudah ku katakan, aku juga menyayangi putriku, dan rasa sayang yang kupunya sangatlah besar untuknya. Namun, aku berharap putriku sadar dari komanya, dan menjalani hidup seperti biasanya. Cinta yang kamu punya untuknya hanyalah sebuah keserakahan, bukan cinta yang benar-benar tulus," cecar ayah Zeline.


"Cinta yang benar-benar tulus itu adalah cinta yang mampu mengorbankan sesuatu yang besar untuk gadis yang ia cintai, bukan berharap memiliki dan hendak menentang takdir yang ada!" tukas ayah Zeline.


"Aku mempercayaimu menjaganya, bukan berarti semuanya harus sesuai kehendakmu. Satu hal yang perlu kamu ingat, Ezra! Duniamu dan Zeline sudah jelas berbeda. Kita dipertemukan dengan Zeline hanya di alam bawah sadarnya saja. Putriku memiliki kemungkinan untuk kembali hidup seperti semula!" papar ayah Zeline seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Ezra hanya bisa tertunduk. Tamparan yang diberikan oleh ayah Zeline terasa sangat sakit dan membuat hatinya terluka. Bukan tamparan dari tangan ayah Zeline yang menyakiti Ezra, melainkan kalimat yang baru saja diucapkan oleh pria paruh baya yang ada di hadapannya itu.


Duniamu dan dunia Zeline sudah jelas berbeda!!


Kalimat itu lah yang sedikit menyadarkan Ezra, bahwa ia dan Zeline berada di dunia yang berbeda.


Bersambung ....