40 Days With You

40 Days With You
Bab 74. Day 21 (Bagian 3)



Langit mulai berwarna jingga. Dua insan yang tengah saling duduk berdekatan, berselonjor di hamparan pasir yang begitu luas. Tangan mereka saling bertautan, sementara Zeline tampak sangat nyaman bersandar di pundak Ezra.


"Aku ingin seperti ini terus, bersamamu ... menatap langit yang mulai merangkak malam. Menikmati indahnya langit jingga, menunggu datangnya senja, berdua denganmu. Hanya kita, berdua saja." Zeline mengatakan hal tersebut sembari menatap langit. Keinginannya bersama pria itu memang sangatlah besar.


"Apakah kamu sedang membaca sebuah puisi? Itu terdengar sangat menarik dan cukup menggetarkan hatiku," celetuk Ezra yang memberikan respon tak terduga.


Hal itu sengaja ia lakukan, karena pria tersebut tidak ingin Zeline terbawa suasana yang mengundang kesedihan dan akhirnya memutuskan untuk tidak kembali lagi.


"Ck! Kamu ini! Aku mengharapkan sesuatu yang


romantis dari ucapanku, malah kamu memberikan respon seperti itu," ujar Zeline seraya mencebikkan bibirnya.


Melihat Zeline yang merajuk, membuat Ezra pun langsung terkekeh geli. Wajah Zeline yang memang terlihat sedikit imut, menjadi tambah lucu ketika gadis itu mencebikkan bibirnya.


"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya bercanda," ucap Ezra mengacak puncak kepala Zeline.


Rambut Zeline yang diusap, akan tetapi hati Zeline menjadi tak karuan. Serasa ribuan kupu-kupu menggelitik di perutnya.


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Zeline.


"Yang mana?" Ezra balik bertanya, ia tidak mengerti dengan perkataan gadis tersebut.


"Yang tadi, barusan kamu bilang apa?" tanya Zeline kembali memperjelas kalimatnya.


"Aku hanya bercanda."


"Ih, bukan yang itu. Tadi kamu panggil aku apa?" tanya Zeline.


"Sayang?"


"Coba sekali lagi," pinta Zeline dengan wajah yang bersemu merah.


Hal itu langsung membuat Zeline melayang serasa di awan. Ia seakan lupa bahwa dirinya tadi tengah merajuk. Mendengar panggilan dari Ezra tadi, menjadi sebuah penyembuh agar Zeline tak marah-marah lagi.


Ezra kembali melingkarkan tangannya di pinggang Zeline. Mereka menatap mentari yang semakin lama semakin menyembunyikan sinarnya.


"Setelah ini, ayo kita pulang!" ajak Ezra.


"Hmmm ... aku ingin menginap sehari lagi," ucap Zeline sembari mengacungkan jari telunjuknya.


"Kamu yakin? Aku sebenarnya tidak terlalu yakin untuk kali ini. Jika aku menuruti kemauanmu, ada kemungkinan aku akan memakanmu saat itu juga," ujar Ezra dengan wajah yang serius. Padahal dia berkata demikian hanya ingin bercanda saja. Namun, Zeline terlalu serius menanggapinya.


"Kalau begitu ayo kita pulang!!" ajak Zeline dengan bersemangat. Ia tidak mau menjadi santapan Ezra, karema memang diantara mereka belum memiliki ikatan apapun.


"Ayo bangunlah!!" Zeline mengulurkan tangannya, untuk membantu Ezra berdiri dari tempat duduk tersebut.


Ezra tersenyum, lalu kemudian menyambar uluran tangan Zeline. "Apakah kita akan pulang sekarang?"tanya Ezra lagi.


"Ya tentu saja. Bukankah tadi kamu yang mengajakku pulang?" Zeline memutar kedua bola matanya saat Ezra berpura-pura bertingkah bodoh.


"Iya, Sayang. Ayo!!" ajak Ezra yang langsung menggenggam tangan Zeline.


Kedua orang tersebut langsung memasuki mobil, bersiap untuk kembali ke villa, karena Ezra merasa tidak enak dengan kedua orang tua Zeline.


Saat di perjalanan, Zeline menghidupkan pemutar musik melalui tape radio mobil. Sesekali gadis itu menyanyi sembari mengiringi lagu kesukaannya.


"Ah iya. Aku hampir lupa sesuatu. Aku masih berhutang padamu tentang keinginanmu itu. Sebutkan lah! Aku akan mengabulkannya," ujar Zeline.


"Nanti saja, tunggu aku benar-benar membutuhkannya," balas Ezra.


Bersambung ....