40 Days With You

40 Days With You
Bab 6. Deal!



Zeline dan juga Vera langsung menghadap Pak Subagyo. Tawaran film yang dikatakan Pak Subagyo cukup menantang untuk Zeline. Mengingat selama ini ia selalu mendapatkan peran sebagai wanita yang bodoh dan selalu tersakiti. Bagi Zeline, tak ada salahnya jika ia mencoba hal yang baru lagi. Supaya karirnya selalu melonjak dan tentunya membuat fansnya menjadi penasaran dengan peran Zeline.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah memikirkannya dengan naik tentang tawaranku itu?" tanya Pak Subagyo.


"Sepertinya itu menarik. Sulit untukku menolaknya," ucap Zeline dengan bersemangat.


Vera pun ikut senang melihat artisnya yang setuju dengan tawaran yang diajukan oleh Pak Subagyo. Biasanya, membujuk Zeline untuk mengambil suatu peran itu sangat sulit. Dan kali ini, mungkin gadis tersebut sudah mulai terbaca akan peluang yang ia raih jika film tersebut berhasil menembus target lebih banyak penayangan.


"Baiklah, jika begitu mari kita bertemu besok siang. Untuk tanda tangan kontrak serta penyerahan skrip," ucap Pak Subagyo.


Zeline dan Vera saling menatap, lalu kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Setelah membicarakan masalah tawaran tersebut, kedua orang itu pun memilih untuk kembali masuk ke dalam mobil. Wajah Vera lebih cerah dari sebelumnya .


"Pilihan yang kamu ambil adalah pilihan yang tepat, Zeline. Dengan begitu, sebentar lagi namamu akan bersinar," ucap Vera.


"Ya ... semoga saja perannya cocok denganku," ujar Zeline menyenderkan punggungnya di jok mobil.


"Ada apa? Apakah benar dugaanku? Bahwa Zeline akan mendapatkan sebuah proyek besar?" tanya Gery sembari mengemudikan mobil Van tersebut.


"Tentu saja! Artis kita ini akan terkenal. Sejenis Pak Subagyo itu sudah menyandang nama cukup besar di dunia entertainment. Salah satu judul yang beliau sutradarai berhasil ditayangkan di televisi luar. Yang artinya, Zeline juga bisa seperti itu," ujar Vera yang tampak bersemangat.


"Semoga saja rejekinya diberikan lebih untuk film yang satu ini," ucap Zeline sembari tersenyum simpul. Kedua orang yang ada di dalam mobil itu pun langsung menganggukkan kepala, membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh Zeline.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka pun berhenti di kediaman Zeline. Kedua gadis itu pun langsung turun dari mobil tersebut. Sementara Gery, memilih untuk tetap berada di dalam mobil.


"Apakah tidak ada kiriman untukku?" tanya Zeline.


"Ah iya. Aku melupakannya!" Vera menepuk keningnya, lalu kemudian membuka pintu belakang mobil. Karena saat sibuk tadi, gadis tersebut meletakkan bunga mawar kiriman dari fans fanatik Zeline di belakang.


"Ini ...," ujar Vera memberikan bunga tersebut kepada artisnya.


Senyum Zeline langsung mengembang, ia menerima bunga tersebut dengan senang hati. Bunga mawar kiriman tersebut bak sesuatu yang menghipnotis Zeline, dan membuatnya sedikit candu. Jika sehari saja tak menerima bunga tersebut, pasti Zeline akan sedikit badmood.


"Bunga ini dikirimkan saat kamu tengah syuting iklan. Bukankah hal itu adalah suatu kebetulan? Pak Arman tidak ingin secara terang-terangan memberikannya padamu. Selesai melakukan pemotretan, beliau baru mengirimkan buket itu," ujar Vera.


Zeline memandangi buket bunga yang ada di tangannya. Hatinya bertanya-tanya, apakah benar bahwa bunga tersebut pemberian dari Pak Arman? Zeline mengambil kartu ucapan yang terselip di bunga itu.


Senyummu mengalihkan duniaku.


Zeline tersenyum seusai membaca kalimat tersebut. Sementara Vera, ia langsung memegangi kening gadis yang ada di hadapannya.


"Sepertinya kamu sedikit gila dengan bunga ini serta kalimat yang tertulis di kartu ucapannya," ujar Vera


menarik tangannya dari kening Zeline.


"Sudah, istirahat sana! Aku tidak yakin jika kamu tidak lebih gila dari ini nantinya!" ketus Vera.


Zeline mengabaikan ucapan Vera, ia pun berjalan menuju ke dalam rumahnya. Vera kembali masuk ke dalam mobil, dan mobil Van tersebut melaju membelah jalanan.


Setelah menutup pintunya, mata Zeline kembali tertuju pada buket bunga tersebut. Entah mengapa ia kurang yakin bahwa bunga yang ada di tangannya ini kiriman dari Pak Arman.


"Entahlah! Siapa pun pengirimnya, aku berterima kasih banyak karena telah membuatku kembali bersemangat di saat rasa letih menghinggapi tubuh ini. Pokoknya, terima kasih orang baik." Zeline mengganti mawar yang kemarin dengan mawar yang baru. Ia pun langsung menuju ke kamarnya, menghempas tubuhnya di atas benda empuk itu.


Mata pun mulai terasa berat, hingga akhirnya Zeline tertidur saat dirinya belum sempat membersihkan wajahnya dari sisa make up yang dipakai hari ini.


......................


Esok harinya, Zeline dan juga Vera datang secara bersamaan di kantor Pak Subagyo. Tentunya ia ingin menemui sang sutradara langsung, terkait tentang tawaran kerja yang diajukan oleh Pak Subagyo.


Saat memasuki area kantor tersebut, tanpa sengaja ia bertemu dengan Dira. Mereka hendak menuju ke ruangan yang sama, hingga keduanya pun berada di dalam satu lift.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Dira dengan begitu angkuh. Ia masih merasa bersaing dengan Zeline.


"Memangnya kenapa? Lagi pula ini bukan kantormu!" protes Vera yang merasa tak tahan dengan ucapan Dira. Seolah ingin menendang wajah gadis tersebut saking merasa jijiknya.


"Sudah, tidak usah diladeni," bisik Zeline yang tak ingin memperkeruh suasana.


"Lagi pula, bertanya seperti itu seolah gedung ini milik emak bapaknya. Kita ke sini juga tujuannya ingin bertemu Pak Subagyo, bukan ANDA!" tekan Vera yang mengatakan hal tersebut.


Manager dari Dira, mendengkus melihat kelakuan Vera. Namun, Vera mengabaikannya. Hingga akhirnya, lift kembali terbuka, membuat Vera pun langsung segera menarik keluar Zeline.


"Tidak usah dekat-dekat dengannya. Mereka adalah manusia yang dengki. Dia iri karena kamu lebih sukses dari pada wanita itu!" geram Vera akan tetapi ia bersuara pelan. Tidak ingin jika hal ini menjadi bahan gosip nantinya. Biasanya, ada saja orang jahil yang akan merekam demi menjatuhkan sang artis yang sedang menempati puncak popularitasnya.


Vera dan Zeline menuju ke ruangan Pak Subagyo. Namun, sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Walau bagaimana pun juga, tata krama harus lebih diutamakan. Di sana, beliau tengah bekerja dan membaca sebuah skrip dari film yang akan digarapnya.


"Kalian sudah datang? Silakan duduk!" ujar Pak Subagyo mempersilakan keduanya.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu lagi. Dan ternyata yang datang adalah Dira beserta managernya.


Vera dan Zeline saling menatap, menebak bahwa Dira akan bekerja satu project dengan dirinya. Terlihat bagaimana cara Lak Subagyo menyambut wanita tersebut.


"Kalian sudah datang, dengan begitu aku akan memperkenalkan secara langsung. Mungkin, dari segi nama asli, kalian sudah saling mengenal. Dan di sini, akan saya katakan bahwa, kalian berdua akan menjadi pemeran dalam film yang akan saya garap," tutur Pak Subagyo memberitahukan hal tersebut kepada kedua artis itu.


"Di sini, Zeline sebagai protagonis wanita. Dan Dira akan memerankan antagonisnya," lanjut Pak Subagyo.


Vera menatap Zeline, ia tidak keberatan jika Zeline akan menolak tawaran itu karena nantinya ia akan disandingkan dengan Dira. Dan Vera tak menyukai hal itu.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah deal dengan peran ini?" tanya Pak Subagyo.


"Aku sih deal," ujar Dira dengan entengnya. Ia menatap Zeline dengan sedikit sinis.


"Bagaimana dengan Zeline? Apakah kamu mau mengambil peran utama dari film ini?" tanya Pak Subagyo.


Zeline menatap ke arah Vera sejenak. Gadis itu sudah memberikan kode pada Zeline dengan sebuah gelengan kepala. Namun, keputusan Zeline diluar dugaan Vera.


"Deal!" seru gadis itu tanpa ragu.


Bersambung ....