
"Apakah ibu tidak ingin aku berada di sini selamanya?" tanya Zeline menatap ibunya dengan serius.
"Ibu bukannya tidak ingin kamu berada bersama kami, Nak. Kami sangat senang jika kamu di sini, tetapi kami akan lebih senang lagi jika kamu kembali melanjutkan hidupmu. Kamu masih bernapas hingga saat ini, Nak. Jadi pergunakan waktumu sebaik mungkin. Jika kamu menyerah, maka yang tertinggal adalah perjalanan di alam selanjutnya. Dan itu tak seindah seperti apa yang ada dalam pikiranmu, Sayang." Ibu Zeline mendekat pada putrinya, mengusap wajah Zeline dengan lembut.
Zeline hanya bisa terdiam. Namun, air matanya mulai jatuh menetes membasahi pipi mulusnya. Jika sudah menyangkut tentang nasihat seperti ini, pasti Zeline akan kembali menangis lagi dan lagi.
Semalam hal yang sama pun dilakukan oleh Ezra. Ia menasihati Zeline untuk tetap menjalani kehidupannya seperti semula, akan tetapi Zeline tetap kekeuh dengan pendiriannya. Kali ini, entah keputusan apa yang akan diambil oleh Zeline selanjutnya, yang terpenting adalah ia harus menghabiskan waktu dengan momen indah bersama dengan orang-orang yang hadir di alam bawah sadarnya.
"Bu, tidak usah membahas tentang perpisahan lagi. Zeline hanya ingin menikmati waktu Zeline bersama kalian tanpa harus bayang-bayang yang lainnya," ucap Zeline seraya menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"Iya, Nak. Sekarang kita lanjutkan memasaknya ya. Takutnya papa dan Ezra kelaparan karena belum sarapan," ujar ibu Zeline. Gadis itu pun mengangguk patuh.
Ia mulai membasuh kembali sayur yang direndam di air garam hingga bersih. Zeline juga mulai belajar memasak dari ibunya, melihat cara-cara dan bumbu apa saja yang diperlukan saat memasak makanan tersebut.
"Oh iya. Kamu belum mandi ya?" tanya ibu Zeline saat menyadari putrinya masih mengenakan piyama.
Zeline memperlihatkan deretan gigi putihnya sembari tertawa. "Tapi Zeline sudah mencuci wajah dan sikat gigi kok, Bu. Jadi tetap aman," balas gadis tersebut.
Ibu Zeline hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang seperti itu. Ia mencoba membalik ayam yang ia goreng dengan menggunakan sutil. Namun, tiba-tiba Zeline mengambil sutil tersebut dari tangan sang ibunda.
"Biar Zeline saja, Bu." Zeline tersenyum karena berhasil mengambil benda itu dari tangan ibunya.
"Hati-hati, Nak! Awas kena percikan minyak panasnya," ujar ibu Zeline.
"Ibu tenang saja. Ini masalah kecil dan tentunya Zeline bisa mengatasinya," ucap gadis tersebut dengan penuh percaya diri.
Ia dengan berhati-hati mulai membalikkan ayam tersebut. Namun, tiba-tiba minyak panas pun menyiprat, mengenai tangannya membuat Zeline langsung meringis kesakitan.
"Nah kan, sudah ibu bilang tadi hati-hati, Nak. Tunggu sebentar, biar ibu saja yang membaliknya," ujar ibu Zeline yang langsung merebut kembali sutil dari tangan putrinya, membalik ayam goreng tersebut dengan sangat berhati-hati dan berhasil.
Setelah membalik ayam, Zeline diajak oleh ibunya untuk duduk sebentar di kursi. Zeline memandangi punggung ibunya yang melangkah pergi meninggalkannya.
Berselang beberapa menit kemudian, ibu Zeline pun datang sembari membawa kotak P3K. Dengan cepat ia langsung membersihkan luka bakar Zeline dan langsung mengoleskannya dengan obat.
"Tahan sedikit," ucap ibu Zeline.
Zeline memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia seolah hendak memandangi wajah cantik sang ibunda dengan puas, karena jika suatu hari nanti mereka dipisahkan kembali, setidaknya Zeline telah mengingat kembali bagaimana rupa sang ibunda saat ini. Melihatnya berada tepat di depan Zeline.
"Sudah selesai. Sekarang kamu mandi saja dulu, setelah itu kita sarapan bersama," ucap ibu Zeline kembali memasukkan obat-obatan yabg ada di tangannya ke dalam kotak P3K.
"Bu, ...."
Ibu Zeline langsung terkejut saat mendapati putrinya saat ini langsung memeluknya dengan tiba-tiba.
"Iya, Nak." Ibu Zeline menimpali anaknya.
"Aku sangat menyayangi ibu," ucap Zeline.
"Ibu juga sangat sayang padamu, Nak."
Bersambung ....