40 Days With You

40 Days With You
Bab 7. Ajakan Makan Malam



Setelah mendapatkan script, mereka pun langsung keluar dari ruangan Pak Subagyo. Dira dan juga managernya berjalan lebih dulu. Dengan sengaja, Dira menabrak lengan Zeline, melenggang begitu saja tanpa meminta maaf sama sekali.


Melihat hal tersebut, Vera benar-benar merasa dongkol. Seolah Dira selalu menganggap Zeline dengan remeh. Ia berdecak kesal mendapati perlakukan wanita itu. Namun, lagi dan lagi Zeline mengingatkan pada sang manager untuk tidak terbawa emosi.


"Sudah, jangan diladeni." Zeline berbisik pada Vera. Membuat Vera pun memberengut kesal.


"Jika saja bukan karena kamu, akan ku pastikan aku menjambak rambutnya hingga tak ada satu pun yang tersisa di atas kepala wanita itu," geram Vera.


Zeline menggenggam tangan Vera, mencoba untuk menenangkan sang manager. Hingga akhirnya, kemarahan yang sempat menghinggapi Vera pun perlahan mereda.


Setelah keluar dari gedung tersebut. Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Zeline menyelipkan rambut yang mengganggu ke telinganya.


"Kamu ... kenapa mau menerima tawaran itu. Sebaiknya biarkan saja! Lagi pula aku tidak terlalu suka jika kamu memiliki satu project dengannya," ujar Vera.


"Bukankah kamu sendiri yang mendorongku? Lagi pula, kamu juga yang berkata bahwa kita memiliki kesempatan yang besar jika mengambil project itu? Lantas ... jika hal tersebut menjadi kesuksesan aku, kenapa aku harus merasa terhalangi dengan satu orang?" tutur Zeline.


"Benar juga sih," celetuk Gery yang tengah mengemudi. Mencoba menimbrung pembicaraan kedua wanita tersebut.


"Ck! Kau ini ...." Vera menatap Gery dengan tatapan tajamnya. Sementara Gery, ia kembali fokus pada jalanan.


"Sudah ... sudah ... hal ini tidak usah diributkan lagi. Aku juga telah menyetujuinya, jadi tidak mungkin untukku mengurungkannya lagi. Sebaiknya jangan berpikir yang aneh-aneh. Tetap positif, dan lihat apa yang terjadi kedepannya nanti," ucap Zeline dengan bijak.


"Baiklah. Semoga tidak terjadi sesuatu padamu di kemudian hari," ujar Vera yang memilih untuk menatap ke arah jendela kaca. Memandangi jalanan di sore itu.


Zeline merogoh ponselnya di dalam saku. Ada jutaan notifikasi dari instragramnya yang hanya sekilas ia buka. Ada yang mengomentari foto yang ia posting beberapa jam yang lalu, ada juga yang menandai dirinya di suatu postingan lainnya.


Zeline tersenyum, membaca beberapa bagian dari komentar yang telah berjumlah ribuan itu. Tak lama kemudian, notifikasi dari pesan singkat pun langsung berbunyi. Kebetulan Zeline tengah mengotak-atik ponselnya, ia pun langsung membuka pesan singkat tersebut. Tak lama kemudian, keningnya berkerut membaca pesan itu.


Vera menoleh ke arah Zeline, ia mendapati wajah Zeline yang sepertinya tengah kusut dengan kening yang berkerut.


"Ada apa?" tanya Vera.


"Pak Arman mengirimkan pesan singkat padaku," gumam Zeline.


"Pesan singkat? Apa isinya?" tanya Vera yang merasa penasaran. Zeline pun langsung menghadapkan ponselnya pada Vera. Wanita itu membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Arman secara langsung.


Apakah besok malam kamu sibuk? Aku ingin mengajakmu bertemu. Ada sesuatu yang ingin aku bahas padamu secara pribadi.


Sontak mata Vera pun membulat sempurna. Ia menutup mulutnya seakan tak percaya jika Pak Arman akan mengirimkan pesan langsung pada Zeline.


"Wah, kamu benar-benar ...." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Vera pun langsung merebut ponsel dari tangan Zeline.


Zeline terkejut, ia hendak merebut kembali ponselnya. Namun, Vera mengetikkan sesuatu, untuk membalas pesan singkat dari Pak Arman.


"Hei! Apa yang kamu lakukan!" seru Zeline.


Setelah selesai membalas pesan tersebut, Vera pun mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. Wajahnya berseri setelah mengembalikan benda pipih tersebut.


Beda halnya dengan Zeline. Gadis itu justru mencebikkan bibirnya sembari melemparkan tatapan tajam pada Vera.


"Tugasmu hanya mengatur jadwalku, bukan kehidupanku," gerutu Zeline.


"Tenang saja! Lagi pula bisa dipastikan Pak Arman akan memilihkan private room nantinya. Jadi, kamu tidak usah takut jika nanti ada yang diam-diam mengambil gambar kalian," ujar Vera.


"Tapi ...."


"Bukankah kamu sendiri yang berkata dulu. Jika seorang wanita yang mengirimkan mawar tersebut, maka akan kamu jadikan adik. Dan jika dia seorang pria lajang, maka dia akan kamu jadikan kekasih. Dan ini, pertemuan ini, bukan berarti Pak Arman hendak langsung melamarmu, Zeline." Vera menyela jcapant Zeline.


Sementara Zeline, gadis itu hanya diam. Ia menghela napasnya, melihat balasan dari pesan yang dikirim oleh Vera tadi.


Iya. Nanti malam aku senggang. Atur saja tempatnya dan kirimkan padaku.


...****************...


Keesokan harinya, Zeline menjalani aktivitas seperti biasa. Hari ini, ia melakukan pemotretan di luar ruangan. Pemotretan tersebut dilakukan tepatnya di pinggir pantai. Dengan busana yang sedikit mengekspos kulitnya, ia mengeluarkan semua gaya andalannya.


Jepretan kamera pun terdengar begitu jelas. Seiring dengan suara itu, Zeline mengubah setiap pose, agar kamera tersebut menangkap gambar dirinya seindah mungkin.


Dengan rambut yang sedikit basah, ia mengekspresikan gaya yang seolah menyatu dengan laut. Ia merasakan kulitnya sedikit terbakar karena terik matahari yang begitu menyengat. Namun, gadis itu tetap profesional dengan pekerjaannya. Tak ingin mengecewakan hasilnya nanti.


"Oke, sudah selesai!" seru fotografer tersebut.


Mendengar hal itu, Zeline langsung berteduh. Ia mengambil segelas es kopi yang diberikan oleh Gery, diseruputnya hingga tinggal setengah.


"Wah, ternyata kamu benar-benar kehausan," celetuk Gery yang melihat hal tersebut.


"Tentu saja. Tenggorokanku serasa kering, dan es kopi ini benar-benar menyelamatkanku," balas Zeline dengan penuh ekspresi.


Gery hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakukan gadis cantik yang ada di hadapannya ini.


"Ah iya. Di mana Vera?" tanya Zeline.


"Entahlah. Tadi aku melihatnya bersama dengan Pak Arman," timpal Gery.


"Pak Arman? Sedang apa dia dengan Pak Arman?" gumam Zeline bertanya-tanya.


"Mungkin menanyakan tentang masalah pekerjaan. Atau bisa jadi, masalah ajakan makan malam kemarin," tebak Gery sembari mengendikkan bahunya.


Zeline hanya terdiam. Ia masih mempertanyakan tentang Pak Arman. Apakah benar beliau lah yang selama ini mengirimkan buket bunga tersebut?


Tak lama kemudian, Zeline menangkap sosok Vera yang tengah berjalan ke arahnya. Ia tersenyum sumringah, seolah mendapatkan tangkapan yang besar.


"Ada apa dengan wajahmu? Sepertinya kamu benar-benar sedang bahagia?" tanya Zeline penuh selidik.


"Tidak apa-apa. Nanti malam, jangan lupa! Bersiap-siaplah dan dandan lah yang cantik," bisik Vera tepat di depan telinga Zeline.


"Kenapa ... aku melihatmu begitu semangat saat Pak Arman mengajakku makan malam?" tanya Zeline lagi.


Vera yang semula hendak berbalik, langsung kembali menghadap ke arah Zeline. Ia melihat ke sekitar, mendapati beberapa orang yang sibuk dengan aktivitas mereka. Pertanda bahwa tak ada yang mendengar ucapan Zeline selain dirinya.


"Aku lakukan semua ini, karena aku peduli denganmu. Aku tidak ingin kamu berharap pada sesuatu yang semu," timpal Vera.


Bersambung ....