
"Ada apa?" tanya Ezra yang melihat Zeline tiba-tiba mengucilkan alat makannya.
"Aku merasa seperti mengingat sesuatu. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa diriku sedikit aneh. Terkadang aku menangis begitu saja. Tanpa sebab akibatnya. Terkadang dadaku juga merasa sesak di beberapa waktu, dan ini benar-benar membuatku bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan bahkan, dari ucapanmu juga mengundang sejuta misteri. Dan di sini, aku seolah dituntut untuk mengingat semua itu dengan sendirinya," tutur Zeline panjang lebar.
Ezra terdiam sejenak mendengar perkataan gadis yang ada di hadapannya. Sesaat kemudian, ia mengembangkan senyumnya, mencoba untuk mengubah ekspresi wajahnya menjadi santai seperti biasanya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Habiskan makananmu!" ujar Ezra dengan lembut.
Zeline hanya menuruti ucapan Ezra tanpa membantahnya. Ingin sekali ia menanyakan banyak hal, akan tetapi percuma, karena Zeline sadar, ia tidak akan mendapatkan jawabannya.
Keduanya makan dengan tenang, tanpa perbincangan lagi. Hingga mereka menghabiskan makanan tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Setelah ini kita ...."
"Kita pulang saja," ujar Zeline langsung memotong ucapan Ezra.
"Baiklah," timpal Ezra dengan pelan. Seolah pria itu pasrah akan kemarahan Zeline yang tak kunjung mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya.
Setelah membayar makanan tersebut, Zeline dan Ezra langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam kendaraan tersebut, keduanya hanya diam tak bersuara.
Zeline sibuk mengarahkan pandangannya keluar, sementara Ezra memfokuskan dirinya ke jalanan. Sesekali pria itu melirik Zeline. Saat Zeline menyadarinya, ia langsung mengarahkan pandangannya ke jalanan lagi. Tanpa Zeline sadari, tatapan Ezra menyendu. Sejak Zeline berkata panjang lebar tadi, ada sebuah ketakutan yang terpancar di matanya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Ezra pun tiba di pekarangan rumah Zeline. Keduanya turun dari mobil dengan ekspresi yang berbeda dari saat mereka berangkat tadi.
"Eh, sudah pulang?" ujar ayah Zeline yang tak sengaja melihat putrinya baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ezra mana?" tanya ibu Zeline.
Zeline hanya menunjuk Ezra yang ada di belakangnya tanpa mengucapkan apapun. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Ada apa? Kalian bertengkar?" tanya ibu Zeline yang menyadari ekspresi anaknya.
"Maafkan Zeline ya, Nak. Tante jadi merasa tidak enak karena dia sedikit tidak sopan padamu," tutur ibu Zeline.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya bisa mengerti. Kalau begitu saya pamit pulang dulu Om, Tante." Ezra langsung menyambar tangan kedua orang tua Zeline untuk berpamitan pulang.
"Ya sudah. Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Nak." Kali ini ayah Zeline lah yang membuka suara.
Keduanya mengantarkan kepergian Ezra sampai depan. Ezra membunyikan klaksonnya sebelum benar-benar pergi dari rumah Zeline.
Tatapan Ezra kembali menyendu. Pria itu memijat keningnya merasa frustasi dengan semua yang terjadi.
"Andaikan semuanya bisa kembali seperti dulu. Aku tidak akan menyembunyikan identitasku dan memberikan mawar-mawar itu secara langsung padamu," gumamnya.
Di lain tempat, Zeline tertelungkup di atas kasurnya sembari memeluk bantal guling. Ia menangis, menumpahkan rasa amarah maupun kekesalan yang ada.
"Kenapa susah sekali menjelaskan semuanya. Aku ingin jawaban yang pasti. Ini sungguh benar- benar menyiksaku," ungkap Zeline.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu yang baru saja dibuka. Ibu Zeline datang menghampiri anak gadisnya, mengusap punggung Zeline dengan lembut.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis?" tanya Ibu Zeline.
"Aku kesal, Bu. Terkadang, ada sesuatu yang terlintas begitu saja diingatanku. Aku terkadang merasakan kesedihan yang mendalam hingga membuatku menjatuhkan air mata tanpa sebab," jelas Zeline.
Ia beranjak dari posisinya, memeluk tubuh ibunya dengan erat.
"Bu, jelaskan padaku. Apa sebenarnya yang terjadi? Aku ingin jawabannya Bu! Aku seolah menjadi orang lain dalam sekejap, dan kembali menjadi diriku sendiri sesaat kemudian. Tolong jelaskan Bu," pinta Zeline.
Ibu Zeline menatap putrinya dengan seksama. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Ibu tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi nanti kamu akan mengetahuinya sendiri. Setelah semuanya terungkap, kamu akan hidup dengan dua pilihan. Bertahan atau melepaskan," jelas ibu Zeline.
Bersambung ....