40 Days With You

40 Days With You
Bab 72. Day 21



Ezra berjalan menuju ke mobil. Pria itu masuk ke dalam kendaraan tersebut, menyetel kursi mobilnya agar nyaman untuk ditiduri.


Pandangannya kosong, memikirkan sisa-sisa hari yang akan ia jalani bersama dengan Zeline. Sungguh, ia merasa berat untuk melepaskan Zeline, akan tetapi itu sudah menjadi keharusan baginya.


Terdengar suara helaan napas Ezra. Begitu berat dan juga sesak. Tanpa sadar air mata Ezra kembali menetes, akan tetapi pria itu dengan cepat menyekanya. Ia harus kuat demi Zeline. Ia ingin Zeline melanjutkan hidupnya dan berbahagia.


"Tuhan, jika suatu hari nanti kami harus berpisah, maka aku minta satu hal. Tolong hapus ingatan Zeline tentangku. Aku tidak ingin ia bersedih dan terus mengingat bagaimana akhir dari kisah kami yang begitu memilukan. Cukup aku saja yang mengenangnya," gumam Ezra sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Pria itu juga ikut frustasi dengan kenyataan yang ada. Namun, mau bagaimana lagi. Inilah yang terjadi dan takdir juga tidak bisa untuk dihindari.


"Andaikan waktu bisa diputar lagi, aku ingin menjadi orang yang menunjukkan dirinya tanpa harus bersembunyi. Aku ingin mengatakan di depan banyak orang bahwa dia adalah gadis yang ku cintai. Aku tahu, dengan keberadaan Zeline di sini, itu adalah bagian dari doaku yang dikabulkan. Namun, aku manusia serakah yang ingin selalu meminta lebih," lanjut Ezra.


Ezra memandang ke luar, ia kembali menghela napasnya dengan berat. Mencoba memejamkan mata untuk menyambut hari esok, tentunya dengan mengukir banyak momen indah di hari yang tersisa.


...----------------...


Keesokan harinya, Zeline terbangun dari tidurnya. Gadis itu sedikit menggeliat dan menguap. Ia beranjak dari tempat tidurnya, menggeliat untuk meregangkan tubuhnya.


Zeline berjalan keluar, membuka jendela dan menikmati pemandangan di pagi hari. "Tidak hanya sore hari saja disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Ternyata pagi hari juga langit terlihat sangat menakjubkan!" ujar Zeline berdecak kagum.


Tringgg....


Terdengar notifikasi pesan berbunyi. Zeline pun berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Gadis itu meraih ponselnya yang masih tergeletak di sana. Ia mengecek benda pipih itu. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat siapa yang baru saja mengirimkan pesan kepadanya.


Jika sudah bangun, turunlah!


Zeline sedikit merapikan penampilannya. Gadis itu pun berjalan keluar meninggalkan kamar tersebut. Dengan langkah kaki yang sedikit tergesa-gesa, ia keluar dari penginapan. Dari kejauhan, ia melihat Ezra yang tengah bersedekap dengan tubuh yang bersandar di mobil.


Dengan mengenakan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, serta tubuh yang putih berdiri di bawah matahari pagi, menambah nilai ketampanan dari pria tersebut .


Saat Ezra melemparkan pandangannya kepada Zeline, dan perlahan membuka kacamata hitam itu. Langkah kaki Zeline sempat terhenti sejenak.


Zeline terpana melihat paras dari pria itu. Tak bisa dipungkiri, bahwa Zeline benar-benar jatuh cinta dari mata sampai ke hati. Tidak hanya paras tampannya yang memikat, akan tetapi kebaikan hati dari Ezra juga membuat Zeline semakin cinta pada pria itu.


Melihat Zeline yang menghentikan langkah kakinya, membuat Ezra pun berinisiatif untuk mendekat ke arah gadis tersebut. Sementara Zeline, ia masih mematung dengan mata yang tak lepas memandang Ezra.


"Hei! Ada apa?" tanya Ezra seraya melambaikan tangannya saat pria itu berada tepat di hadapan Zeline.


Zeline terkejut, ia mengedipkan matanya beberapa kali. Saking tergila-gila dengan penampilan Ezra, bahkan Zeline tidak sadar jika saat ini pria tersebut sudah berdiri di hadapannya.


"Kenapa kamu selalu melamun, hmmm?" tanya Ezra mendekatkan wajahnya pada Zeline.


Sontak Zeline pun langsung mundur beberapa langkah. Ia sedikit terkejut dan juga malu. "Tidak apa-apa. Hanya ada sesuatu yang aku pikirkan," ucap Zeline mengelak.


"Ku perhatikan, kamu sangat sering memikirkan sesuatu. Ayolah! Aku mengajakmu bersenang-senang. Jadi, ku harap kamu tidak memikirkan yang lainnya selain aku," ujar Ezra sembari terkekeh geli.


Mendengar hal tersebut, Zeline hanya bisa mencebikkan bibirnya. Toh, meskipun tidak dikatakan oleh Ezra pun di pikiran Zeline akan tetap tertuju pada pria itu.


Krruuukkkk ...


Perut Zeline berbunyi, gadis itu langsung memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar malu kali ini karena cacing-cacing di perut memberontak minta untuk diisi.


"Kali ini benar-benar memalukan!!" geram Zeline dalam hati.


"Kamu lapar?" tanya Ezra.


Sesaat kemudian, Ezra pun menggenggam tangan gadis tersebut. "Ayo kita cari makan!!" ajak Ezra membawa Zeline untuk mencari makan di sekitar sana.


Keduanya tengah berada di sebuah kedai. Menikmati makanan sembari melihat-lihat orang-orang yang ada di tempat itu.


"Lumayan ramai kalau pagi hari," gumam Zeline sembari menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Di sini memang cukup ramai. Tapi kalau di tempat pertama kali aku menbawamu, di sana sepi," ujar Ezra.


"Ohhh ..." Zeline mengangguk paham dan kembali menikmati makanannya.


"Setelah ini kita akan pergi ke mana lagi?" tanya Ezra.


"Apakah kita tidak akan pulang?" Zeline balik bertanya pada pria tersebut.


Ezra mengambil ponselnya, lalu kemudian mencoba menghubungi ayah Zeline. Pria itu sengaja mengaktifkan loud speakernya, agar Zeline bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dikatakan oleh ayahnya nanti.


"Halo Om," ucap Ezra saat panggilan itu diterima.


"Iya Nak Ezra. Ada apa?" tanya ayah Zeline dari seberang telepon.


"Om, mungkin Ezra akan pulang terlambat lagi. Ezra ingin membawa Zeline berkeliling om. Apakah om tidak marah?" tanya Ezra.


"Tidak apa-apa. Bawalah Zeline bersenang-senang dulu," jawab ayah Zeline.


"Zeline takut, om. Zeline kira om akan marah karena kami sampai saat ini belum pulang juga," jelas Ezra.


"Oh, tidak apa-apa. Om tidak akan marah. Mana Zeline? Om ingin berbicara pada anak gadis om," ucap ayah Zeline.


Ezra pun langsung memberikan ponselnya pada gadis yang ada di sebelahnya. Zeline menerima panggilan tersebut. Ia mematikan loud speaker pada ponsel itu, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.


"Iya, Yah."


"Nak, ayah tidak marah jika kamu jalan-jalan dengan Ezra," ucap ayah Zeline.


"Zeline takut saja, Yah. Takutnya nanti ayah dan ibu langsung khawatir karena Zeline yang gak kunjung pulang juga," tutur gadis tersebut.


"Tentu saja tidak, Sayang. Ya sudah, kalau begitu kalian bersenang-senang lah. Ayah lagi di panggil ibu," ujar ayah Zeline.


"Hmmm ...." Zeline menimpalinya dengan dehaman saja. Sesaat kemudian, sambungan telepon pun terputus.


Zeline kembali menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Ezra tersenyum menerima ponsel itu.


"Bagaimana? Apakah kamu masih ragu lagi denganku?" tanya Ezra serius.


Zeline membalas senyuman itu, lalu kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Aya sudah, kalau begitu habiskan makananmu karena setelah ini kita akan kembali jalan-jalan di sekitar sini," ucap Ezra.


Zeline mengangguk patuh. Ia langsung menghabiskan makanannya agar bisa menuju ke lokasi yang selanjutnya.


Bersambung ...