40 Days With You

40 Days With You
Bab 10. Rosette Roundel Florist



Pagi ini, Arman hendak ke kantor. Saat di perjalanan, ia melewati sebuah toko bunga langganan tempat dirinya selalu memesan bunga untuk diberikan pada Zeline. Toko bunga yang memiliki nama Rosette Roundel Florist.


Arman teringat, bahwa hari ini Zeline akan ada syuting iklan yang lokasinya tak jauh dari kantornya. Informasi itu tentu ia dapatkan dari Vera, manager Zeline yang mendukung agar artisnya bisa berhubungan dekat dengannya.


Pria itu pun menepikan mobilnya, lalu turun dan berjalan menuju ke toko bunga tersebut. Sesampainya di sana, ia melihat seorang wanita paruh baya, membawa plastik yang berisikan beberapa belanjaan dapur.


Wanita itu tersenyum, mendapati pria yang beberapa hari ini selalu memesan bunga padanya. Arman membalas senyuman itu, sembari menyapa wanita yang diketahui pemilik toko bunga.


"Habis berbelanja Bu?" tanya Arman.


"Iya. Mau masak ternyata bahan-bahan dapur sudah habis. Mau membeli bunga?" tanya wanita tersebut.


"Iya, Bu." Arman menimpali sembari tersenyum simpul.


"Sebentar ya," ucap wanita itu berjalan menenteng plastik belanjaannya.


"Ezra! Ezra!! Layani orang di depan dulu, Nak." Wanita itu bersuara nyaring, memanggil putranya yang ada di dalam.


Tak lama kemudian, seorang pria berperawakan tinggi menampakkan dirinya. Pria tersebut langsung mengambil alih belanjaan yang ada di tangan si wanita pemilik toko bunga tersebut.


"Sini Bu, biar Ezra saja yang bawakan," ucapnya.


"Tidak usah, kamu layani saja dulu orang yang hendak membeli bunga. Ini tidak berat, jadi ibu bisa membawanya sendiri," ujar wanita tersebut.


Pria yang merupakan putra dari pemilik toko bunga itu pun langsung berjalan keluar menghampiri Arman.


"Mau pesan apa?" tanyanya dengan sangat sopan.


"Buket bunga mawar yang besar," ujar Arman sembari mengembangkan senyumnya.


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Pria itu pun langsung menyiapkan pesanan yang diminta oleh Arman. Ia menyusun buket tersebut serapi mungkin, tak lupa menempelkan logo pada buket tersebut.


"Mau pakai kartu ucapan?" tanyanya.


"Iya. Bisa tolong tuliskan sesuatu di kartu ucapan itu?" tanya Arman.


"Boleh, apa kalimat yang akan dituliskan?" tanyanya.


"Tuliskan kalimat 'sesuatu yang cantik untuk wanita tercantik'" ucap Arman.


"Baiklah, tunggu sebentar." Pria itu mengambil kartu ucapan yang ia letakkan di wadah khusus. Lalu kemudian mengambil bolpoin bersiap untuk menuliskan apa yang diminta oleh pelanggannya itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara ponsel berdering. Arman langsung merogoh ponselnya dari dalam saku, lalu kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Iya, Vera. Aku ingin menitipkan buket bungaku untuk Zeline," ucap Arman.


Pria yang tadinya hendak menuliskan apa yang diminta oleh Arman, sempat mendengar percakapan pria itu melalui telepon. Seketika tinta yang hendak tertoreh di atas kartu ucapan itu pun langsung terhenti.


Pria itu menatap Arman yang tengah memunggunginya sembari berbincang di telepon. Ia langsung menyimpan semua kartu ucapan tersebut ke dalam laci. Meremas kartu ucapan yang baru ia tulis dua kata tersebut.


Setelah selesai berbincang di telepon, Arman pun kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia berbalik pada pria yang sudah selesai menata buket bunga pesanannya.


"Kartu ucapannya ti ...."


"Oh ... ya sudah, kalau begitu berapa semuanya?" tanya Arman.


Pria itu pun menyebutkan nominal uang yang harus di bayar oleh pelanggannya itu. Arman mengeluarkan uang cash, dan langsung menyerahkannya pada pria tersebut.


Arman pergi begitu saja sembari membawa buket bunganya. Pria itu berlari menghampiri Arman, untuk memberikan kembalian uang yang diberikan oleh pelanggannya.


"Maaf, Mas. Ini kembaliannya," ucapnya sembari menyodorkan uang tersebut Arman.


"Tidak usah. Untukmu saja," ujar Arman kembali melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut.


"Terima kasih," ucapnya yang tertangkap oleh indera pendengaran Arman.


Saat sudah berada di pintu keluar, Arman menolehkan kepalanya sejenak, menatap pria yang ada di dalam toko bunga itu.


"Sebelumnya, aku banyak sekali melihat kartu ucapan yang ada di sana. Kenapa dia bilang bahwa kartu ucapannya sudah habis? Ku rasa aku tidak salah lihat benda itu berada di meja kasir. Ataukah hanya ilusiku saja?" gumam Arman pelan. Ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.


Di waktu yang bersamaan, Vera tampak begitu senang karena baru saja mendapatkan telepon dari Arman. Pria itu dengan terang-terangan berkata bahwa ia akan menitipkan bunga tersebut pada Vera. Dan itu berarti bahwa ia telah berani menunjukkan dirinya tanpa harus bersembunyi-sembunyi lagi untuk memberikan bunga tersebut.


"Pak Arman ... Pak Arman ... akhirnya kamu berani juga menunjukkan dirimu setelah sekian lamanya. Zeline sangat beruntung sekali bisa mendapatkan pria setampan Pak Arman," gumam Vera sembari menatap ke arah Zeline yang tengah tersenyum menatap ke arah kamera. Gadis itu sedang melakukan persiapan untuk syuting iklannya.


Lima belas menit waktu telah berlalu. Vera kembali mendapatkan telepon dari Arman. Mata gadis itu langsung berbinar, dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Pak." Vera berbicara pelan sembari berjalan meninggalkan lokasi syuting tersebut.


Zeline yang saat itu diarahkan untuk mengulangi pengambilan gambar, melihat Vera yang pergi dari tempat itu sembari berbincang melalui panggilan telepon. Gadis itu mencebikkan bibirnya sembari mengendikkan bahunya dan kembali fokus pada kamera.


Vera berjalan menuju ke arah parkiran. Ia melihat mobil Arman yang berada tak jauh dari tempat tersebut. Arman sengaja tak keluar dari kendaraannya, membiarkan Vera untuk menghampirinya karena tak ingin jika nanti mereka terlihat oleh orang lain yang akan menimbulkan skandal baru untuk Zeline.


TOKKK ... TOKKK ...


Vera mengetuk jendela kaca mobil Arman. Pria itu pun langsung membuka pintu mobilnya. Mendapati hak tersebut, dengan cepat Vera segera masuk ke dalam kendaraan tersebut.


"Ini tolong kamu berikan kepada Zeline," ujar Arman menyodorkan bunga tersebut kepada Vera.


"Baik, Pak. Pasti Zeline sangat senang mengetahui mawar ini dari Pak Arman," ucap Vera.


"Entahlah. Belum bisa dikatakan ia akan gembira jika tahu mawar ini dariku. Sepertinya dia masih sangat meragukanku," balas Arman.


"Ah, masalah itu ... dia memang orangnya seperti itu. Tetapi, dia selalu menanyakan perihal mawar ini. Itu tandanya ada sedikit rasa percaya bahwa Pak Arman yang mengirimkan mawar untuknya. Pak Arman tenang saja! Suatu saat nanti, ia akan sadar sendiri bahwa mawar yang sering ia terima itu adalah pemberian dari Pak Arman," ujar Vera panjang lebar.


"Terima kasih. Kalau begitu, saya akan kembali ke kantor dulu. Jangan sampai lupa untuk memberikannya pada Zeline," ucap Arman.


"Pasti, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."


Vera pun segera keluar sembari membawa buket bunga pemberian dari Arman. Wanita itu tersenyum, membayangkan jika Zeline akan berbahagia dengan hal ini.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sosok yang memperhatikan kedua orang tersebut. Tangannya sedikit terkulai lemas sembari menggenggam buket bunga mawar itu.


Hingga akhirnya, ia melangkah pergi dari sana dan membuang mawar yang ada di genggamannya. Satu hal yang menarik perhatian di buket tersebut. Yaitu tertulis Rosette Roundel Florist pada bagian kain spunbond yang ada di buket tersebut.


Bersambung ....