40 Days With You

40 Days With You
Bab 16. Pria Mawar



Pagi itu, Gery tengah bersiap-siap hendak pergi. Pria yang berada di atas brankar, memperhatikan adiknya yang sudah rapi untuk pergi bekerja.


"Apakah kamu akan berangkat sekarang?" tanyanya.


"Iya. Ini adalah hari pertama Zeline untuk melakukan syuting. Jadi, aku harus bersiap-siap sekarang," jawab Gery sembari mengembangkan senyumnya.


"Syuting di mana?" tanya pria itu yang mencoba untuk menggali informasi melalui pria yang merupakan adiknya itu.


"Di jalan anggrek, gedung X." Gery beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berbalik dan kembali menatap sang kakak.


"Jangan berbuat bodoh! Urus saja kesehatanmu!" titah Gery yang tak ingin dibantah.


"Hufftt ... aku berniat mengikutimu setelah ini. Sayang sekali," keluhnya.


"Sudah ku katakan, untuk tetap memikirkan kesehatanmu. Awas saja jika aku menemukanmu untuk tetap nekat mengikutiku," ujar Gery yang kemudian berpamitan pergi kepada ibu dan kakaknya.


Sepeninggal Gery, pria yang tengah berbaring di atas brankar tersebut melepas selang infus yang melekat di tangannya.


"Eh ... Eh ... kamu mau apa? Kenapa selang infusnya dicabut begitu saja, Nak?!" tegur wanita paruh baya yang tampak sangat khawatir. Apalagi melihat darah yang mengalir di tangan putranya akibat mencabut infus tersebut secara paksa.


"Aku mau keluar dulu, Bu. Tidak akan lama kok, hanya sebentar saja," ucapannya sembari tersenyum simpul.


"Ezra!! Apakah kamu tidak mendengarkan ucapan adikmu tadi? Lagi pula tanganmu berdarah, Nak. Kesehatanmu belum pulih betul. Sebaiknya jangan kemana-mana," tegur ibunya.


"Bu ... Ku mohon sebentar saja. Aku tidak akan lama kok. Janji!!" ujar pria tersebut sembari mengangkat kedua jarinya membentuk huruf'V'.


Wanita paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi Ezra. Meskipun Ezra anak yang baik, akan tetapi pria itu sedikit keras kepala jika apa yang ia inginkan belum juga terpenuhi.


"Ya sudah, setelah itu langsung pulang ke sini! Ibu tidak mau jika nanti kamu kenapa-kenapa," ucap wanita paruh baya tersebut.


"Baiklah, Bu. Aku sayang ibu," ujarnya sembari memberikan kecupan singkat di pipi ibunya. Pria itu bergegas hendak pergi dari sana. Namun, sesaat kemudian ia pun berbalik kembali menatap ibunya.


"Aku minta sebuket mawar lagi ya, Bu." Ia mengembangkan senyumnya setelah melontarkan kalimat tersebut.


"Iya iya, tetapi setelah itu langsung pulang ya, Nak!"


"Baik, Bu."


Ezra melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit tersebut. Ia menghadang taksi, yang langsung membawanya menuju ke rumahnya.


Sesampainya di sana, Ezra segera turun dan mengganti pakaiannya dari rumah sakit tadi. Pria itu mengenakan baju kaos yang dilapisi dengan jaket kulit.


Ezra menyusun bunga yang akan ia buat untuk diberikan kepada gadis pujaannya. Gadis yang bisa ia cintai dari jarak jauh saja. Meskipun gadis itu tidak mengenalnya, akan tetapi tidak masalah bagi pria itu. Yang paling penting, ia akan selalu menunjukkan rasa cintanya dengan memberikan secarik kertas berisi kalimat untuk menyemangati gadis pujaannya itu.


Setelah semuanya siap, Ezra pun langsung menunggangi motor matic-nya. Tak lupa ia menutupi wajahnya dengan helm, sama seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya. Mengantarkan bunga tersebut kepada sang gadis pujaan. Dengan menyamar sebagai tukang pengantar bunga.


Saat di perjalanan, Ezra merasakan hidungnya basah. Pria itu menyekanya dan ia sedikit terkejut saat mendapati darah yang keluar dari hidungnya. Dengan terpaksa, ia berhenti sejenak, membersihkan hidungnya dengan tisu.


"Sungguh pria yang lemah!" Ezra mencecar dirinya sendiri. Mendongakkan wajahnya dan menyumpal lubang hidungnya itu dengan tisu. Setelah dirasa darah sudah tak lagi keluar dari hidungnya, pria itu pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Ezra tiba di lokasi yang disebutkan oleh Gery tadi. Ia sengaja mendorong sang adik agar bekerja menjadi supir pribadi Zeline, dengan begitu ia bisa terus mendapatkan informasi keberadaan Zeline.


Untunglah saat itu, dengan mudah Gery diterima. Dan itu merupakan suatu keberuntungan bagi Ezra. Selain gaji Gery bekerja di sana cukup besar, ia juga bisa mengetahui lokasi keberadaan Zeline dengan mengirimkan mawar-mawar tersebut. Dan Ezra sangat senang, jika mawar yang menjadi pilihan Zeline adalah mawar darinya.


Gery beberapa kali, mendorong Ezra untuk mengakui semuanya. Namun, pria itu enggan melakukannya. Ia tak ingin, nantinya Zeline tahu jika pria yang selalu mengirimkan bunga-bunga itu adalah pria yang memiliki penyakit yang mematikan. Dan ia juga tak tahu, sampai kapan dirinya akan bertahan hidup. Ezra tak mau Zeline mengetahuinya karena itu akan membuat gadis tersebut bersedih.


Jika Gery bekerja sebagai supir pribadi Zeline, sedangkan Ezra, pria ini memilih pekerjaan yang ringan saja, mengingat kondisinya yang tak memungkinkan jika harus bekerja dengan cara menyita waktu.


Ezra sering mengambil beberapa gambar, dan tentunya gambar tersebut ia taruh di situs jual beli online, dan beberapa potret yang ia ambil pun ditawar dengan harga yang cukup tinggi.


Kembali lagi dengan cerita Ezra yang sekarang. Pria itu memarkirkan motornya cukup jauh dari lokasi syuting tersebut. Ia melihat di luar, terdapat cukup banyak orang serta gerobak kopi dengan poster Zeline terpampang di sana.


Ezra tersenyum, ia mengambil bunga yang dibawanya tadi, mencoba mencari keberadaan Gery ataupun manajer dari gadis tersebut.


Namun, saat itu juga, ia menangkap pemandangan yang amat menyayat hatinya. Di mana pria yang beberapa hari lalu datang ke toko bunganya itu tengah berbincang dengan Zeline. Bahkan, pria tersebut menyodorkan bunga kepada gadis yang ia puja selama ini.


Ezra menatap sesuatu yang ia pakai, dan membandingkannya dengan yang dikenakan oleh pria itu. Sungguh! Ia dan pria itu seperti langit dan bumi, sangat jauh berbeda.


Setelan pria itu terlihat sangat berkelas, dengan pakaian yang rapi ala orang kantoran. Sepatu yang mengkilap, serta rambut yang ditata sedemikian rupa.


Berbeda halnya dengan Ezra, yang hanya mengenakan celana training, kaos yang dilapisi jaket kulit. Serta alas kaki yang bisa dibeli di warung-warung kecil dengan harga dibawah dua puluh ribuan.


Seketika, Ezra pun menjadi tak percaya diri. Ia tertunduk, lalu kemudian menyunggingkan senyumnya yang perih. Sungguh! Jika disandingkan dengannya, tentu saja sangat tidak cocok. Lebih cocok jika gadis tersebut dengan pria itu. Pria yang lebih berkelas dari dirinya.


Seketika, ia pun langsung mengurungkan niatnya untuk memberikan bunga mawar tersebut kepada Zeline. Melihat gadis itu tersenyum menatap pria yang ada di hadapannya, membuat Ezra sakit hati.


Tak lama kemudian, ponsel yang ada di sakunya bergetar, ia melihat si penelepon tersebut tak lain adalah adiknya sendiri. Ternyata sang adik tahu keberadaan Ezra di tempat itu. Ezra mengangkat panggilan tersebut, tanpa mengucapkan apapun.


"Mulai sekarang, berhentilah datang dan mengirimkan bunga mawar itu padanya!!"


Bersambung ....


Nih udah muncul ya si kang bunga. Jadi, kalian nggak penasaran lagi🤭 eh iya, othor minta di rate bintang lima dong kalo nggak keberatan hihihi.


Ini visualnya babang Ezra. Cuma bisa nyarinya kek gini, nggak ada pinterest fotonya si babang pake sendal swalow 🙈