
Zeline baru saja bangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya, melihat ke sekitar bahwa dirinya tengah berada di dalam kamarnya saat ini. Perjalanan satu hari bersama dengan pria yang ia cintai tampak sangat berkesan di hati. Meskipun lelah, akan tetapi Zeline merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Ezra.
Zeline meraih ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu dan mengirimkan pesan singkat pada pria yang saat ini berbeda ruangan saja dengannya.
Saat melihat tanggal yang ada di ponselnya, Zeline langsung merasa sedih karena semakin lama waktu semakin berjalan. Dan hari penentuan dimana ia harus memutuskan pilihannya.
Zeline menghela napasnya dengan berat, lalu kemudian mengusap wajah dengan kasar. "Sungguh, aku ingin sekali waktu berhenti berjalan saja," gumam Zeline.
"Entah, bagaimana kisah kita nantinya. Ku harap, semua tentang kita selalu ada di dalam pikiranku. Meskipun suatu hari nanti, kita dipisahkan. Ku sangat berharap jika setelah itu, dirimu akan hidup di dalam ingatan ku," ujar Zeline bermonolog.
Di lain tempat, Ezra terbangun karena mendengar notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Dengan mata yang masih terpejam, ia meraba tempat tidur, mencari ponselnya yang tergeletak di sana.
Saat benda tersebut telah berhasil ia temukan, Ezra pun sedikit menyipitkan matanya, menatap layar ponselnya yang menyala.
Namun, sesaat kemudian matanya langsung terbuka lebar, saat melihat pesan singkat tersebut tak lain dari sang pujaan hati.
Apakah kamu sudah bangun?
Setelah membaca pesan singkat itu, Ezra pun langsung mengetikkan balasan akan pesan yang ia dapat dari Zeline.
Aku sudah bangun sedari tadi.
Setelah mengetikkan pesan tersebut, Ezra langsung mengirimkan pesan itu kepada Zeline. Pria itu menguap, ia memilih untuk berbohong agar selalu menjadi pria yang sempurna di mata gadis pujaan hatinya itu.
"Haruskah aku bangun sekarang dan langsung mandi? Atau aku harus menundanya selama beberapa menit lagi dan kembali tertidur. Aku masih merasakan lelah karena tidur seharian di dalam mobil. Entahlah, aku ini hantu jenis apa hingga masih merasakan lelah seperti manusia pada umumnya," ujar Ezra.
Di waktu yang bersamaan, Zeline sangat senang karena mendapat balasan dari pria yang ia cintai.
"Ternyata dia sudah bangun sedari tadi. Wajarlah, dia memang pria yang sempurna dan rapi. Pria paling perfect yang aku temui saat ini," gumam Zeline.
Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya. Tentu saja ia tak ingin kalah dari Ezra karena pria itu pasti sudah berpenampilan rapi, berbeda halnya dengan Zeline. Itulah yang ada di pikiran Zeline saat ini.
Selang dua puluh menit lamanya, Zeline pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya.
Zeline langsung mengenakan pakaiannya, dan memoles wajah cantiknya dengan riasan yang tampak minimalis, akan tetapi melekat sempurna di wajah Zeline.
Setelah semuanya siap, Zeline pun hendak keluar kamarnya. ia takut karena penampilannya saat dilihat oleh Ezra acak-acakan. Hingga akhirnya membuat wanita yang memiliki bulu mata lentik itu harus memperbaiki riasannya beberapa kali. Setelah di rasa cukup, Zeline pun langsung keluar dari kamarnya.
Di waktu yang bersamaan, Ezra juga baru keluar dari kamarnya. Pria itu membuka pintu bersamaan dengan Zeline.
"Wah, ternyata kamu memang sudah rapi ya," ujar Zeline yang sengaja menyindir Ezra karena berkata bohong sebelumnya.
Sementara Ezra, pria itu langsung terkejut. Namun, ia menghilangkan rasa itu melalui senyum tipis seraya menggaruk kulit kepalanya.
"Maaf Bu negara, kali ini aku sedikit berantakan," ucap Ezra seraya terkekeh geli.
Bersambung .....