
Zeline dan yang lainnya tengah menikmati sarapan. Kedua orang tua Zeline diam-diam melirik Ezra dan Zeline. Bagaimana tidak? Pasalnya kedua orang tersebut sedari tadi tak saling berkomunikasi satu sama lain. Hal itu menandakan bahwa keduanya tengah bertengkar, hingga tak saling bertegur sapa.
"Bu, nanti temani ayah keluar dulu ya. Ayah ada urusan dan ingin agar ibu menemani ayah keluar nanti. Soalnya ayah tidak mau pergi sendirian," ucap ayah Zeline.
Bukan tanpa alasan pria dengan rambut yang mulai memutih itu berkata demikian. Tentunya ia ingin agar Zeline dan Ezra nantinya saling berinteraksi saat ditinggalkan berdua saja. Agar keduanya kembali berbaikan seperti sedia kala.
"Baiklah," balas ibu Zeline. Ia mengerti mengapa suaminya berucap demikian dan tahu tentang rencana apa yang akan dilakukan oleh sang suami.
Setelah menyelesaikan sarapan, Zeline menolong ibunya untuk mencuci piring. Ibu Zeline bertugas mencuci piring, sementara Zeline meletakkan piring-piring tersebut di atas rak piring yang tak jauh dari wastafel.
"Ibu dan ayah mau pergi kemana?" tanya Zeline.
"Entahlah. Ibu hanya menemani ayah saja, ibu juga tidak tahu ayah akan membawa ibu kemana," jawab ibu Zeline.
"Terus ... aku dan Ezra di rumah saja?" tanya Zeline lagi.
"Iya, kalau kamu mau ikut, nanti tidak enak dengan Ezra. Bukankah kita yang sudah mengajaknya kemari? Atau kamu mau Ezra pulang saja." Ibu Zeline sengaja berucap demikian untuk memancing putrinya, mencuri pandang melihat ekspresi anak gadisnya itu.
Sesaat kemudian Zeline pun menganggukkan kepalanya. Tanpa sepengetahuan Zeline, ibunya tersenyum tipis, pertanda bahwa rencananya akan berhasil kali ini.
Setelah selesai mencuci piring, ibu dan ayah Zeline pun pergi meninggalkan rumah. Beralasan untuk mengurus sesuatu, padahal rencana mereka adalah untuk membuat Zeline kembali berdamai dengan Ezra.
Sepeninggal kedua orang tua Zeline, gadis bersurai panjang tersebut tengah duduk di teras. Ezra juga berada di sana, akan tetapi mereka duduk berjauhan.
Ezra diam-diam melirik ke arah Zeline. Sejujurnya ia tak nyaman jika harus mendiamkan gadis itu seperti ini. Namun, bagaimana pun juga, ini semua demi kebaikan Zeline juga. Ezra tak ingin suatu hari nanti Zeline kembali membuat keputusan yang bodoh, melepaskan kesempatannya untuk hidup demi tinggal dengan bayang-bayang semu.
Di waktu yang bersamaan, Zeline sedari tadi juga merasa resah. Ia tidak nyaman dengan situasi seperti ini, akan tetapi jika mengingat kejadian yang kemarin, itu sangat menjengkelkan bagi Zeline. Memiliki perbedaan pendapat, dan membuat Zeline langsung sakit hati sesaat.
"Jujur saja, bibirku terasa keram serta wajahku terasa kaku dan mati rasa tanpa mengembangkan senyum ke arahnya sama sekali. Aku ingin sekali menegurnya terlebih dahulu, akan tetapi aku malu untuk melakukan hal itu. Seharusnya dia lah yang melakukannya, bukan aku," batin Zeline berucap.
Hampir satu jam lamanya mereka duduk saling berjauhan seperti itu. Dan sesekali keduanya saling mencuri pandang satu sama lain.
Namun, saat mata mereka bertemu, Zeline langsung mengarahkan pandangannya ke lain tempat, bertindak seolah sok jual mahal.
"Sebenarnya aku tidak nyaman dengan situasi ini, akan tetapi seharusnya dia lah yang meminta maaf terlebih dahulu karena dia seorang pria. Sudah selayaknya pria mengalah pada seorang wanita," batin Zeline.
"Duh! Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Cara dia melihatku saja seolah tersirat sebuah dendam yang teramat besar," ucap Ezra di dalam hati.
Keduanya saling ingin menyapa, akan tetapi karena yang satu memiliki sifat gengsi, dan yang satu lagi ketakutan, membuat mereka pun berdiaman saja sampai saat ini.
Namun, Ezra tak tinggal diam. Ia mengambil tindakan lebih dulu, karena tidak mungkin jika mereka akan seperti ini terus menerus, yang ada nantinya akan timbul penyesalan ketika mereka akan berpisah. Menyisakan luka yang tersisa akibat tak memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.
Ezra mengalah, ia menghampiri Zeline dan berdiri tepat di sebelah gadis tersebut. Ezra mengembangkan senyumnya, lalu kemudian mengulurkan tangan.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin," ucap pria tersebut.
Zeline mendongak, menatap wajah Ezra. Rasa gengsi itu seolah menghilang begitu saja saat melihat wajah teduh pria tampan yang ada di hadapannya.
"Aku juga minta maaf karena terlalu keras kepala," ujar Zeline menyambut uluran tangan tersebut.
Kedua orang tersebut saling melemparkan senyum satu sama lain. "Bolehkah aku duduk di sebelahmu?" tanya Ezra yang memilih untuk meminta izin terlebih dahulu pada gadis tersebut.
Zeline menganggukkan kepalanya," Boleh. Silakan saja!" ujar gadis itu seraya tersenyum simpul.
"Kamu tidak lagi marah padaku kan?" tanya Ezra.
"Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana denganmu?" Zeline balik bertanya pada pria pemilik lesung pipi tersebut.
"Tidak. Aku tidak marah padamu," timpal Ezra.
Keduanya menatap ke depan, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Ucapanmu sama dengan ucapan ibuku," ujar Zeline yang memilih untuk membuka pembicaraan.
Mendengar hal tersebut, membuat Ezra langsung mengarahkan pandangannya pada Zeline. "Apakah kamu sudah memberitahukan tentang mimpimu itu pada Tante?" tanya Ezra dengan ekspresi wajah yang serius.
"Tentang mimpiku ... aku belum memberitahukan hal itu pada ibu. Namun, ibu sempat membahas tentang kehidupanku selanjutnya. Aku berkata pada ibu, bagaimana jika aku ingin tinggal bersama ibu di tempat ini, dan jawaban yang ibu berikan sama halnya seperti jawaban yang kamu lontarkan sebelumnya," tutur Zeline.
"Siapa pun itu, pasti akan menyarankan agar kamu melanjutkan hidupmu kembali. Kamu tahu, jika aku diberikan kesempatan untuk hidup lagi, aku memilih untuk kembali. Aku masih ingin membahagiakan adikku, aku masih ingin membahagiakan ibuku."
"Namun, takdir berkata lain. Aku harus meninggalkan mereka semua dan juga mimpiku. Apakah kamu masih memilih untuk tetap tinggal setelah mendengar apa yang ku katakan kali ini?" tanya Ezra.
Zeline kembali menggelengkan kepalanya, "Entahlah, untuk masalah yang satu itu, aku belum memutuskannya. Aku ingin menghabiskan waktuku di sini tanpa beban apapun. Memberikan kenangan manis agar bisa dikenang nantinya, jika kita memang benar-benar harus berpisah," ujar Zeline dengan nada yang rendah, menandakan bahwa gadis itu bersedih karena kalimat yang baru saja ia lontarkan.
Ezra mengusap puncak kepala Zeline dengan lembut. Hingga akhirnya, Zeline pun tanpa sengaja menitikkan air matanya lagi.
"Mari kita ciptakan kenangan yang indah, untuk hari yang tersisa," ujar Ezra.
Zeline menganggukkan kepalanya. Melihat air mata yang membasahi pipi gadis pujaannya, membuat Ezra pun langsung menyeka bulir bening tersebut.
"Jangan menangis, karena kamu terlihat sangat jelek ketika menangis," ucap Ezra.
Dengan cepat Zeline pun langsung menyeka air matanya. Ia benar-benar tidak mau dikatai jelek oleh pria yang telah mencuri hatinya itu.
"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Zeline.
"Tanyakan saja. Aku pasti akan menjawab apapun pertanyaanmu itu dengan jujur," balas Ezra.
"Tadi kamu sempat berkata, bahwa ada mimpi yang belum kamu wujudkan. Jika aku boleh mengetahuinya, apa mimpimu?" tanya Zeline menatap lawan bicaranya dengan serius. Pandangannya tertuju ke arah Ezra, menginginkan jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan.
"Sebenarnya untuk saat ini, separuh dari mimpi itu telah tercapai. Namun, untuk mencapai sepenuhnya mimpi itu, mustahil bagiku." Ezra tersenyum getir.
"Apa mimpimu? Jika aku bisa membantu mewujudkannya, aku akan membantumu," ucap Ezra.
Pria itu langsung menggelengkan kepala, tak menerima bantuan dari Zeline. "Aku tidak ingin kamu melakukannya," ujar Ezra.
"Lalu?"
"Kamu hanya perlu mengetahuinya saja," ucap Ezra.
"Apa mimpimu?" tanya Zeline lagi.
"Memilikimu. Kali ini aku sudah memilikimu, akan tetapi hanya sebatas berbincang dan berkata bahwa kamu adalah tunanganku. Setelah itu, aku tidak bisa memilikimu seutuhnya."
Bersambung ....