
Mobil yang dikendarai oleh Gery pun tiba di kediaman Zeline. Kedua orang tersebut turun dari mobil, melihat Vera yang sudah berkacak pinggang menatap kedua orang tersebut secara bergantian.
"Dari mana? Kenapa ponselmu tidak aktif? Apakah kamu tahu, kami sedari tadi pusing mencari keberadaanmu?" cecar Vera melihat Zeline.
Pandangan gadis itu mengarah kepada Gery yang juga ada di sana. "Kenapa kamu bersama dengannya?" tanya Vera menatap Gery.
"Dan ini ... ada apa denganmu? Kenapa matamu bengkak? Dan kenapa kalian berdua pulang bersama?"
Vera melempari beberapa pertanyaan pada Zeline, membuat gadis itu hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
"Kenapa kamu tidak menjawab?" tanya Vera lagi.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," ucap Gery membuka suara.
Zeline menoleh, menatap pria yang ada di sampingnya. "Apakah tidak ingin mampir dulu?" tanya Zeline.
"Tidak. Aku harus membantu ibu di toko," timpal pria itu.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih. Lain kali, aku akan mengunjungimu lagi," seru Zeline saat Gery sudah melangkahkan kakinya pergi.
"Mengunjungimu? Ada hubungan apa kalian berdua? Kamu belum menjawab pertanyaanku sama sekali, Zeline."
"Aku lelah, aku ingin beristirahat," ucap Zeline yang langsung memotong perkataan Vera.
Gadis itu berlalu dari hadapan Vera. Sementara Vera, menghela napasnya dengan kasar, mendapati perlakuan Zeline yang terlihat sedikit acuh tak acuh saat dirinya tengah mengkhawatirkan gadis tersebut.
Zeline berjalan menuju ke kamar. Gadis itu sedikit menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Menatap ke atas langit-langit kamarnya, membuat air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.
Ia mencoba berusaha sekuat mungkin untuk tetap tegar. Namun, ia tidak sekuat itu. Kenyataan pahit yang menimpanya kemarin, membuat gadis itu benar-benar terpukul.
Sesaat kemudian, Vera masuk ke dalam kamarnya. Ia hendak melemparkan semua ocehan untuk sang artis karena telah mengabaikan dirinya. Namun, saat melihat Zeline menitikkan air mata, membuat Vera pun mengurungkan niatnya untuk memarahi Zeline.
"Ada apa? Tolong ceritakan padaku jika ada yang mengganggu pikiranmu," ucap Vera dengan lembut.
Gadis itu duduk di sisi ranjang, mengusap kepala Zeline dengan lembut, untuk menenangkannya.
"Aku merasa aneh. Aku merasa sangat lesu dan juga mengantuk," ucap Zeline.
"Ku rasa aku sakit. Rasanya sebagian diriku hancur. Terasa ... ada sesuatu yang menekan dadaku dengan begitu kuat. Dan ini terasa sangat menyesakkan," lanjut Zeline disertai dengan air mata yang mengalir.
Vera bingung, ia tidak tahu apa yang membuat artisnya benar-benar hancur seperti ini.
"Apakah kamu menemukan ketikan buruk tentang dirimu di kolom komentar?" tanya Vera, terkait masalah tentang Zeline kemarin. Namun, masalah itu bukankah sudah terselesaikan?
Zeline menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengucapkan apapun dan memilih untuk memunggungi Vera.
Vera tak bisa berbuat banyak. Melihat Zeline yang masih tertutup seperti ini padanya, tentu saja membuat Vera merasa sedikit geram. Akan tetapi, ia juga tidak bisa memaksa agar Zeline membuka suara dan bercerita padanya.
"Aku mengantuk, aku ingin beristirahat. Bisakah kamu meninggalkanku sendirian?" ucap gadis tersebut.
"Baiklah," timpal Vera yang mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkahkan pergi meninggalkan Zeline dan menutup pintu kamar gadis tersebut.
Vera berjalan menuju ke ruang tengah. Ia mendapati Lita yang sedang berada di sana, menatap Vera dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Kak, apakah Kak Zeline baik-baik saja? Aku melihat Kak Zeline menangis saat menuju ke atas," ucap Lita yang mengatakan saat Zeline hendak menuju ke kamarnya tadi.
"Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja. Aku juga belum tahu pasti, apa yang mengganggu pikirannya. Kemarin, saat masalah tengah naik, dia justru bersikap biasa saja. Dan masalah saat ini telah selesai, akan tetapi dia malah bersedih. Kita tunggu saja sampai besok. Semoga saja besok dia segera membaik karena besok harus mulai bekerja lagi," papar Vera.
...****************...
Keesokan harinya, Zeline sudah tampak rapi dan bersiap untuk pergi syuting. Vera dan Lita sengaja menginap di rumah Zeline, bertujuan untuk menemani gadis itu agar tidak merasa sendirian dan sedikit membantu menghilangkan rasa sedih Zeline dengan menghiburnya.
Pagi ini, Zeline sudah kembali ceria seperti sedia kala. Namun, Vera dan Lita masih belum mengetahui tentang kesedihan Zeline yang tak ingin ia ceritakan. Dan bahkan, Vera sempat mengira bahwa hal ini berkaitan dengan Gery. Akan tetapi, untuk menanyai pria itu pun cukup sulit. Mengingat nomor ponsel Gery yang hingga saat ini tak kunjung aktif, dan Vera pun tak tahu dimana Gery tinggal.
Seperti biasanya, Vera menyiapkan jus untuk Zeline. Sarapan sehat yang selalu ia buat agar menjaga berat tubuh Zeline agar tetap ideal.
"Jus buatanmu kali ini terasa lebih nikmat dan segar," celetuk Zeline meminum jus tersebut hingga habis.
Mendengar hal itu, membuat kening Vera berkerut. Biasanya Zeline selalu keberatan jika ia menyiapkan jus tersebut untuk sarapannya. Namun, respon kali ini sedikit berbeda.
"Ini pertama kalinya kamu terlihat menikmati jus itu. Padahal, bahan-bahannya sama saja seperti yang kemarin," balas Vera.
Zeline mengendikkan bahunya. Meletakkan gelas kosong itu kembali ke dapur. Di meja makan, ia melihat Lita yang tengah menyantap selembar roti sembari berdiri.
"Ah iya, Kak. Maaf soalnya buru-buru," ujar Lita.
"Santai saja. Kalian sarapan dulu dengan tenang. Lagi pula kumpulnya di lokasi kan masih sisa setengah jam lagi," balas Zeline sembari mengulas senyumnya.
Lita pun menganggukkan kepalanya dengan patuh. Menatap punggung Zeline yang pergi meninggalkan dapur dan kembali menuju ke ruang tengah.
"Sepertinya Kak Zeline sudah tidak bersedih lagi. Syukurlah kalau begitu," gumam Lita yang kembali menyantap roti yang ada di tangannya. Namun, kali ini ia makan sambil duduk, seperti yang dikatakan oleh Zeline tadi.
Setelah semuanya selesai, mereka pun langsung masuk ke dalam mobil hendak menuju ke lokasi syuting. Zeline membuka jendela kaca, membiarkan angin menerpa wajah cantiknya.
"Zeline, tutup saja. Nanti ada orang lain yang melihat dirimu," tegur Vera.
"Sebentar saja. Aku ingin menikmati angin sepoi-sepoi di pagi hari," balas Zeline.
"Sepoi-sepoi apanya. Sudah tutup saja jendelanya. Aku takut nanti kita diikuti oleh orang lain," ujar Vera yang mencoba waspada terhadap sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Ck! Kamu benar-benar cerewet, Madam!" tukas Zeline menyebut Vera sama seperti Gery menyebut gadis itu terdahulu.
"Hmmm ... sepertinya kamu terlihat lebih akrab dengan Gery setelah menghilang kemarin." Vera menyindir, sembari melipat kedua tangannya di depan.
Zeline hanya mengembangkan senyumnya, dan kembali menatap ke luar jendela. Setelah itu, Zeline pun menutupnya kembali karena mendengar ocehan Vera yang tidak ada hentinya.
Mobil yang dikendarai oleh Lita tiba di lokasi syuting. Zeline dan yang lainnya segera turun dari mobil Van. Melihat aktor dan aktris yang ikut berperan dalam film itu pun sudah berkumpul di tempat tersebut.
Vera memberikan pakaian yang akan dikenakan oleh Zeline. Gadis itu pun langsung mengganti pakaiannya, laku kemudian duduk di salah satu kursi untuk sedikit dipoles oleh tim make up yang ada di lokasi.
Untuk adegan kali ini sedikit berbahaya. Dimana Zeline harus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, mengingat bahwa adegan kali ini adalah adegan dirinya yang tengah taruhan dengan lawan mainnya melalui balap liar.
"Zeline, fokus dan semangat oke!" ucap Vera yang memperingatkan sang artis.
"Baik, Madam."
"Ck! Jangan memanggilku dengan sebutan itu!" tukas Vera memperlihatkan wajah masamnya.
Zeline berjalan menuju ke mobil yang akan ia naiki. Terlihat seseorang yang tengah memegang papan clapper board serta memberikan aba-aba dengan berucap, " 1, 2, 3, action!"
Zeline pun mulai menghidupkan mesin mobilnya. Menatap ke arah pria yang merupakan lawan mainnya itu. Tak lama kemudian, ia pun langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Meskipun adegan yang diambil cukup berbahaya, akan tetapi semua kru telah menyiapkan lokasinya seaman mungkin. Agar sang artis tetap dalam keadaan aman dalam pengambilan video kali ini.
Di sini, ditunjukkan dimana Zeline dan lawan mainnya tengah kejar-kejaran. Terkadang Zeline yang berada di posisi paling pertama dan terkadang justru posisi itu pun sebaliknya. Tentu saja semua itu telah ditulis berdasarkan skrip naskah yang mereka terima.
Saat tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa, tiba-tiba fokus Zeline kembali teralihkan dengan kejadian kemarin. Kejadian yang membuatnya bersedih sepanjang hari dan bahkan sempat tertidur di kamar Ezra.
Semakin lama, Zeline terhanyut dalam pikirannya sendiri. Semua orang meneriakkan nama Zeline saat itu juga, bagaimana gadis itu terekam dengan pandangan yang kosong.
Teriakan itu semakin kencang saat melihat mobil yang melaju itu pun telah melenceng dan kemudian menabrak pembatas jalan hingga membuat posisi mobil pun beberapa kali jungkir balik.
"Zeline!!" teriakan paling lantang tak lain adalah teriakan dari Vera saat melihat sang artis mengalami kecelakaan tepat di depan matanya.
Dari kejauhan, Arman datang membawakan buket bunga untuk Zeline. Namun, melihat kejadian kecelakaan sang gadis pujaan, membuat buket itu pun terlepas dari tangannya.
Semua orang langsung berlari menuju Zeline. Beberapa orang berusaha mengeluarkan Zeline di dalam mobil tersebut. Melihat posisi mobil yang terbalik, membuat Zeline susah untuk dikeluarkan dari sana. Vera menangis sejadi-jadinya melihat Zeline yang masih berada di dalam mobil itu. Tangisan histerisnya terdengar begitu pilu.
Arman, pria itu langsung berlari menuju Zeline, menyelamatkan sang gadis dari sana. Bensin mobil terlihat bocor, membuat beberapa orang takut untuk menyelamatkan Zeline. Namun, tidak dengan Arman. Ia tidak peduli sekalipun nyawanya melayang untuk wanita itu, karena ia benar-benar mencintai gadis itu dengan tulus.
Arman mencoba sekuat tenaga, menarik Zeline keluar dari tempat itu. Vera memaksakan dirinya hendak membantu, akan tetapi beberapa orang menahan tubuhnya.
"Jangan lakukan itu! Berbahaya!!" telinga Vera mendengar kalimat tersebut.
"Semuanya tidak akan selesai dengan hanya berdiam diri dan melihat saja. Bensinnya bocor dan mobilnya bisa saja meledak! Sementara Zeline masih berada di dalam sana. Dimana pikiran kalian yang hanya berkata seperti itu akan tetapi tak bertindak apapun," geram Vera disertai dengan isak tangisnya.
Tak lama kemudian, terlihat Arman berhasil membawa Zeline keluar dari mobil tersebut. Beberapa menit jarak mereka berjalan meninggalkan mobil, sesaat kemudian kendaraan itu pun langsung meledak dan terbakar.
Arman membawa Zeline ala bridal style, ia melihat wajah cantik Zeline yang terlihat pucat. Sementara bagian kepalanya mengeluarkan darah segar. Pria itu menitikkan air matanya, melihat Zeline yang seperti ini. Ia bisa merasakan napas Zeline yang masih ada. Pertanda bahwa gadis itu masih hidup.
"Tolong bertahanlah Zeline!" ujarnya.
Bersambung ....