
Tettt ... Tettt ...
Suara alat monitor yang ada di rumah sakit sangat jelas terdengar. Pria dengan rambut yang mulai memanjang, dengan setia menjaga wanita pujaannya agar segera tersadar.
Sesekali ia menggenggam erat tangan wanita yang masih saja setia tertidur di alam bawah sadarnya. Ingin sekali rasanya ia menggantikan posisi itu. Membiarkan Zeline untuk segera bangun dan sehat, dan biarkan saja Arman menggantikan posisi Zeline. Pertanda bahwa pria ini memang benar-benar tulus mencintai wanita tersebut.
"Sadarlah, Zeline. Kami di sini menunggumu kembali," ucapnya menggenggam tangan Zeline dengan begitu erat.
....
Sadarlah, Zeline. Kami di sini menunggumu kembali.
Samar-samar Zeline mendengar kalimat tersebut dalam tidurnya. Dengan cepat, gadis itu membuka mata dan langsung mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
"Apakah itu mimpi? Tapi aku mendengar seolah-olah itu adalah nyata. Apakah itu adalah sebagian dari diriku yang ada di sana? Seperti yang ayah katakan kemarin, bahwa di alam yang berbeda aku tengah terbaring koma," gumam Zeline.
Pertanyaan demi pertanyaan kembali bermunculan di otaknya. Ia segera meraih air minum yang ada di atas nakas, lalu kemudian menenggaknya hingga tandas.
"Jika memang benar, haruskah aku kembali? Namun, bagaimana dengan yang lainnya? Bagaimana dengan ayah, ibu, dan juga Ezra?" lanjutnya lagi.
Mengingat akan hal itu, membuat Zeline kembali merasa bersedih. Sebagian ingatannya tentang Ezra belum sepenuhnya kembali. Akan tetapi, ada beberapa yang Zeline ingat, bahwa Ezra selalu mengirimkan bunga mawar kepada Zeline.
Zeline agak sedikit menebak hal itu, karena dirinya yang memang sering menangis saat melihat mawar yang diberikan oleh Ezra.
Zeline beranjak dari tempat duduknya. Ia tak ingin larut dari kesedihan jika terus menerus mengingat apa yang membuat air matanya terkuras habis.
Saat menyingkap gorden kamarnya, satu hal yang membuatnya senang dan terpana. Dimana saat itu, Ezra tengah membantu kedua orang tuanya yang tengah mengumpulkan kayu bakar di halaman belakang.
"Kamu baik, tampan, rajin, akan tetapi kenapa aku tidak membalas cintamu kemarin-kemarin?" gumam Zeline yang tak melepaskan pandangannya dari Ezra.
Pria yang selalu saja membuatnya terpana. Pria yang selalu membuatnya tergila-gila. Dan Zeline, menyadari bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada pria tersebut.
Namun, sayangnya cinta mereka yang tak direstui itu, kelak akan berakhir dengan cara yang cukup memilukan. Dan Zeline harus menghadapi itu suatu hari nanti.
Ezra mengarahkan pandangannya ke atas, dan tentunya mata mereka saling bertemu. Pria itu langsung mengulas senyum, memperlihatkan kedua lesung pipi yang membuat senyum Ezra terlihat sempurna.
"Apa? Dia benar-benar melihat ke arahku?" gumam Zeline. Ezra yang kembali memandangi Zeline sembari menyuruh Zeline turun menggunakan kode melalui tangannya.
Zeline menganggukkan kepalanya. Ia menutup gorden jendela karena tidak ingin Ezra melihatnya terlalu lama dalam keadaan berantakan seperti ini.
"Dasar bodoh! Kenapa aku harus melihat dia sedari tadi. Karena ulahku sendiri, aku menghancurkan reputasi ku sendiri," gumam wanita tersebut.
"Baiklah, aku akan segera mandi dan menghampiri Mas Ezra. Upsss ... memanggilnya dengan sebutan mas seperti ini, membuatku menginginkan untuk tetap berada di sini," ucap Zeline.
Bersambung ....