
Siang harinya, Ezra dan Zeline memutuskan untuk keluar. Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil. Ezra hendak membawa Zeline ke suatu tempat, dan tentunya hal itu membuat Zeline sangat senang.
"Memangnya kita hendak kemana?" tanya Zeline menatap pria yang saat ini tengah mengendalikan setir mobilnya.
"Aku ingin membawa kamu jalan-jalan," timpal Ezra singkat.
"Iya, aku tahu. Tetapi kita mau jalan-jalan kemana? Apakah kita tidak memiliki tujuan yang jelas dan hanya berkeliling-berkeliling saja?" tanya Zeline melipat kedua tangannya ke depan.
Ezra menatap Zeline sekilas, lalu kemudian mengembangkan senyumnya. "Kamu ini memang tipe orang yang sangat tidak sabaran. Nanti kamu akan mengetahuinya setelah sampai di lokasi," balas Ezra.
Zeline menghela napasnya, "Baiklah kalau begitu. Aku ingin tidur dulu dan jangan lupa untuk membangunkan aku setelah tiba nanti," ujar Zeline.
Ezra menanggapi ucapan gadis yang ada di sebelahnya dengan menganggukkan kepala. Pria itu kembali memusatkan pandangannya ke depan. Sementara Zeline, ia memilih untuk memejamkan matanya karena rasa kantuk benar-benar menyerangnya kali ini.
Ezra melirik Zeline sekilas, ia mengembangkan senyumnya melihat Zeline mengatur kursi agar memilih posisi yang lebih nyaman untuk tertidur.
Saat gadis itu tidur, Ezra memperlambat laju kendaraannya. Ia tak ingin jika Zeline harus terbangun dari tidurnya akibat Ezra yang membawa mobil terlalu ngebut.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Ezra pun memberhentikan mobilnya. Kali ini, Ezra membawa Zeline ke pantai. Ia sengaja membawa Zeline pada siang hari ke sini, agar nanti mereka dapat melihat matahari terbenam di sore harinya.
Kedatangan Ezra ke sini, tentu saja ada ikut campur tangan dari kedua orang tua Zeline. Mereka mengizinkan agar Ezra membawa putrinya kemana pun asal Zeline tetap bahagia. Lagi pula mereka juga mengerti, mengingat bahwa mereka kelak akan berpisah juga.
Ezra memberhentikan mobilnya, ia melemparkan pandangannya pada gadis yang masih setia memejamkan mata.
Pria itu memandangi Zeline dengan seksama. Bulu mata yang lentik, hidung yang tinggi, serta bibirnya yang tipis membuat Zeline benar-benar terlihat sempurna.
Tangan Ezra terulur hendak mengusap puncak kepala Zeline, akan tetapi pria itu melakukan hal tersebut tak benar-benar menyentuhnya. Ia tak ingin gadis cantiknya terbangun, membiarkan sang pujaan hati terlelap dengan wajah teduhnya.
"Aku tak tahu bagaimana tanpamu kelak, akan tetapi aku berharap agar kamu tetap berbahagia suatu hari nanti meskipun itu tanpa aku," batin Ezra.
"Aku mencintaimu begitu dalam. Tak terhingga, dan tak terbatas. Cintaku begitu besar, sampai aku melupakan separuh tentang hatiku hanya ingin melihatmu tersenyum."
"Zeline, ku harap setelah kamu terbangun dari tidur panjangmu, aku ingin kelak kamu melupakan semua yang terjadi di sini, semua tentang kita, agar kamu tak terlalu merasa sedih jika nanti kamu tak melihatku lagi."
"Seberapa pahit kehidupan yang kamu jalani nantinya, aku akan selalu berdoa tentang kebahagiaanmu, karena melihatmu berbahagia itu sudah cukup membuatku juga turut berbahagia. Aku ... mencintaimu, Zeline. Sungguh mencintaimu."
Dengan perasaan yang berkecamuk, Ezra pun mengecup kening Zeline dengan lembut. Setetes air mata tiba-tiba jatuh dari pelupuk matanya, membuat Ezra dengan segera menyeka bulir bening yang membasahi pipinya itu.
Zeline tampaknya benar-benar mengantuk. Bahkan, ia tak terbangun sama sekali setelah mendapatkan ciuman lembut dari Ezra. Pria itu menatap wajah cantik Zeline, dan sesaat kemudian tersenyum.
Rasa sedih kembali menyelimuti dirinya tatkala melihat wajah Zeline dengan jarak begitu dekat. Ia benar-benar sakit hati, karena tak bisa memiliki Zeline seutuhnya.
Namun, itu lah takdir. Bagaimana pun jalan ceritanya, pasti akan ada skenario dari Tuhan, diciptakan sebaik mungkin untuk umatnya. Dan Ezra, harus berpasrah menerima semua itu.
Meskipun ingin untuk menentang, semua itu mustahil akan terjadi. Bagaimana pun juga, sudah ketentuan yang di atas, sementara sebagai umatnya, hanya bisa menjalani dan menerima apa yang sudah digaris takdirkan untuk kita.
Bersambung ....