40 Days With You

40 Days With You
Bab 56. Day 14 (Bagian 2)



Zeline baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya. Gadis itu merias dirinya, dan setelah semuanya selesai, barulah ia keluar dari kamar.


Zeline berjalan ke luar. Ia melihat Ezra masih di depan. Pria itu duduk santai sembari menyeruput kopi hangat yang ada di hadapannya. Sesekali ia mengotak-atik kamera yang ada di tangannya.


Zeline melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ezra. Mendengar suara langkah kaki ke arahnya, membuat pria itu pun langsung melemparkan pandangannya ke sumber suara. Ia tersenyum melihat Zeline yang tampak cantik dengan dress biru selututnya.


"Hai," ucap Zeline sedikit kaku.


"Hai," balas Ezra.


"Kenapa kamu sendirian di sini? Kemana ayah dan ibu?" tanya Zeline yang memang sedari tadi tak melihat keberadaan kedua orang tuanya.


"Om dan Tante tadi keluar. Aku di suruh untuk tetap di sini menjagamu," timpal Ezra meraih gelas kopinya, menyeruput kopi hangat itu.


"Mau kopi?" Ezra menawari gadis yang baru saja menjatuhkan bokong tak jauh darinya.


"Iya, silakan." Zeline menimpali sembari tersenyum simpul.


"Kalau mau, aku akan membuatkannya untukmu," ucap Ezra seraya meletakkan kembali mug yang ada di tangannya ke atas meja.


"Tidak. Aku tidak ingin ngopi," ujar Zeline mengibaskan kedua tangannya.


Keduanya terdiam sejenak, suasana pun menjadi hening. Kedua insan yang saling mencinta, akan tetapi berbeda alam itu tampaknya tengah memikirkan bagaimana nasib mereka untuk ke depannya.


Ezra terdiam sejenak. Ia menyunggingkan senyumnya, akan tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan sebuah kesedihan yang mendalam.


"Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja padaku. Aku akan menjawabnya," ujar Ezra yang sudah pasrah akan keadaan ini. Ia tak bisa memaksa jika memang akhirnya mereka pun harus berpisah.


"Mengapa kamu bisa menjawabnya? Bukankah sebelumnya kamu menolak untuk menjawab setiap pertanyaan yang aku ajukan? Kenapa kali ini kamu ingin menjawabnya?" tanya Zeline yang merasa penasaran.


"Aku ...." Ezra tampak berat untuk berucap, akan tetapi sesaat kemudian ia pun melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus.


"Aku bukan tidak bisa menjawabnya. Hanya saja lidahku kelu untuk menceritakan semua itu dari awal. Tentang kamu dan aku ... tak ada sesuatu hal yang indah di antara kita. Hanya sebatas seorang penggemar yang mencintai seorang artis terkenal. Dan berkhayal agar dapat memiliki dirinya seutuhnya," tutur Ezra panjang lebar.


Zeline mendengarkan ucapan pria itu dengan seksama. Hingga akhirnya sebuah pertanyaan pun kembali terlontar di bibirnya.


"Tidak ada yang tidak mungkin jika memang kita bisa berjuang. Mengapa saat itu kamu tidak memperjuangkan aku. Bahkan di sini, di bawah alam sadarku, aku bisa mencintaimu saat pertama bertemu denganmu. Lantas kenapa aku tidak bisa mencintaimu di dunia nyata?" ujar Zeline.


"Karena tidak mungkin bagiku untuk bersamamu." Ezra menghela napasnya dengan kasar. Tampaknya pria itu sangat berat menceritakan masa lalunya. Namun, karena Zeline kembali mempertanyakan hal itu, membuat Ezra pun mau tak mau harus mengatakan semuanya.


"Bukan aku tak ingin memperjuangkan kamu. Aku adalah salah satu dari orang-orang yang berjuang keras untuk hidup melawan penyakit kanker yang mematikan ini. Awalnya aku berpikir untuk membiarkan saja kamu tidak mengenalku. Namun, saat aku mengetahui kau menyangka pria lain itu adalah aku, membuat sesuatu emosi yang ada di dalam diriku menjadi bangkit."


"Namun, sayangnya aku menyadari semua itu saat aku tengah dalam perjalanan menuju pulang. Aku berencana untuk memutar balik, mengatakan bahwa pria yang mengirimkan bunga untukmu itu adalah aku. Pria yang menuliskan surat-surat itu adalah aku. Akan tetapi, saat itu takdir berkata lain. Ketika aku hendak memperjuangkan mu, di saat itu pula Tuhan menyuruhku untuk berpulang. Aku mengalami kecelakaan saat hendak berbalik untuk menemuimu," tutur Ezra dengan raut wajah yang sendu.


Bersambung ....