
Malam ini, hujan sangat deras. Zeline yang tadinya telah terlelap tidur, langsung terbangun saat mendengar suara petir yang begitu menggelegar.
Gadis itu menatap jam digital yang ada di atas nakas. Menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia pun turun dari tempat tidurnya, menutup gorden yang sedikit terbuka. Silau dari kilat yang menyambar, membuat Zeline terburu-buru menutup gorden tersebut dan memilih untuk menjauh dari jendela.
Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Menyetel ponsel tersebut dengan mode pesawat. Teringat akan pesan ibunya terdahulu, saat hari hujan, tidak boleh memainkan ponsel dan harus menyetelnya dalam mode pesawat, karena hal tersebut menjaga ponsel agar lebih aman dari sambaran petir.
Gemuruh kembali terdengar begitu menggelegar, sementara Zeline hanya bisa memeluk lututnya. Ia sangat ketakutan, apalagi tinggal sendirian di rumah. Dulu, sewaktu orang tuanya masih ada, biasanya Zeline langsung menemui ibunya dan tidur di samping wanita yang telah melahirkannya itu.
Namun, sekarang Zeline harus menghadapi ketakutan itu sendirian. Berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri di saat hari seperti ini datang lagi.
....
Keesokan harinya, Zeline terbangun dari tidurnya. Ia baru sadar, jika dirinya tertidur dalam posisi duduk seperti ini. Gadis itu pun meregangkan tubuhnya, otot-ototnya terasa kaku akibat posisi tidurnya yang tak nyaman.
Ia berjalan membuka gorden, menyingkap benda tersebut dan melihat dari luar jendela, warna langit yang terlihat jingga saat fajar. Kali ini, Zeline terbangun pagi-pagi sekali. Dan itu berlaku hanya beberapa kali saja, karena biasanya yang menjadi alarmnya adalah suara nyaring Vera yang senantiasa membangunkan tidurnya.
Gadis itu melihat ponsel yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Ia pun menyambar benda pipih tersebut dan langsung mengubah ponselnya dari mode pesawat ke mode normal.
Ia melihat satu pesan masuk yang belum sempat ia baca. Dan itu adalah pesan WhatsApp dari Arman, yang mengirimkan sebuah gambar. Zeline pun langsung membuka pesan tersebut dan melihat gambar itu secara seksama.
Ini adalah tulisan tanganku. Aku tidak tahu apa yang membuat tulisan tangan yang kamu maksud menjadi istimewa. Namun, ku harap kamu tidak salah paham denganku. Karena sungguh, aku juga mengirimkan banyak mawar kepadamu tanpa menuliskan namaku.
Zeline membaca setiap kalimat yang tertulis di atas kertas yang dipotret oleh Arman. Dan benar saja, jika tulisan tangan Arman sangat berbeda dengan tulisan yang ada di kartu ucapan, yang selalu ia terima itu.
Ada rasa bersalah menyelimuti Zeline, seolah menghakimi pria itu karena telah membohonginya. Padahal, semuanya murni hanyalah sebatas kesalahpahaman saja.
Jemari Zeline menari di atas layar keypad, untuk membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh pria itu. Serta permintaan maaf tak lupa ia haturkan, karena sudah terlalu kasar berucap pada Arman kemarin.
Aku minta maaf karena telah berucap sesuatu yang menyinggungmu. Semua tulisan tangan penggemarku adalah sesuatu yang sangat berarti . Yang menjadikannya hal istimewa adalah tulisan itu merupakan tulisan pertama yang aku dapatkan, sebelum aku menjadi terkenal seperti sekarang ini.
Setelah mengetikkan pesan yang cukup panjang itu, Zeline pun kembali meletakkan ponselnya. Entah mengapa, pagi-pagi sekali ia sudah merasa sangat lapar. Cacing di dalam perutnya ingin minta diisi sesuatu.
Zeline keluar dari kamarnya, berjalan menuju ke dapur dan mengambil lotus root powder, makanan yang tengah viral saat ini. Ia meletakkan beberapa sendok makanan tersebut di dalam mangkuk, lalu kemudian menyeduhnya dengan air panas, dan mengaduknya hingga makanan itu pun mengental dan bertekstur seperti papeda.
Saat menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, Zeline mengingat Gery yang sudah lama tak memberikan kabar sama sekali. Zeline mencoba menghubungi kontak Gery, akan tetapi lagi dan lagi nomor ponsel Gery tidak aktif.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Gery? Kenapa pria ini seolah hilang bagaikan di telan bumi," gumam Zeline kembali menyantap sarapan paginya itu.
Hari sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Suara mobil pun terdengar baru saja memasuki halaman rumah Zeline. Tentu ia bisa menebak, bahwa sang manajer baru saja tiba.
Dan benar saja, Vera menampakkan batang hidungnya. Namun, kali ini gadis itu tidak sendirian, melainkan bersama dengan seorang wanita yang memiliki postur tubuh sedikit lebih kecil dari Vera.
"Ku kira kamu masih bergumul di bawah selimut," celetuk Vera yang cukup terkejut melihat Zeline yang sudah rapi.
"Aku bangun cepat salah, bangun siang juga salah," gerutu Zeline sembari mencebikkan bibirnya. Pandangannya terarah pada wanita manis yang ada di sebelah Vera.
"Ah ini. Namanya Lita, dia akan menggantikan tugas Gery nantinya," ujar Vera.
Vera mengerti akan tatapan yang diperlihatkan oleh Zeline, membuat gadis itu pun kembali menjelaskan.
"Badannya memang kecil, tetapi tenang saja. Dia memiliki fisik yang kuat. Tidak akan mudah tumbang, percayalah!" lanjut Vera.
"Saya akan bekerja dengan baik!" ucap Lita dengan penuh semangat.
Melihat antusias Lita, membuat Zeline pun mengulas senyumnya menatap gadis manis tersebut. Lita membalas senyuman Zeline. Dalam hatinya, ia sangat memuji kecantikan Zeline yang terlihat seperti bidadari.
"Kamu sudah sarapan? Kalau belum, sarapan dulu!" tawar Zeline dengan ramah.
"Baik, Kak." Lita pun mengikuti langkah wanita yang ada di depannya menuju ke meja makan untuk sarapan bersama.
Setelah sarapan, ketiga wanita tersebut langsung masuk ke dalam mobilnya. Lita mengendarai mobil tersebut, sementara Zeline dan juga Vera duduk di belakang.
Zeline menatap keluar jendela. Pikirannya melayang, ada banyak macam pertanyaan yang bersarang di kepalanya, memicu gadis tersebut untuk terdiam sembari memikirkan sesuatu yang masih belum terpecahkan hingga kini.
"Kemarin Pak Arman menghubungiku," ujar Vera mencoba membuka pembicaraan.
Hal tersebut membuyarkan lamunan Zeline. Ia pun langsung mengarahkan pandangannya pada wanita yang ada di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Zeline dengan singkat, akan tetapi memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
"Dia berkata, bahwa bukanlah dirinya pria yang kamu maksudkan. Namun, dia juga sempat bercerita bahwa selama ini dia ikut mengirimkan buket bunga padamu. Hanya saja, sepertinya ada kesalahpahaman," jelas Vera.
Zeline menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ia bingung, bagaimana memperlakukan Arman selanjutnya.
"Maafkan aku, karena aku terlalu bersemangat membiarkan kamu bersama Pak Arman," ujar Vera.
"Namun, ... bisakah kamu membiarkan Pak Arman tetap mendekatimu? Ku rasa dia benar-benar menyukaimu," lanjut Vera.
Zeline terdiam sesaat, ia terlalu bingung untuk menjawab ucapan Vera. Dirinya membiarkan Arman untuk tetap mendekatinya, sedangkan jika suatu saat nanti usaha Arman akan sia-sia, tentu saja hal itu akan melukai perasaan pria itu juga.
"Tolong jangan mengatakan tidak, karena kita belum tahu bagaimana kedepannya. Lagi pula, pria mawar itu, menurutku dia hanyalah seorang pecundang yang bersembunyi dibalik kata-kata manisnya. Jika memang dia pria yang gentle, sudah saatnya ia menunjukkan diri," papar Vera.
"Dan kamu, Lita. Apa yang kami bicarakan, baik itu masalah pekerjaan atau pun pribadi, ku harap kamu dapat menyimpannya rapat-rapat. Bekerja dengan kami, itu tandanya kamu juga harus mengunci mulutmu itu," ujar Vera kepada supir baru tersebut.
"Baik, Kak." Lita pun mengangguk patuh.
Bersambung ....