40 Days With You

40 Days With You
Bab 54. Day 13



Arman menatap Zeline yang juga belum sadarkan diri. Sudah hampir dua Minggu lamanya gadis itu terbaring koma, akan tetapi Zeline masih setia menutup mata.


Arman meraih tangan Zeline yang masih tertancap infus. Wajah pria itu tumbuh di sekitar wajahnya, tanpa dicukur sama sekali. Penampilan Arman benar-benar berantakan setelah Zeline mengalami kecelakaan.


"Kapan kamu akan membuka mata, Zeline? Sudah dua Minggu lamanya kamu berbaring di sini. Asal kamu tahu, melihatmu seperti ini membuatku merasa tak berdaya. Aku benar-benar sakit, Zeline. Maka dari itu, tolong bangunlah! Pertanyaanku belum sempat kamu jawab. Dan aku ingin kamu sadar dari koma, dan menjawab pertanyaanku yang kemarin. Entah kamu menolaknya atau kamu menerimaku, aku akan pasrah menerimanya. Asalkan kamu harus membuka matamu," tutur Arman dengan air mata yang mengalir di sudut pipinya.


Selain Vera, orang yang juga merasakan kehancuran itu adalah Arman. Betapa pria tersebut mencintai Zeline. Dan semua ini, adalah sebuah pembuktian bahwa ia benar-benar tulus kepada gadis cantik yang terbaring koma itu.


Arman dan juga Vera mengatur waktu, bergantian untuk menjaga Zeline. Sesekali Gery dan ibunya juga turut serta menjaga Zeline disaat kedua orang itu tengah sibuk dengan dunianya. Namun, Arman dan Vera lebih mementingkan Zeline dari pada yang lainnya.


Di lain tempat, Vera tengah membereskan beberapa barang Zeline yang berserakan dilantai. Gadis yang dikenal pemalas itu memang selalu saja menaruh pakaiannya di sembarang tempat.


Setelah insiden kecelakaan Zeline, baru kali ini Vera kembali menginjakkan kakinya ke rumah Zeline. Ada rasa rindu bercampur sedih saat berada di sana. Bagaimana tidak? Semua kenangan tentang dirinya dan Zeline selalu menjadi bayang-bayang Vera saat berada di sana.


*Aku ingin makan enak sekali saja, Vera. Jus buatanmu juga enak, tetapi aku cukup bosan. Berikan aku ayam goreng!


Baik, Madam. Aku akan bangun tetapi tunggu lima menit lagi. Lima menit saja, ku mohon.


Terima kasih, Vera. Selama ini kamu yang selalu mendukungku. Aku bersyukur Tuhan menghadirkan wanita baik yang bisa dijadikan sandaranku*.


Sesaat kemudian, Vera menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ia berjalan, memunguti pakaian Zeline yang berserakan. Aroma parfum Zeline, membuatnya kembali teringat akan sosok sang artis. Seolah gadis itu saat ini sedang memperhatikannya.


Vera kembali menangis sembari mencium aroma pakaian Zeline. Kali ini, tangisnya benar-benar pecah. Gadis itu tak bisa membendung kesedihannya lagi. Ia benar-benar merindukan Zeline. Memarahi atau menegur gadis itu saat dia bersikap salah.


"Zeline, ku mohon kembalilah, Zeline! Apakah kamu tega melihatku menangis tersedu seperti ini? Apakah kamu tega membuat kami menunggu? Aku tidak akan sanggup, jika suatu saat nanti kamu benar-benar pergi meninggalkan aku. Bagaimana dengan aku, Zeline?" ujar Vera seraya menangis tersedu.


Ia benar-benar hancur, mendapati sang artis yang tak sadar dari komanya. Sesaat kemudian, Vera mendengar suara bel berbunyi. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Ia pun menghapus air matanya sebelum membukakan pintu.


Ceklek ....


Pintu terbuka, Vera menatap sosok gadis yang sangat ia ketahui muncul dari balik pintu itu. Gadis yang kemarin sempat menjadi supir pribadi Zeline.


"Mbak Vera," ujar Lita seraya mencebikkan bibirnya.


"Jangan buat aku kembali menangis, Lita!" Vera berucap tegas, akan tetapi air matanya tak bisa tertahankan. Keduanya saling menangis sembari berpelukan.


Bersambung ....