40 Days With You

40 Days With You
Bab 15. Kesempatan Dalam Kesempitan



Keesokan harinya, Zeline dan juga Vera sudah bersiap-siap untuk berangkat. Mereka menikmati sarapan terlebih dahulu di meja makan.


Seperti biasa, menu makanan Zeline haruslah rendah kalori. Mengingat pekerjaannya yang mengharuskan untuk menjaga berat badan agar tetap ideal.


"Sudah jam setengah 7, tapi batang hidungnya si Gery masih belum kelihatan juga," gerutu Vera sembari menggigit sepotong roti dengan selai kacang yang ada di tangannya.


"Kita tunggu saja sebentar lagi. Mungkin ada kendala saat menuju perjalanan kemari. Kita kan tidak tahu," ujar Zeline yang mencoba menggiring Vera untuk tetap bersabar.


"Baiklah. Kita tunggu saja 1 jam lagi. Jika dalam satu jam ini dia tidak muncul juga, kita akan pergi menggunakan mobilmu saja," ucap Vera dengan mulut yang penuh oleh roti.


Zeline hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan Vera di pagi hari ini. Entah mengapa gadis tersebut selalu saja mengomel di setiap harinya.


Namun, jika tidak mendengar suara Vera. Memang suasana akan terasa sepi. Bagaimana pun juga, itu lah karakter Vera. Jika dia sudah diam, itu tandanya gadis tersebut sedang tidak baik-baik saja.


Tak lama kemudian, suara bel pun berbunyi. Vera segera membukakan pintunya, melihat Gery yang tengah berdiri dengan santainya sembari memain-mainkan kunci mobil dengan gerakan memutar menggunakan jari telunjuknya.


"Bukankah sudah ku katakan untuk datang lebih awal, Gery." Vera memperlihatkan wajah masamnya pada sang supir pribadi.


"Ini kan baru jam tujuh kurang. Belum juga jam sembilan," ujar Gery berkilah, melawan ucapan sang manajer.


"Terus saja kamu menjawab ucapanku dengan omong kosong mu itu." Vera memutar bola matanya dengan malas, lalu kemudian kembali menutup pintu tersebut.


"Sebaiknya Madam melakukan perawatan kulit. Madam terlihat sepuluh tahun lebih tua dibandingkan dengan umur Madam saat ini," ujar Gery memperlihatkan wajah tanpa dosanya seusai mengolok-olok wanita tersebut.


"Ingin sekali rasanya aku mencubit ginjalnya," gerutu Vera.


Gery berjalan ke dapur. Di sana, ia melihat Zeline yang sedang berada di meja makan, menikmati brokoli rebus yang menjadi sarapannya kali ini.


"Sepertinya kamu sangat menikmati sarapanmu," celetuk Gery mengambil selembar roti tawar yang ada di atas meja, lalu kemudian mengoleskan selai kacang di atasnya.


"Mau tak mau, aku harus menikmatinya," balas Zeline.


Gery menarik salah satu kursi yang ada di hadapannya. Ia pun menjatuhkan bokongnya di sana. Sesaat kemudian, Vera datang. Gadis itu duduk di sebelah Gery dan mencubit tangan Gery yang sedang berada di atas meja.


"Awww ...." Gery meringis, merasakan sakit akibat perbuatan Vera.


"Jangan marah, nanti wajahmu bertambah sepuluh tahun lebih tua," tukas Vera yang membalikkan ucapan terlontar oleh Gery tadi.


Alhasil, Gery pun tak bisa berkata apa-apa dan hanya menggosok permukaan kulit yang sempat dicubit oleh Vera tadi.


Setelah menyelesaikan sarapan, kini mereka pun bersiap untuk menuju ke lokasi syuting. Hari ini adalah hari pertama Zeline kembali syuting untuk film. Dan ia pun telah mempersiapkan semuanya, menghapal naskah dengan penuh penghayatan.


Setibanya di lokasi syuting, para aktor maupun aktris pun mulai dikumpulkan di satu ruangan. Mereka mengelilingi sebuah meja berbentuk oval, sembari membacakan naskah sebelum syuting dimulai. Bisa dikatakan bahwa ini adalah tahap latihan.


Zeline dan yang lainnya membaca bagian mereka masing-masing. Hingga akhirnya, setelah selesai mereka pun langsung beristirahat sejenak sebelum melanjutkan syuting tersebut.


Zeline keluar dari ruangan. Ia hendak berjalan menuju ke mobil mencari keberadaan sang manajer. Namun, matanya membulat saat melihat sosok pria tampan yang tengah membawa buket bunga berjalan ke arahnya.



Pria itu tak lain adalah pria yang sempat mengirimkan pesan padanya dengan tawaran berkencan. Dan hingga saat ini, pesan itu pun tak kunjung dibalas oleh Zeline.


"Pak Arman," gumam Zeline pelan.



"Hai ...." Arman menyapa, pria tersebut tanpa malu-malu langsung menyodorkan bunga yang ada di tangannya pada Zeline.


"Semangat untuk hari pertama syuting. Ku harap film kali ini akan sukses," lanjut Arman kembali mengembangkan senyumnya.


"I-iya ... terima kasih," ujar Zeline sedikit kikuk. Bukan karena wanita tersebut grogi dekat dengan Arman, melainkan ia merasa tidak enak karena banyak mata memandang ke arahnya.


Beberapa aktor dan aktris yang terlibat dalam syuting tersebut melihat ke arah Zeline. Terutama gadis yang selalu iri pada Zeline, siapa lagi jika bukan Dira. Wanita yang satu ini selalu mengejar dan bahkan tak sungkan-sungkan meminta perhatian dari Arman. Namun, justru pria yang ia taksir itu malah tak memperhatikannya.


Melihat Arman membawa buket bunga untuk Zeline, membuat Dira merasa panas. Ia kesal, ditambah lagi matanya menangkap di sudut sana, terdapat gerobak kopi yang dikirimkan oleh Arman untuk Zeline, membuat kekesalan Dira semakin menjadi.


"Ada apa? Apakah aku mengganggumu?" tanya Arman melihat pandangan Zeline yang sedari tadi ke sana dan kemari.


"Bu-bukan seperti itu. Terima kasih bunganya serta gerobak kopi yang dikirimkan oleh Pak Arman," ujar Zeline.


"Hmmmm ... lagi dan lagi kamu memanggilku dengan sebutan itu. Sangat membuatku tidak nyaman," protes Arman sembari melipat kedua tangannya ke depan.


"Maksud saya Arman. Maaf ...." Zeline meralat ucapannya sembari tertunduk.


"Baiklah, aku maafkan tetapi dengan satu syarat. Jangan melarangku untuk datang menemuimu karena ajakan kencan ku kemarin tak kunjung mendapatkan jawaban. Dan sebagai gantinya ... aku akan menunjukkan padamu bahwa aku adalah pria yang cocok untukmu," papar Arman.


Zeline menanggapinya dengan tersenyum simpul. Ia sedikit menekuk bibir bawahnya, berharap agar Vera segera datang dan menyelamatkannya.


Saat ia mengedarkan pandangannya, ternyata ia menemukan Vera yang baru saja mengangkat cup kopi yang ada di tangannya sembari tersenyum sumringah. Dan tangan satunya lagi mengacungkan ibu jari, pertanda bahwa ia mendukung hal seperti ini dan tentunya itu adalah sesuatu yang menguntungkan.


Melihat hal tersebut, tentu saja Zeline serasa ingin mengumpat manajernya saat itu juga. Sang manajer selalu saja memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.


"Kalau begitu, aku permisi dulu karena harus ke kantor," ujar Arman menyingkap lengan bajunya, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Baiklah," timpal Zeline seadanya. Gadis itu menganggukkan kepala sembari tersenyum.


"Aku membawakan kamu kopi, ku harap kamu menyukainya," ucap Arman menunjuk ke arah gerobak kopi yang ada di tempat tersebut.


"Iya. Terima kasih banyak," ujar Zeline yang seolah kehabisan kata-kata.


Sesaat kemudian, Arman pun melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Wajah dinginnya kembali terlihat setelah ia berjalan menjauh dari Zeline.


Sementara di lain tempat, tepatnya di dalam mobil, Gery memperhatikan semua itu. Ia memukul setirnya berulang kali menumpahkan kekesalannya melihat pertunjukan yang ada di depan matanya.


Segera ia mencari ponselnya, lalu kemudian mendial nomor seseorang yang ada di ponselnya itu.


"Mulai sekarang, berhentilah datang dan mengirimkan bunga mawar itu padanya!!" seru Gery yang langsung memutuskan panggilan tersebut setelah mengucapkan satu kalimat itu.


Bersambung ....


Ini othor selipin visual si Zeline sama Arman dulu ya. Kira-kira menurut kalian siapa nih pemeran utama prianya?😌