
"Aku kecewa karena kamu."
Mendengar hal tersebut, seketika suasana pun menjadi hening. Zeline mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menelaah maksud dari perkataan Gery.
"Aku kecewa karena kamu tidak memesankan makanan untukku!!" ujar Gery sedikit meninggikan suara dan juga mencebikkan bibirnya.
Zeline langsung bernapas dengan lega, mengetahui makna dari ucapan yang dikatakan oleh supir pribadinya itu. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu mobil yang di buka. Vera pun masuk ke dalam kendaraan tersebut, menatap kedua orang yang ada di dalam sana secara bergantian.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Vera.
"Kenapa ekspresimu seperti itu?" pandangan Vera pun langsung mengarah ke Gery.
Zeline langsung terkekeh geli, melihat ekspresi lucu dari wajah Gery. "Dia merajuk karena kita tak memesankan makanan untuknya," ucap Zeline.
"Ya ... salah sendiri. Di ajak makan tadi, malah menolaknya dengan alasan tidak lapar," ketus Vera.
"Setidaknya bawakan makanan untukku," balas Gery.
"Sudahlah. Makan di rumah Zeline saja. Nanti pesan delivery. Aku mau istirahat!" titah Vera.
"Ck! Iya ... iya ... Dasar tukang pemaksa!" gerutu Gery berucap dengan pelan.
"Aku mendengarnya, Gery! Telingaku masih sehat," tegur Vera.
"Iya, maaf."
Gery menghidupkan mesin mobilnya, membawa kendaraan tersebut menuju ke jalanan. Masalah ucapannya tadi, ia sengaja berucap demikian karena melihat sosok Vera yang hendak masuk ke dalam mobil. Vera sangat mendukung Zeline bersama dengan Arman, akan tetapi tidak dengan Gery.
Diam-diam pria tersebut menyembunyikan suatu rahasia besar, yang entah sampai kapan ia bisa menyimpan semuanya.
Saat di perjalanan, hujan pun mulai turun. Rinai air hujan membasahi kaca mobil yang dikendarai oleh Gery. Diam-diam, ia masih mencuri pandang ke arah gadis cantik yang sedang memejamkan matanya, dengan menggunakan bantalan di leher. Gadis itu tak lain adalah Zeline.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mobil pun tiba di kediaman Zeline. Vera bangun dari tidurnya saat mobil berhenti.
"Sudah sampai?" tanya Vera seraya mengusap matanya.
"Hmmm ...," timpal Gery seadanya.
Vera menatap ke arah Zeline yang tengah terlelap. Gadis itu pun sedikit mengguncang tubuh Zeline, berniat untuk membangunkannya.
"Zeline, kita sudah sampai. Bangunlah!" ucap Vera.
Zeline perlahan membuka matanya. Ia sedikit menggeliat sembari mengusap mata. Melihat Vera yang sudah bersiap turun dari mobil, membuat gadis tersebut juga ikut turun.
"Apakah hari ini masih ada jadwal? Kalau tidak ada, aku ingin pulang saja," ucap Gery pada Vera.
"Tidak istirahat di rumah Zeline?" tanya Vera.
"Tidak usah. Lagi pula aku ada keperluan setelah ini," ujarnya.
"Halah! Sok sibuk! Ya sudah, bawa saja mobilnya. Besok harus standby di sini pagi-pagi, awas saja kalau sampai telat," ucap Vera memperingatkan pada supir pribadi tersebut.
"Iya. Kalau begitu aku pamit dulu," ujar Gery yang menerobos rintik hujan begitu saja, lalu kemudian masuk ke dalam mobil.
Zeline memperhatikan Gery, entah mengapa ia merasa jika Gery seperti orang asing baginya. Pria itu tak bersikap seperti biasanya.
"Aku merasa sikap Gery sedikit berubah," celetuk Zeline.
"Ah iya. Bunga mawar pemberian Pak Arman tadi mana?" tanya Vera yang baru saja menyadari bahwa bunga mawar tadi tertinggal.
"Aku tidak membawanya. Mungkin masih tertinggal di dalam mobil," timpal Zeline mengambil beberapa pakaian ganti di dalam lemari.
"Nanti kamu kabari Pak Arman. Bilang saja kalau bunganya sudah diterima. Aku tidak enak, nanti dia salah paham padaku dan menuduhku belum memberikan bunga itu padamu," ucap Vera.
"Iya. Nanti aku akan mengabarinya. Sekarang aku mau ganti baju dulu," ujar Zeline yang langsung mengganti bajunya ke kamar mandi.
Di waktu yang bersamaan, Gery berhenti di salah satu jalanan sepi saat hujan sudah mulai mereda. Pria itu mengeluarkan buket bunga mawar yang tertinggal, lalu kemudian memasukkannya ke dalam tong sampah.
"Maafkan aku. Akan tetapi, rasanya tidak adil jika melihat kamu berbuat curang seperti ini dengan meng-klaim bahwa dirimu lah yang mengirimkan bunga itu," ujar Gery bermonolog. Ia merasa geram menatap bunga tersebut yang sudah berada di dalam tong sampah.
Drrrttt ...
Ponsel Gery bergetar, pria itu pun langsung mengangkat panggilan tersebut. Panggilan itu tak lain adalah dari seseorang yang ia panggil ibu.
"Ada apa Bu?" tanya Gery.
Setelah mendengar suara dari seberang telepon, Gery mengernyitkan keningnya. Pria itu pun bergegas masuk kembali ke dalam mobil, dan melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi.
.....
"Ini ...." Zeline membawa dua cangkir coklat hangat, memberikan salah satunya pada Vera.
"Ku rasa, hari ini kita cukup banyak mengkonsumsi sesuatu dengan tinggi kalori," sindir Vera, akan tetapi tetap menerima coklat hangat yang diberikan oleh Zeline.
"Nanti atasi saja dengan berolahraga. Untuk hari ini, tidak apa-apa." Zeline menjatuhkan bokongnya tepat di samping Vera. Kedua wanita tersebut memperhatikan layar televisi yang ada di hadapan mereka.
"Apakah kamu sudah mengabari Pak Arman?" tanya Vera yang kembali menyinggung masalah bunga tersebut.
"Ah iya. Tunggu sebentar," ucap Zeline yang beranjak dari tempat duduknya, mengambil ponsel yang tertinggal di kamar, lalu kemudian kembali ke ruang tengah dan duduk di posisi yang semula.
Aku sudah menerima kiriman bunganya, terima kasih karena selama ini diam-diam mendukungku tanpa aku mengetahuinya.
Zeline mengetikkan kalimat tersebut pada Arman. Setelah itu, ia meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu kemudian kembali meraih mug yang berisi coklat hangat tersebut. Dan menyesapnya secara perlahan.
"Lihatlah! Ekspresi wanita itu sangat tidak natural. Dan dia selalu mencecarmu saat bertemu," ujar Vera menunjuk ke arah televisi. Keduanya melihat adegan menangis yang diperankan oleh Dira, artis yang selalu saja membenci Zeline.
"Wajar saja jika dia tersingkirkan olehmu. Memang aktingnya tidak bagus!" tambah Vera.
Zeline tersenyum, lalu kemudian kembali meletakkan mugnya ke atas meja. "Meskipun aktingnya tidak bagus, tetapi kamu selalu menonton drama yang ia perankan," celetuk Zeline.
"Ya ... aku memang sengaja melakukan hal ini. Aku ingin melihat kualitas dari dirinya dan ternyata ... ini semua tidak sebanding dengan dirimu," ucap Vera beralasan.
"Tetap saja. Meskipun begitu, kamu telah memperlihatkan dirimu bahwa kamu adalah salah satu fans dari Dira," ujar Zeline.
"Apa? Fans? Sorry dory stroberi! Aku bukanlah penggemarnya. Wanita seperti itu tak ada baik-baiknya sama sekali di mataku," ketus Vera seraya melipat kedua tangannya.
Gadis itu meraih remote yang ada di atas meja. Memilih untuk mengubah channel tv tersebut. Sementara Zeline, hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Vera.
Mata Zeline teralihkan pada layar ponselnya yang menyala. Rupanya Arman membalas pesan singkat yang ia kirimkan tadi. Namun, keningnya berkerut saat membaca kalimat yang dikirimkan oleh Arman.
Bagaimana jika kamu membalasnya dengan tawaran berkencan?
Bersambung ....