WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 9



Jam sudah menunjukkan pukul setengah Dua siang yang berarti waktunya kelas pagi pun berakhir.


"Gue cabut." seru Laxy pada yang lainnya.


"Gue balik duluan ya, Guys. Sudah di jemput sama Ayang Bebep aku di gerbang kampus." ucap Sha-sha sambil berlalu meninggalkan kelas.


"Kalau lo nggak langsung balik juga, Ze?" tanya Aretha sambil membereskan buku serta peralatan tulis miliknya.


"Oncom, jangan ngeledek deh!" kesel Zee.


Aretha tertawa puas, "Ngegas aja lo, cepet tua baru tau rasa nanti. Ayo balik." ajak Aretha pada Zee.


"Jangan dong, Tha. Nanti kasian Ka Ammar pacarannya sama Nenek-Nenek." papar Zee yang membuat mereka tertawa sambil berlalu meninggalkan kelas.


Disaat tengah bercanda dan tertawa di lorong kampus. Tanpa sengaja, Aretha menabrak tubuh kekar seorang Pria tampan di depannya. Yang sedang berjalan tergesa-gesa.


Bugkh !!!


Aretha berdiri tak seimbang, ia pun terhuyung ke belakang dan sontak langsung membuat sang pria reflek menangkap tubuh semampai Aretha, serta menarik tangannya. Hingga membuat Aretha jatuh ke dalam pelukan Pria tampan itu. Manik mata mereka bertemu, saling pandang seperkian detik. Lalu deheman Zee langsung membuat Aretha tersadar.


"Ish, modus peluk-peluk gue. Mesum ya lo?" tuduh Aretha, serta langsung mendorong dada bidang Pria itu.


"Bukannya lo yang nyaman?" Sarkas Pria itu dingin sambil berlalu meninggalkan Aretha dan Zee.


"Apa tadi? Barusan dia bilang kalau gue nyaman? Eh, yang ada lo ya yang mesum!!" maki Aretha kesal, tetapi Pria tampan itu hanya mengabaikannya. "Sial banget sih tuh Cowok, peluk-peluk gue sembarangan."


"Aretha, Aretha, itu sih bukan sial Tha. Tapi beruntung banget bisa di peluk Cowok super duper tampan begitu." ucap Zee sembari senyum-senyum tidak jelas menatap punggung Pria tadi.


"Untung aja tuh cowok nangkep lo, coba kalau dia nggak nangkep lo. Bisa-bisa tuh bok*ng lo jadi bok*ng geprek. Dan gue juga gak nyangka kalau dikampus ini banyak bertebaran Cowok-Cowok tampan, selain Kak Ammar."


"Gepeng dong Zee, bok*ng gue." sahut Aretha tertawa. "Lo kira gue itu nyamuk apa, pakai acara di tangkep segala." sambil ikut menatap punggung Pria tampan itu yang semakin menjauh.


"Udah nggak usah di liatin begitu juga kali, udah jauh juga orangnya. Tapi ya Tha, tuh Cowok kalau di lihat-lihat ganteng banget tau." Kata Zee, sambil menarik tangan Aretha untuk kembali berjalan. "Kalau kata bokap gue, Perfecto. Dari ujung kaki sampai ujung kepala itu gak ada cacatnya sama sekali."


"Kalau sama Kak Ammar ganteng mana?" Tanya Aretha.


"Gantengan dia sih, Tha. Gue gak muna lah yah. Tapi cowok gue juga gak kalah ganteng kok dari Ka Azura.


"Masa?"


"Iya lah, malahan nih ya. Kalau cowok gue, kapan pun gue mau peluk bisa gue peluk bebas, sebebas-bebasnya. Gue cium sampai gantengnya luntur pun gak akan masalah." Tutur Zee sambil menghayalkan apa yang barusan dia bilang.


Aretha tertawa kencang, "Lo yakin masih tetap mau? Habis di cium lo langsung luntur. Terus, langsung wajahnya berubah jelek. Siapa juga yang mau pacaran sama cowok muka luntur begitu. Gue sih ogah, apalagi tuh cowok tau kalau habis di cium lo langsung bisa jelek. Yang ada itu cowok gak akan mau sama lo, kunyukk." menoyor kening Zee sambil berlari menuju parkiran mobil.


"Yeeaa, sial*n lo ya." Sungut Zee, sambil berlari mengejar Aretha ke parkiran mobil.


Sesampainya mereka berdua di dalam mobil, Aretha langsung menanyakan apa yang ingin ia tanyakan. "By the way, Zee. Kok lo tau siapa nama Cowok tadi?"


"Ya ampun Aretha, siapa coba yang gak tau Ka Azura."


"Gue nggak tau."


"Lo apa sih yang tau, perasaan banyak kaga taunya." Dumel Zee. "Cowok tadi itu, namanya Azura Eglar Albareesh. Salah satu cowok ganteng plus keren di kampus ini. Cowok populer yang banyak di gandrungi para kaum hawa dan memiliki pancaran pesona yang begitu luar biasa. Dia itu Ketua BEM kita, banyak penghargaan-penghargaan yang sudah di raihnya. Udah gitu kepintaran ya, beh. Jangan di ragukan lagi. IQ nya di atas rata-rata. Rasanya cuman lo doang deh Tha yang gak tau."


"Really??"


"Ya ampun Gusti, masa iya gue bohong si, Tha. Masa lo gak percaya banget sama gue."


"Bukan gue nggak percaya sama lo Zee. Justru gue yang gak percaya kalau dia itu ketua BEM kita."


"Tapi kenyataannya begitu."


"Wajahnya sih oke lah yah, ganteng nyaris sempurna. Tapi tingkat kesombongannya hampir luar biasa tinggi, Zee. Gue gak percaya lah kalau dia ketua BEM. Lagian bukannya Mahasiswa Pascasarjana itu udah nggak ada yang tergabung sebagai anggota BEM ya?"


"Masa jabatannya Dia sebenernya udah habis. Tapi kaga tau kenapa, nggak ada satupun mahasiswa yang mau milih kandidat lain untuk menggantikan posisinya. Jadi untuk sementara waktu dia masih berkecimpung sebagai ketua BEM kita." Jelas Zee panjang lebar. "Dan dia dingin itu ada sebabnya Tha. Yang gue denger dari Ka Ammar, kalau dia itu di selingkuhin sama pacarnya." jawab Zee berbisik. seolah-olah takut jika ada yang mendengarkan perkataannya.


"Setuju sih gue Tha. Tapi rupa, kemewahan itu nggak menjamin kan sebuah kesetiaan. Yang menjaminkan kesetiaan adalah sebuah komitmen, keterbukaan, komunikasi yang berjalan baik, dan terutama adalah sebuah kejujuran. Tapi jika salah satu dari itu semua tidak ada yang kita bangun bersama pasangan kita. Feedback yang kita dapat. Yah, hanya sebuah rasa sakit penghianatan."


"Uluh, uluh, sahabat gue semenjak pacaran sama King of Bijaksana jadi ikut nular Bijaksananya Ka Ammar ke lo ya Zee?" ucap Aretha di iringi tawa ledeknya.


"Ye, lo juga dari tadi gue dengar terus menerus memuji Ka Azura." tak mau kalah.


"Dih, siapa yang muji dia." elak Aretha.


"Terus apa dong kalau bukan pujian. Udah berapa kali yah lo mengatakan bahwa Ka Azura itu nyaris sempurna."


"Ih Zee mah." rengek Aretha.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak bersama. Lalu pergi meninggalkan kampus.


*******


Ruang Kesekretariatan.


"Nah, nih dia dateng juga. Lama banget sih Bing." kata Zayn.


"Ada apa?" tanya Azura.


"Ini" Zayn memberikan selembar kertas yang tadi di titipkan oleh Pak Harto.


"Pak Harto pingin lo mempertimbangkan lagi acara ini dan meminta persetujuan Daddy Pierre sebagai Donatur acara keakraban sekaligus Sponsor event kita nantinya." Kata Zayn.


"Baiklah."


"Kenapa sama muka lo, Nge? Kayanya bad mood banget." seru Ammar yang sejak tadi memperhatikan raut wajahnya Azura.


"Capek banget gue, Men. Ditambah tadi gue ketemu cewek super duper nyebelin. Makin bikin mood gue gak karuan begini."


"Siapa?"


"Gak tau."


"Gue rasa bukan itu alasan sebenarnya, gue rasa ada sesuatu yang lain yang bikin lo jadi bad mood gini!"


"Apa?"


"Apa karena Sean?" tiba-tiba Zayn serius bertanya.


"Sotoy."


"Kenapa masih lo pikirin sih? Kenapa nggak lo lupain aja cewek modelan jal*ng gitu. Emangnya lo gak cape apa berada dalam bayangnya terus. Ayolah Nge, move on. Lo itu bisa dapet cewek mana aja. Kenapa lo harus terus menutup diri, sedangkan dia disana udah gak setia." ujar Ammar tepat sasaran seperti menohok jantung Azura.


"Bener tuh Bing, sebrengsek-brengseknya gue kalau dalam masalah kesetiaan jangan di ragukan lagi. Gue akan setia selama dia setia, meskipun jarak yang teramat jauh sekalipun gue pasti akan setia. Lo itu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Sean si*lan itu. Buktinya sampai sekarang dia masih belum hubungi lo kan? Sampai sekarang juga dia nggak ada menunjukkan rasa penyesalannya."


"Bener tuh." Ammar.


"Bukan kita mau menjerumuskan lo Bing, tapi gue rasa ada baiknya lo buka hati lo lagi. Biar lo bisa kasih kesempatan hati lo merasakan kebahagiaan, terutama lo bisa melupakan dia." Zayn kembali berkata dan menepuk pundak Zura pelan.


"Bener tuh Men, lo coba buka hubungan baru yang lebih baik." seru Zeo ikut menimpali.


"Tumben Waras lo, Bing." sahut Zayn.


Mereka semua tidak mengetahui hal yang sebenarnya tentang hati Azura. Azura sudah sedikit bisa melupakan  Sean, terlebih lagi dirinya yang sangat begitu jijik melihat keadaan Sean yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya pada sembarang lelaki. Bagaimana pun Azura masih butuh proses untuk bisa sepenuhnya moveon dan menata hatinya lagi bukan?


"Stop Men, bahas yang lain." ketus Azura datar tanpa banyak bicara. Azura langsung membuka laptopnya dan mengirim beberapa file ke surel Email Abangnya, Arash. Dirinya tidak ingin membahas lagi apapun tentang Sean yang sudah benar-benar menghianati kepercayaannya itu. Bisa-bisa nanti dia gamon (gagal moveon).


Sahabat-sahabatnya pun tidak meneruskan percakapan mereka lagi karena mereka tahu betul bagaimana pria itu jika sudah enggan membicarakan tentang topik pembicaraan mereka saat ini.