
Matahari sudah berada di puncaknya. Sinar yang masuk kedalam relung celah jendela kamar kiat menyilaukan sang pemilik Apartemen mewah di lantai tertinggi P'avenue Park. Namun justru membuat sang Pria tampan itu enggan terbangun.
Drt...
Drt...
Ammar is calling...📞
Berkali-kali layar pipih itu berbunyi tetapi tidak diangkat oleh sang pemilik. Lebih tepatnya sengaja tidak di angkat.
Ting... Tong... Ting... Tong...
Justru kini bel Apartemen pun ikut berbunyi, dengan rasa terpaksa dan dengan jalan gontai khas bangun tidur. Azura pun membuka pintu untuk dua racun itu masuk ketika melihat wajah mereka dari layar pipih kecil untuk melihat siapa yang datang.
"Lama banget sih Bing bukanya." ucap Zayn kesal, lalu ia langsung mendorong tubuh Azura untuk bisa masuk kedalam Apartemen itu bersama Zeo. Pasalnya Azura menghalangi jalannya.
"Woi Men, jangan tidur lagi dong lo." teriak Zeo yang melihat kembali Azura menjatuhkan dirinya di atas kasur king size miliknya dengan mata terpejam.
"Ck, ini week end. Harus gue manfaatin untuk berleha-leha. Lagian ngapain juga sih kalian pada kemari?" tanya Zura yang kesal.
"Lo lupa kalau siang ini kita mau ngebahas acara Keakraban dan amal. Sekalian Ammar ngajakin kita kongkow di mall XX, Jadi rapat koordinasi acara kemah kampusnya disana. Lo juga di telponin dari tadi malah gak diangkat-angkat, akhirnya kita yang kena imbasnya di suruh ke Apartemen lo." papar Zeo kesal.
Zura hanya tersenyum kecil melihat sahabatnya itu kesal karena harus membangunkan dirinya jauh-jauh.
"Sial*n banget sih lo, Bing. Senyum lo itu terlihat seperti sedang mengejek. Rasanya lo itu seneng banget, udah kaya dapat lotre kalau liat gue menderita." pekik Zeo
"Cepat lah Bing, gue nggak mau si Tuan Takur yang kejam itu kembali menelpon dengan mengintimidasi. Gue gak mau jadi santapannya Beruang madu." lanjut Zayn.
"Oke," Azura kini bangkit dan berlalu meninggalkan mereka berdua untuk mandi. Azura akhirnya mengalah karena cukup sedikit terhibur dengan kekesalan duo racun.
Selang beberapa menit kemudian mobil Azura dan motor Zeo masing-masing telah sampai di Basement parkiran mall. Karena jarak dari P'avenue park dengan mall XX tidak terlalu jauh.
"Apakah si Tuan Takur renkarnasi Beruang madu itu sudah sampai?" tanya Azura santai.
"Kenapa lo jadi ikutan manggil si Ammar dengan panggilan Tuan Takur?" protes Zayn yang tak terima.
Hanya gedikan bahu yang Azura berikan dan berlalu ke arah toilet.
"Mau kemana lo Bing?" tanya Zeo.
"Toilet." jawab Azura sambil berlalu meninggalkan Zeo.
Dan sampai saat di tepi lorong toilet. Tanpa sengaja Azura bertabrakan dengan seseorang.
Bugkh !!!
"Auww." Melirik tangannya yang merah akibat berciuman dengan lantai.
"LO!!" teriaknya lagi, sambil menunjuk wajah Azura. "Lo itu kalau jalan, hati-hati bisa gak sih? Selalu nubruk-nubruk aja. Itu mata buta atau gimana?" seru Aretha sambil berusaha bangkit. "Tuh lo liat nih tangan gue merah begini, perih tau gak." kembali Aretha berseru yang memperlihatkan tangannya. Namun Azura hanya menatapnya datar.
"****, minta maaf kek gitu. Ini malah kaya patung pancoran, diem aja. Eh tunggu, rasanya kok gue kaya dejavu ya? Tapi lokasinya gak disini." ucap Aretha yang sedang berpikir.
"MANJA, harus banget ya gue minta maaf. Oh ya dan satu lagi, kalau lo gak bisa berjalan dengan benar jangan terlalu banyak bergaya. Lo gak lihat tubuh kurus lo itu tidak sebanding dengan tubuh gue." ucap Azura datar dan berlalu pergi.
Aretha semakin naik pitam mendengar perkataan Azura. Aretha kini berjalan menyusul Azura dan menarik tangan Azura. "Lo itu ya, emang gak ada akhlak. Udah nabrak gue, gak minta maaf. Terus sekarang, lo main pergi gitu aja. Emang sinting lo. " Seru kencang Aretha membuat seluruh mata yang ada disekitar menatapnya.
Azura hanya menatap wajah Aretha datar dan tersenyum menyeringai serta dengan santainya. Azura berkata "TERUS??"
"Wah, wah, wah, emang bener-bener gak ada akhlak dan etika lo ya. Percuma tampan, keren, tapi gak tau sopan santun."
"Terus mau lo apa?" memajukan wajahnya ke wajah Aretha dan kembali menyeringai.
"Gue mau, lo minta maaf sekarang juga!" Aretha berkata dengan intonasi yang cukup kencang.
"Lo itu teriak-teriak mulu dari tadi, udah seperti Mommy gue tau gak."
"Minta maaf." kembali Aretha berucap.
"GAK MAU." langsung menyentil kening Aretha dan berlalu pergi.
"Dasar cowok sialan, sinting." maki Aretha kesal, disaat yang bersamaan Zee pun menepuk pundak Aretha.
"Ada apa Tha? Kok lo marah-marah. Tuh liat, semua orang memperhatikan lo. Apa lo kagak malu?"
"Bodo, gue gak perduli. Ada cowok sinting ngajakin gue ribut." kata Aretha sambil menarik tangan Zee ke arah resto dan Zee hanya menggelengkan kepala.
"Maaf Yank, aku telat." ucap Zee pada Ammar karena baru sampai ke resto setelah dari toilet.
"Gak kok Yank, sini duduk." Ammar menarik bangku di sampingnya.
"Oh, pantesan lo Zee. tumben-tumbenan ke Apartemen gue di weekend begini, rupanya ada udang di balik bakwan. Terus sekarang hanya Zee saja yang Kak Ammar beri duduk?" cibir Aretha. "Mentang-mentang dia adalah kekasih Kakak dan gue hanya lo abaikan." rajuk Aretha dengan bibir cemberutnya.
Ammar hanya bisa tertawa mendengar protesan Aretha. "Nggak usah ngambek gitu dong. Yaudah, duduk dekat Ka Zeo." menunjuk bangku yang berada di sebelah Zeo.
"Sedang apa kalian berada di sini? Apakah ada acara?" tanya Aretha.
"Yang ada, justru kita yang balik bertanya kepada anda. Sedang apa anda disini?" jawab Azura yang datang dari arah belakang.
"Ish, gue cuma di ajak Zee. Gak tau juga ada kalian disini. Lagian kalau gue disini? Ada masalah apa lo sama gue? Gue juga gak akan ngerepotin lo, kok." balas Aretha ngegas tanpa tahu itu suara siapa.
"Kami hanya berkumpul bersama sekaligus rapat koordinasi acara Keakraban. Kamu banyak bicara ya? Seperti donal bebek." sambung Zayn.
"Enak saja, kalian itu semuanya memang benar-benar sangat mirip. Sama-sama menyebalkan." protes Aretha sambil asik melihat buku menu.
"Oh ya? Apa kabarnya dengan mu, Miss ì„±ê°€ì‹ (Seong-gasin\= menjengkelkan)?" ketus Azura.
"Yeaaa, enak aja lo bilang gue menyebalkan." ucap Aretha tanpa melihat ke arah suara itu lagi, fokusnya masih pada menu yang di lihatnya.
"Ka Ammar, pokoknya Aretha minta di traktir es cream strawberry dan udang tepung asam man…" ucapan Aretha terhenti ketika kedua netranya menatap Lelaki paling menyebalkan menurutnya, tengah berada duduk di hadapannya.
"Lo, ngapain lo disini? Ka, ngapain cowok tengil ini ada di sini. Memangnya kakak kenal ini cowok siapa?" tanya Aretha tanpa jeda.
"Berisik lo!" ketus Azura. Sedangkan yang lain hanya menatap ke arah mereka berdua tanpa ada satupun yang berbicara. Mereka merasa ada sesuatu yang aneh, apa Aretha tidak mengetahui kalau Pria yang ada di hadapannya itu adalah anak dari pemilik kampus sekaligus ketua BEM. terus untuk Azura sendiri kenapa dengan wanita di hadapannya bisa begitu sangat banyak bicara meskipun nadanya cukup ketus dan dingin.
"Nyebelin, sudah di hari pertama gue masuk kampus lo tabrak dan sekarang lo tabrak plus jitak kening gue. Apa bukan lo yang menyebalkan? Harusnya lo itu minta maaf, bukan malah justru mengumpati gue." kesal Aretha.
Azura hanya terdiam dan menatap wajah Aretha dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Oh, jadi cewek yang lo bilang rese itu. Ternyata, Aretha sepupu gue??"
"What? Lo bilang apa tadi, Sepupu?" tanya Azura kaget.
"Iya, dia Sepupu gue. Anak pertamanya Bunda Alona yang gue bilang waktu itu sama kalian, kalau Bunda Alona mau jemput anaknya ke Bandara Soekarno Hatta."
"Ini anaknya?" Tanya Azura.
"Iya, yang baru pulang dari Paris. Bukannya hari itu lo juga baru sampai di Paris?"
"Apa??" ketus Aretha masih belum menyadari penuh arti tatapan Azura.
"Gue rasa kalian itu serasi deh, mungkin dari yang Tom and Jerry bisa jadi Mini dan Mickey." ledek Zeo.
"Gue jadi Mini dan dia Mickey? Dih ogah." Sarkas Aretha kesal.
"Sudah lah Bing, jangan lo ambil hati perkataannya." sanggah Zayn dan menepuk pundak Azura.
"Sh*ttt!!" Aretha berdecak kesal sambil meminum jus strawberry yang ada di depannya.
"Tuh kan, kalian berdecak kesalnya aja samaan. Selera makanan dan minuman kalian pun sama. Kalian bisa saja berbagi loh." ucap Zee.
"Ogah."
"Kaga." kompak Aretha dan Azura.
"Awas, nanti bucin lagi. Jangan terlalu benci, benci itu beda tipis sama cinta. Awalnya benci lama-lama?" ucap Ammar.
"SARANGE." teriak Zee, Zeo dan Zayn. Lalu diiringi dengan tawa semuanya.
"Wih, kompak sekali kalian." Aretha cemberut kesel.
Tanpa memperdulikan Aretha lagi, kini Alricks cs memulai meeting acara Keakraban dari yang mulai persiapan keberangkatan, susunan acara konsumsi, dll dengan santai, tawa, canda, namun sesekali serius.
"Akhirnya, selesai juga. Jadi kalian setuju ya? Tinggal acc Daddy Pierre." Zeo membereskan berkas-berkas mereka dan laptopnya.
"Daddy Pierre? Maksud ka Zeo, Tuan Pierre yang Kakak maksud itu tuan Made Pierre Eglar Albareesh pebisnis terkaya itu?"
"Iya."
"Kok, harus minta ACC Tuan Pierre? Hubungannya apa coba Kak sama kampus kita?" ucap Aretha binggung.
Zeo tertawa remeh, "Ya ampun Aretha, lo itu kan anaknya Bunda Alona. D,,,osen killernya Universitas Pierre. Masa lo beneran gak tau pemilik kampus kita?" tanya Zeo.
"Serius Ka, Aretha beneran gak tau."
"Ya sudah kalau gitu, lo bisa tanya langsung aja sama anaknya Daddy Pierre sekarang. Tuh, yang lagi asik nikmatin cake strawberrynya." tunjuk Zeo pada Azura.
"Maksud kak Zeo, Ka Azura?" Tanya Aretha binggung.
"Iya."
Aretha langsung tertawa. "Ka Zeo mah, kalau mau becandain gue tuh yang beneran sedikit. Masa Ka Azura di bilang anaknya Tuan Pierre."
Pandangan netra semuanya langsung tertuju pada Aretha.
"Kok, pada ngeliatin gue begitu sih. Emangnya ada yang salah ya sama ucapan gue?"
"Menurut lo?" jawab Claudia jutek.
"Upss." Aretha langsung menutup mulutnya ketika melihat dan membaca artikel pemilik kampus internasional Jakarta yang ditunjukkan oleh Zee.
"Jadi, pemilik kampus kita itu Tuan Pierre dan Kak Azura beneran putra kedua dari keluarga terpandang itu?" Aretha langsung menunduk malu akan kebodohannya itu, yang sudah lancang menertawakan Azura.
"Maaf Ka." ucap Aretha, namun Azura hanya asik dengan cake dan milkshake strawberrynya.
"Ayo Yank, aku balik malam ini gak kekost'an." sanggah Zee mengalihkan Aretha yang sedang menahan malu.
"Terus lo balik kemana? Jangan bilang lo mau balik ke bogor? Ini gue balik sama siapa oncom?"
"Sama siapa ya?! Nggak mungkin kan kalau Ka Ammar nganterin lo dulu baru balik nganterin gue. Yang ada malahan muter dan mau sampai jam berapa gue." jelas Zee.
"Sama Zeo aja." tunjuk Ammar pada Zeo.
"Lah gue naik motor berdua Zayn, Bing."
"Terus, Ka Claudia pulang sama siapa kalau Ka Zayn naik motor sama Kak Zeo?"
"Gue bareng temen gue, dia udah di depan Mall."
Lalu mereka semua menatap ke arah Azura yang baru saja keluar resto.
"Nih pahlawan lo, ya kan Bing?"
"Em." Azura mengernyitkan dahi bingung.
"Gak, gue gak mau. Nanti gue diapa-apain lagi." padahal sesungguhnya Aretha masih sangat begitu malu.
"Ye, mending lo diapa-apain sama Ka Azura, kan ketahuan orangnya siapa. Jadi bisa minta tanggung jawab. Lah kalau lo naik taxi terus diapa-apain sama orang yang gak di kenal terus lo minta tanggung jawabnya sama siapa?" sarkas Zee menakuti Aretha.
"Nah, bener banget tuh. Sudah gih sana sama Azura aja di anterinnya." Ammar menimpali.
"Tapi?"
"Udah gak usah tapi-tapian. Sana tuh orangnya udah jalan."
"Ish," berjalan ke arah Azura.
"Gue titip Aretha, anterin dia balik. Awas lo macam-macam." sarkas Ammar. "Gue duluan ya." menepuk pundak Azura.
"Ngapain masih disini? Bukannya balik, yang lain dah pada balik." Azura berpura-pura tidak mengerti.
"Ka, gue..." Aretha ragu untuk berkata.
"Apa?"
"Balik bareng lo ya Ka, gue takut kalau gue balik naik taxi."
"No, no ride for you! (Tidak, tidak ada tumpangan untukmu!)" ucap Azura penuh penekanan pada perkataannya.
"Ishh, stingy." (Ishh, pelit.) berbalik dan ingin pergi.
Namun tangan Aretha langsung di tarik oleh Azura.
"Ayo."
Aretha berhenti sedetik melihat tangannya yang di gandeng Azura.
"Kenapa? Lo berubah pikiran mau naik taxi aja?"
"Emm, gak kok Ka."
"Ya sudah, ayo tunggu apa lagi?"
"Iya Kak," Aretha langsung berjalan mengekori Azura menuju parkiran mall.