WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 40



"Nih menu spesial buat kamu tha," Ka Tiara menyodorkan satu buah croffle dengan topping strawberry dan milkshake strawberry kesukaan Aretha.


Dilanjut menaruh pesanan Zee. Satu buah waffel topping es cream vanilla dan guyuran blueberry, serta es mojito non alkohol.


"Boleh kakak gabung?"


"Boleh dong ka, udah lama juga kan kita gak ngobrol." Aretha mempersilahkan ka Tiara untuk gabung bersama mereka.


"Terimakasih" lalu ia menarik satu kursi dibelakang nya untuk di taruh di dekat meja yang Aretha duduki bersama Zee.


"Ka, perkenalkan ini Zee Sahabat Aretha. Dan ini ka Tiara kakak iparnya ka Azura." terang Aretha pada keduanya.


"Aku Zee," ucap Zee sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Tiara." jawab Tiara menyambut baik uluran tangan dari Zee.


"Seperti nya, aku pernah melihat mu beberapa kali. Tapi dimana ya." tanya ka Tiara sambil berfikir. "Oh ya, di rumah Azura bersama Ammar." ucapnya lagi ketika sudah mengingat.


"Iya ka, orang Zee ini kekasih nya ka Ammar." jelas Aretha. Lalu Zee hanya tersenyum.


"Oh, pantas." ka Tiara menganggukkan kepala tanda mengerti. "Silahkan sambil di Cicipi." serunya, mempersilahkan mereka untuk mencicipi hidangan di meja mereka. "Aretha terimakasih ya sudah membantu Azura untuk pulang kembali ke rumah. Meskipun ia masih tinggal di apartemen tetapi setidaknya ia sudah mau untuk pulang dan hubungan nya dengan sang Mommy pun sudah kembali baik." ucap Tiara tulus.


"Kakak tidak perlu berterima kasih pada Aretha ka,vka Azura sendiri yang sudah menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya."


"Tapi, semua itu berkat bantuan kamu. Sudah berapa lama aku, ka Arash dan adiknya Azura pun memohon. Tetapi no respon, ia lebih memilih menghindar."


"Aku tau sebenarnya ka Azura itu adalah pria baik berhati lembut. Ia tidak tega memperlakukan kalian seperti ini terutama pada Ibunya. Hanya saja mungkin ada alasan ia seperti itu ka." Aretha mengusap tangan Tiara.


"Kamu benar Aretha, ada alasan mengapa ia menjadi seperti itu. Ia merasa mungkin tidak ada satu orang pun yang mengerti perasaan nya. Tapi ia salah, karena kami memikirkan perasaan nya. Maka kami menentang keputusan nya untuk berhubungan dengan mantan kekasih nya. Ia hanya menganggap Azura adalah tambang emas untuk nya. Melihat betapa baik nya Azura terhadap wanita itu," Tiara menarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Maka kami memutuskan untuk memberitahu kan kekasih nya terdahulu telah berkhianat, namun Azura tidak mempercayai kami. Bukan hanya rasa kecewa itu yang membuat nya marah. Ada satu hal lain yang mungkin menjadi pemicu ia untuk menghindar dan memutuskan pergi."


"Tapi yang penting sekarang ka Azura nya sudah mau pulang kan ka.?"


"Iya, sekarang ia ada di rumah bersama Ammar. Kalau weekend begini pasti dia pulang kerumah."


"Ammar ada di rumah ka Azura. Kok dia gak balas Whats*pp aku sih." rengek Zee.


"Dia lagi tidur Zee, nggak tau mereka semalam dari mana. Sampai-sampai habis makan langsung pada tepar di depan ruang tv." Terdengar suara serak dari arah belakang Tiara.


"Hay, sayang. Kok aku gak dengar ada orang masuk."


"Bagaimana kamu mau dengar, orang kamu nya aja lagi serius mengobrol." ia tersenyum manis menatap wajah istri nya yang menengok mendongak.


"Oh iya mas, ini Aretha kekasih nya Azura yang waktu itu sempat aku ceritakan." Tiara memperkenalkan Aretha pada suami nya.


Aretha menggeleng, tak setuju bahwa ia adalah kekasih nya Azura. "Bu..bukan ka.., aku bukan kekasih ka Azura. Aku hanya sepupunya ka Ammar sekaligus adik kelas ka Azura." Aretha meralat cepat ucapan ka Tiara.


"Tidak usah gugup Aretha. Mas Arash tidak akan memarahi mu kalau memang benar kalian itu pacaran."


"Tapi, itu tidak benar ka." Aretha menghembuskan nafas nya kasar.


Mereka bertiga tertawa melihat tingkah laku Aretha yang terlihat begitu sangat manis.


"Kalau pun ia, aku setuju. Aku rasa kamu memang anak yang baik. Terlebih lagi kamu anak dari Om Arham dan Tante Alona. Keturunan mereka pasti akan menjaga Attitude dan Nama baik keluarga besar mereka. Lagi pula keluarga besar ku mengenal baik keluarga mu. Aku akan bilang ke Dad Pierre untuk menjodohkan mu dengan Azura saja, bagaimana Aretha?" Arash menggodanya.


"Ah ti..tidak ka." gugup Aretha.


Mereka bertiga tertawa kembali.


"Tuh, udah iya in aja Tha. Sudah dapat lampu hijau dari dua orang." Zee ikut menggoda Aretha.


"Zee." pekik Aretha menatap hunus pada Zee.


"Sudah, sudah, Aku tinggal dulu ya, gak apa-apa kan.?" ujar ka Tiara yang melihat segerombolan orang berdatangan memenuhi sudut tempat ini.


"Iya, kak."


"Ayo mas, keruangan ku. Kamu tunggu disana saja. Kasihan Aretha kalau kamu tetap di sini. Pasti kamu terus menggodanya lagi." ajak nya pada Arash.


"Nikmati makanan kalian, jika kalian masih ingin pesan. Silahkan kalian pesan saja pada karyawan ka Tiara, ya." ujar ka Arash sebelum meninggalkan meja mereka.


Mata Aretha mengikuti setiap langkah ka Tiara, tersenyum ramah menyambut serta menyodorkan buku menu. Menjelaskan makanan best seller yang terdapat di caffe miliknya, lalu mencatat dan berjalan menuju pantry setelah pesanan mereka tercatat semua.


"Gue gak nyangka deh Zee, sama ka Tiara. Padahal istri konglomerat. Tapi masih aja bersikap ramah dan sesederhana itu. Ka Arash juga, yang biasa gue lihat di majalah dan televisi tampak memukau tampilan nya dengan berbagai setelan jas branded membalut tubuh nya. Ini malah gue lihat langsung dengan stelan kaos oblong putih dan celana Chino sedengkul. Sederhana banget tapi gak ngurangin kharisma nya dia. Agkh terpesona gue."


"Lebih terpesona lihat Abang nya apa adiknya?"


"Lebih terpesona sama yang ini. Kalau sama Abang nya ntar gue bisa di jambak istri nya." ucap Aretha tanpa sadar.


Zee cekikikan, melihat sahabat nya yang tanpa sengaja berkata jujur.


Pria yang biasa tampil dengan kaos atau Hoodie, kini terlihat begitu berbeda. Ia mengenakan kemeja krem dengan dua kancing atas terbuka yang dimasukkan ke dalam celana hitam bahan, serta kacamata berlist silver bertengger pas di hidung mancung nya dan juga rambut dengan tatanan berbeda. Sepertinya sehabis mandi ia langsung saja ke Caffe. Mengingat jarak Caffe dan kompleks rumah nya tak begitu terlalu jauh.


"Tapi bagaimana mereka tahu?"


Jawaban nya, tentu saja dari Zee. Sebelum nya Zee Whats*pp Ammar dan memberitahukan kalau mereka sedang di sini.


"Hay beb. "Zee tersenyum menyambut kedatangan kekasih nya.


"Maaf ya lama, aku harus nunggu pangeran mandi dulu. Mandinya ngalahin putri keraton." adu Ammar pada Zee sambil mencium pipi Zee.


"Uuchh, kasihan."


Cih, Aretha dan Azura berdecih.


"Sreekkk"


Ammar menarik kursi yang tadi di duduki Arash sedang kan Azura menduduki bangku yang sudah di duduki Tiara sebelum nya.


"Rianna." panggil Azura pada salah satu karyawan Tiara.


"Eh, mas Azura sama mas Ammar. Mau pesen apa.?" tanya nya sopan.


"Biasa ya, cheese strawberry dan milkshake strawberry."bjawabnya. "Lo apa men?" kini Azura bertanya kepada Ammar.


"Gue pesen klappertaart dan lemon tea."


"Oke, ada lagi.?"


"Gak itu aja dulu."


"Baik mas, saya permisi." ucapnya berlalu pergi.


Drt..drt..


"Suara getar ponsel Ammar."


Drt..drt...


"Siapa men?"


"Tumben nih anak telepon, biasanya weekend gak akan telepon."


"Angkat aja dulu siapa tau penting kak.!" saran Aretha.


"Dimana lo Bing? Gue kerumah lo, lo gak ada. Gue ke apartemen si Zura juga gak ada tuh anak. Gue ke rumah si Zeo, bibinya bilang, dia gak balik dari malam." cerocos Zayn.


"Tumben banget lo nyamperin anak-anak di weekend begini.? Lo gak lagi ada masalah kan sama Claudia.?" cecar Ammar.


"Gue lagi kalut Bing ,udah tiga hari gue gak nemuin dia."


"Bukan nya dia sakit?"


"Panjang ceritanya Men. Lo dimana?biar gue nyamperin lo."


"Gue lagi sama Zura di tempat biasa."


"Caffe ka Tiara?" sangah nya yang paham. Mereka memang sering kumpul di sana terlebih lagi selera lidah mereka sesuai dengan makanan yang Tiara sajikan.


"Ya, gue tunggu lo."


Ammar segera memutuskan panggilan telepon nya setelah mendengar jawaban ya dari Zayn.


"Kenapa?" Azura.


"Entah lah, gue rasa dia lagi ribut sama Clau."


sementara Aretha dan Zee hanya menjadi pendengar yang baik.