
"Tha, lo dihukum apa sama si Beruang kutub?" Zee sudah mulai kepo bertanya, sambil menarik tangan Aretha agar segera duduk di bangkunya.
"Iya, lo gak di hukum yang macem-macem kan, Tha?" Sha-sha ikut merapat.
"Cepet dong Aretha lo ngomong kalau lo nggak di hukum yang macem-macem. Kalau dia sampai macem-macem sama lo, gue rela pasang badan buat ngehajar dia." ucap Laxy menggebu-gebu.
"Emangnya lo berani sama si Beruang kutub?" tanya Zee.
"Mm, nggak!!!" tersenyum,
"HUUU..." teriak Zee dan Sha-sha berbarengan.
"Tha, Aretha. Lo kenapa dah, lo kesambet apaan dah? Kok abis dari ruang kesekretariatan lo jadi bengong gini. Apa yang Beruang kutub lakuin sama lo sampai lo jadi kaya orang kesambet?!"
"Emm, nggak kok. Nggak apa-apa, gue gak dihukum yang macem-macem. Gue cuman di suruh minta maaf aja." jawab Aretha berbohong.
"Really?" tanya mereka berbarengan.
"Ya, kalian tenang aja sih. Tadi gue bengong itu karena gue ngerasain kepala gue agak pusing, sedikit."
Setelah belajar beberapa materi dari berbagai dosen yang mengajar mapel hari ini, kini waktunya mereka untuk pulang.
"Gue balik duluan ya, sepertinya Ka Ammar udah nungguin di parkiran kampus." dengan cepat Zee berlari keluar kelas.
"Tumben banget dia buru-buru begitu." ucap Sha-sha.
"Sorry Girls gue cabut duluan, bonyok gue minta untuk gue jemput mereka kebandara." Kini Galaxy yang berlalu pergi.
"Lo nggak buru-buru buat pulang Sha? Biasanya Ayang lo udah jemput di parkiran?!"
"Gak Tha, mulai hari ini dia nggak akan lagi jemput gue."
"Kenapa?"
"Karena gue udah berakhir sama dia." Sha-sha berkata dengan nada yang sedikit lesu.
"Berakhir? Maksud lo putus??"
"Iya, gue putus."
"Terus hari ini lo balik sama siapa?"
"Gue hari ini balik sama tukang ojek online." jawab Sha-sha jujur, bukan maksud untuk berbohong dan menutupi kalau dia sekarang sudah menjadi kekasih Zeo. Akan tetapi Sha-sha belum siap mengatakan yang sebenarnya kalau ia sekarang sudah berpacaran dengan Zeo.
"Yaudah hari ini lo balik sama gue aja, ntar gue anterin lo sampai rumah. Tapi?"
"Tapi apa, Tha?"
"Tapi kita ngemall sebentar yuk, ada sesuatu yang pingin gue beli. Nggak apa-apa kan?"
"Kuy lah, dari pada gue sendirian hari ini." Mereka berlalu meninggalkan kelas.
Setelah beberapa menit perjalanan, kini Aretha dan Zee tengah berada disalah satu Mall terbesar di Jakarta.
Bugk!!
"Sorry." Kata Wanita tersebut tanpa mau menoleh bahkan berhenti. Sedangkan Aretha memberhentikan langkahnya dan menatap punggung Gadis itu. "Nggak niat banget minta maafnya."
"Mungkin lagi buru-buru. Kita mau ke mana dulu nih, Tha??"
"Kita ke toko baju "ZR" terlebih dahulu, setelah itu kita makan dan menonton film." jawab Aretha.
"Ok."
Mereka berdua berjalan kearah toko ZR sambil mengobrol, sesekali bercanda dan tertawa bersama. Sedangkan disisi belakang mereka, tanpa sadar ada seorang wanita yang tengah memperhatikan dan mengikuti kegiatan mereka selama di Mall tersebut.
"Lo pilih aja baju yang lo mau. Biar nanti gue yang akan bayarin belanjaan lo."
"Nggak usah, Tha. Biar gue bayar sendiri aja."
"Ok Aretha cantik." Kata Sha-sha, lalu tersenyum manis.
Aretha berjalan kearah ruang ganti ingin mencoba beberapa baju pilihannya kedalam kamar ganti, sebelum menutup pintu kamar ganti, ada sebuah tangan yang menghalanginya.
"Permisi, bisa kita bicara sebentar." ucap Wanita tersebut.
"Maaf, anda Siapa ya?"
"Perkenalkan saya Sean." mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ada hal apa yang ingin anda bicarakan pada saya? Apa sebelumnya kita pernah kenal atau bertemu?" tanya Aretha yang merasa tidak mengenalnya. Lalu, "Aretha." ucap Aretha memperkenalkan diri dan menerima berjabat tangan.
"Ah, kita memang tidak saling mengenal sebelumnya. Akan tetapi kita pernah bertemu di sebuah lift apartment P'avenue park saat kamu bersama Azura pada saat itu." sambung Sean.
"Apartemen P'avenue park?" Aretha mencoba mengingat. "Oh ya, aku mengingatnya. Apa ada yang ingin anda bicarakan?"
"Ya, bisa saya meminta waktu Anda sebentar?"
"Boleh, tetapi setelah saya mencoba baju ini dan membayarnya kekasir, bisa?"
"Baik, saya akan dengan senang hati bersabar menunggu Anda Nona Aretha."
"Terimakasih, anda sudah mau bersedia menunggu. Akan tetapi, bisakah anda menunggu saya di sebuah restoran Japanese Korean food diseberang toko ini. Setelah selesai saya akan menyusul anda kesana."
"Baik." Sean melangkah kaki pergi meninggalkan Aretha.
"Bagaimana Sha? Apakah sudah menemukan beberapa baju yang kamu mau?" seru Aretha saat menghampiri Sha-sha yang sudah terlebih dulu berada di meja kasir.
"Sudah, itu sedang di scan mbaknya." tunjuk Sha-sha.
"Mbak, sekalian dengan yang ini." Aretha memberikan sebuah black card miliknya pada mbak kasir tersebut.
"Habis ini kita mau makan dimana, Tha??"
"Kita ke Restoran Japanese Korean food diseberang sana aja. Sekalian gue ingin menemui seseorang."
"Baik, ayo." Sha-sha menggandeng tangan Aretha dan di sebelah tangan satunya, mereka menenteng tas belanjaan milik mereka masing-masing.
"Mau pesan apa Tha?" Sha-sha bertanya saat mereka sudah berada di dalam restoran.
"Sundubu jjigae dan beef bulgogi, minumnya Omija Tea." Kata Aretha sesaat ia melihat buku menu. "Anda mau pesan apa Nona Sean?" tanya Aretha .
"Krisan tea saja." jawab Sean.
"Gue, pesan sebentar." Sha-sha cukup mengerti, bahwa ada yang ingin disampaikan wanita itu kepada Aretha. Sehingga sengaja Sha-sha memberikan kesempatan dan sedikit ruang untuk mereka berbicara.
"Apa yang anda ingin bicarakan Nona Sean?" Aretha langsung to the points setelah kepergian Sha-sha.
"Ada hubungan apa antara kau dan Azura?" Sean bertanya dengan nada yang sedikit angkuh.
Aretha tersenyum dengan pertanyaan yang diajukan to the points Sean tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Apakah Anda adalah seseorang yang terpelajar Nona?" bukannya menjawab, Aretha justru malah balik bertanya kepada Sean dengan pertanyaan yang terkesan menghina wanita dihadapannya itu.
"Apa maksud kamu bertanya seperti itu? Jelas saja aku ini adalah wanita yang terpelajar dan bermartabat. Apa kau sudah buta, sehingga kau tidak dapat melihat penampilan ku yang berkelas." terdengar nada suara yang emosi.
"Ha..ha.ha.." Aretha tertawa geli. "Penampilan tidaklah menjadi tolak ukur apakah seseorang itu terpelajar atau tidak. Kalau anda memang benar terpelajar, tentu anda tahu dimana batasan-batasan untuk tidak mencampuri privasi orang lain bukan? Apakah menurut Anda pertanyaan yang Anda ajukan pada ku bukanlah sesuatu yang privasi Nona?" Aretha tersenyum, seakan tersenyum mengejek. sedetik kemudian ia kembali berbicara. "Sebuah cinta itu memang perlu di uji dan kita hanya punya dua opsi. "BERTAHAN UNTUK KEMBALI ATAU PERGI UNTUK SELAMA NYA."
"Tidak perlu Anda mencoba menggurui saya."
"Aku mengerti bagaimana perasaan kamu," Aretha menggenggam kedua tangan Sean. "Percaya lah, dibalik rasa sakit kamu itu akan ada sebuah kebahagiaan yang akan menanti mu jika memang di hati mu masih menyimpan sebuah rasa cinta. Maka opsi yang bisa dipilih adalah BERTAHAN UNTUK KEMBALI. Namun, jika sebaliknya di hati mu sudah tidak ada sebuah rasa cinta dan hanya ada sebuah penyesalan. Maka biarkan lah orang yang kamu cintai menemukan ruang lain untuk kebahagiaannya sendiri tanpa anda memaksakan sebuah penjelasan dan opsi yang terbaik yang bisa kamu pilih adalah opsi yang kedua. Memberikan sebuah ruang dirinya PERGI UNTUK SELAMANYA."
Seketika itu juga Sean terdiam dan berpikir, ia menatap lekat tak percaya pada apa yang di dengarnya. Ia tidak menyangka, jika wanita yang berada di depannya adalah wanita yang cukup bijak dan baik untuk Azura mantan kekasihnya. Pantas saja Azura terlihat begitu sangat istimewa memperlakukannya, karena memang dia adalah seseorang yang sepertinya tepat untuk menggantikan posisi dirinya di hati Azura.
Lalu Sean tersenyum getir, bukan karena amarah dan rasa cemburu pada wanita itu. Melainkan karena rasa penyesalannya yang selama ini membelenggu hatinya. Ada sesuatu yang hilang luruh tak berbekas, seperti sebuah kelegaan yang terasa menghimpit, kini tak lagi dirasakan oleh Sean ketika mendengar perkataan wanita itu. Membuat Sean mengerti apa maksud dari Aretha. Perasaaan cinta yang sudah tidak ada lagi di hati, akan Sulit untuk bisa Hadir kembali terlebih dihati Azura karena kekecewaan sebuah penghianatan yang dilakukannya sendiri. Memaksakannya pun akan menjadi sulit dan percuma, bukan hanya sekedar tersakiti dan disakiti, bukan sekedar memaafkan, tapi lebih tepatnyanya mengikhlaskan. Maka dari itu opsi yang tepat yang dapat Sean pilih adalah opsi kedua, memberikan ruang lain untuknya. yang berarti pilihan itu PERGI UNTUK SELAMANYA.