WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 8



KANTIN UNIVERSITAS INTERNASIONAL JAKARTA. (UIJ)


Terlihat Dua Lelaki tampan yang kadar kegilaannya di atas rata-rata dari anggota Alricks cs yang lainnya. Mereka berdua sedang sibuk makan makanan mereka masing-masing. Sambil sesekali bergibah layaknya ibu-ibu sosialita rempong.


"Bing, tolong pesenin gue es cappucino cincau satu dan satu porsi cilok Mang Geboy." seru Zayn kencang, sambil mengunyah ketoprak yang berada dalam mulutnya.


"Buset dah lo Bing, itu perut apa karung sih? Bisa-bisanya tuh perut nampung banyak makan begitu. Yang lo makan sekarang aja belum tentu habis Bing, ini udah nyuruh gue pesen yang lain lagi." gerutu Zeo.


"Udah pesen sana, gue butuh banyak nutrisi. Buat mempersiapkan tenaga gue, biar extra full." titah Zayn.


"Tenaga full buat olahraga malam? "sahut Zeo.


"Berisik lo Bing, kaya anak perawan yang baru di bobol gawangnya." ucap Zayn absurd.


Ha...ha...haaa... "Gue belum pernah dengar tuh suara perawan yang baru di bobol gimana. Bisa tolong di praktikan?"


"Berisik dah pokoknya. Ah...uh...ah...sakitt..." kekeh Zayn meniru gaya dan teriakan seorang perempuan."


"Bengekk lo sumpah, Bing." menoyor kepala Zayn dan langsung berlalu pergi memesan makanan yang tadi di pesan Zayn.


Zayn hanya cengengesan mendengar umpatan Zeo dan setelah memesan makanan, Zeo kembali melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda akibat titah sang captein.


"Udah lo pesenin belum, Bing? Ini Kenapa yang kekantin kita doang berduaan. Yang lainnya pada kemana?" tanya Zayn heran, karena hanya mereka berdua saja dari anggota Alrick yang berada di kantin kampus.


"Udeh, ntar juga dianterin pesenan lo ke sini sama Mbak Tari. Yang lainnya mungkin lagi otw ke sini, tinggal tunggu nongolnya aja." jawab Zeo asal.


"Ko lo bisa tau Bing yang lainnya lagi pada otw kesini? Apa Ammar chat lo?" tebak Zayn penasaran.


"Kaga gue asal nebak aja. Emangnya lo kaga denger gue bilang mungkin." kekeh Zeo menahan tawa.


"Sableng lo, gue kira lo beneran tau karena emang mereka yang kasih tau. Ternyata lo jadi cenayang palsu."


"Yeee, lo gak percaya banget sama gue. Gue hitung sampai tiga, mereka bertiga pasti nongol. Berani taruhan nggak lo?"


"Kaga mau gue."


"Nih ya, kita buktiin."


"Coba aja." tantang Zayn kepada Zeo.


"SATU, DUA, TIGA..." Kata Zeo mengelegar ke seluruh ruang Kantin.


Benar saja belum juga kering ucapan Zeo, mereka bertiga sudah datang. Siapa lagi kalau bukan Sang Beruang kutub, Azura. Beruang madu, Ammar. Dan sang Singa betina, Claudia.


"Tuh kan gue bilang juga apa. Omongan gue gak pernah meleset, Bambang. Gue takut kalau kepleset lo keseleo doang." imbuh Zeo.


"Percaya gue, Suhu." Kata Zayn sambil menjatuhkan tubuhnya diatas meja makan kantin. Seolah-olah sedang pingsan mendengar perkataan absurd Zeo.


"Kenapa lo, Nge?" tanya Ammar binggung dan langsung duduk di bangku depan Zayn.


"Ngaco aja deh lo, Yank. Panu itu aktris negara gajah putih bukan negri ginseng." ketus Claudia. "Terus tadi kenapa kamu nggak jemput aku?"


"Nah itu maksud aku Yank." Zayn tersenyum simpul. "Sorry ya, Sayang. Hari ini aku nggak bawa mobil sendiri. Aku dateng ke kampus aja nebeng kuda besinya si Zeo tadi. Mobil aku lagi di servis." menarik tangan Claudia agar duduk di pangkuannya.


"****,"


"Ck,"


Terdengar dengusan kesal Ammar dan Azura secara berbarengan.


"Aissh, pasangan mesum ini memang nggak tau tempat ya. Ini tempat umum set*n, rame woi, rame, main pangku-pangkuan aja lo." Kata Zeo tak habis pikir dengan ulah minus sahabatnya yang satu itu.


"Dasar ijo tomat, ikatan jomblo yang gak pernah tamat-tamat. Sirik aja lu sama gue." ketus Zayn sambil sesekali memakan pesenannya yang baru saja tiba.


"Gue jomblo itu juga pilihan hidup gue, Bing. Bukan karena gue enggak laku." balas Zeo yang tak terima.


"Alah banyak alasan lo. Bilang aja emang lo kaga laku-laku, Bing. Kagak usah banyak alasan pakai acara bilang pilihan hidup segala." nyinyir Zayn dan yang lainnya hanya mampu menggeleng-geleng kepala, melihat kedua manusia di depannya itu.


"Yeaaa, memang benar kan apa yang gue kata. Punya pacar itu, tuh ribet. Gak bisa bebas mau ngapain aja. Mulai dari waktu, tenaga, pikiran, uang, dan bahkan seluruh anggota tubuh kita akan tersita oleh mereka. Nih contohnya kaya manusia yang ada di samping gue." tunjuk Zeo dengan dagunya. "Udah ngorbanin segala hal, waktu, tenaga, bahkan sampai terkadang mengabaikan sesuatu yang lebih penting dari pada tuh pacarnya. Terus pas udah bucin, malah justru di tinggal pergi pas lagi sayang-sayangnya. Apa kaga nyesekk." sindir Zeo.


"Plakk!!"


Sebuah toyoran cantik mendarat tepat di kepala Zeo.


"Lemes bener bacot lo, Men." ucap Azura kelewat santai.


"Tapi benerkan Men, yang gue bilang. Lo udah ngorbanin segalanya tapi malah di tinggal selingkuh begitu aja. Terus sekarang apa yang lo dapet? Gak ada. Semua wanita itu sama bukan? Hanya bisanya merepotkan. Kecuali satu, tuh wanita sudah abis lo jelajahi. Baru gak rugi-rugi banget, ya gak Zayn?" pekik Zeo sarkas.


"Sembarangan aja ya lo Ze kalau ngomong. Gue ini juga wanita, tapi jangan lo sama ratakan semuanya dong." Cerocos Claudia tak terima.


"Buktinya apa kalau wanita itu nggak sama?"


"Buktinya gue lah, gue gak ngerepotin, gak ngekang sih Zayn. Kalau kasusnya sih Azura, emang wanitanya aja yang sok terlewat kecakepan begitu. Berasa bak bidadari surga yang cantiknya gak ketulungan. Padahal mah, jal*ng pengeruk. Sudah tau punya cowok yang modelannya sesempurna ini." Tunjuk Claudia pada Azura. "Eh, malah di selingkuhin dengan modelan bulteng (bule tengik) begitu. Baru juga di tinggal dua tahun buat balik ke Indonesia tapi pada kenyataannya, waktu pas Azura bela-belain buat liburan disana, ninggalin aktivitasnya di sini dan berniat ngelamar, tuh cewek malah nyari pentolan lain buat garukan selangk*ng*nnya yang gatel."


"Berarti merepotkan bukan?" Kekeh Zeo.


"Tapi nggak semua cewek Zeo. Mungkin itu cewek selingkuh karena selama ini dia gak pernah tuh dapet kepuasan yang satu itu dari si Beruang kutub. Jadi lo jangan samaratakan, ada juga cowok yang bisanya merepotkan. Semua itu tergantung kedua belah pihak. Lo yang jadi cowok juga jangan jadi b*jing*n brengsek, habis enak lo buang."


"Clau, bacot lo sama aja ya kaya si Zeo. Sekali ngomong, pedesnya udah ngalahin pedesnya seblak Mpok Tar." ucap Ammar Geram sendiri. Ia hendak memisahkan perdebatan antara Claudia dan Zeo tanpa membela siapapun. Namun sepertinya di perdebatan ini tak perlu ada yang harus di bela.


Ucapan Ammar barusan langsung di tanggapi dengan tawa yang lainnya. Namun sang empu hanya melempar tatapan membunuhnya tanpa berniat membalas ucapan sahabat koplak yang satu itu.


"Bing, Bing, kasihan... Kasihan…" Zayn berkata sambil menahan tawa.


"Betul… Betul…" sambung Zeo.