WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 34



Keadaan Aretha kini sudah mulai membaik setelah di pindahkan ke RS. Pierre Internasional Healthycare Jakarta dan selama seminggu ini pula Azura yang merawat Aretha dengan penuh ketelatenan dan penuh kesabaran, begitupun dengan kedua orang nya yang terkadang bergantian merawat Aretha. Sementara para sahabat dan Alricks pun tetap menjalankan aktivitas kampus mereka, sesekali mereka menjenguk Aretha. Jangan tanya mengapa orang tua Aretha bisa tahu? Karena bunda Alona itu kan dosen yang mengajar di kampus mereka meskipun beda fakultas.


Beberapa kali Aretha sempat melihat pemandangan yang sangat begitu indah kala dirinya terbangun. Seorang Azura bisa tertidur lelap di samping tempat tidur rumah sakit tempatnya terbaring dengan keadaan terduduk dan tangan yang menopang kepalanya.


Aretha sungguh merasakan kembali perasaan yang sempat hilang yaitu perasaan bahagia, perasaan yang sudah lama dia kubur dalam-dalam di hatinya. Aretha tidak menyangka kalau orang yang selama ini begitu menyebalkan mampu menurunkan egonya demi seseorang yang mungkin tidak dia sayangi.


Aretha menatap dalam-dalam wajah tampan Azura yang sedang terlelap, disentuhnya wajah tampan itu dengan perlahan menelusuri setiap inchi wajah pria yang ada di hadapannya itu, alis yang tebal dan hitam, hidung tegak lurus mancung, telunjuk Aretha berhenti ketika berada di atas bibir tebal yang merah milik Azura.


"AUUWW" teriak Aretha saat merasakan sakit di telunjuknya. "Kenapa kakak gigit jari aku?" tanya Aretha cemberut.


"Berani-beraninya telunjuk yang nggak seberapa ini memegang bibir mahal milik saya." pekik Azura.


"Yeeaa, enak aja kakak bilang telunjuk aku itu gak seberapa. Bahkan bibir yang nggak seberapa ini pernah merasakan bibir mahal milik kakak itu." ceplos Aretha, membuat tawa terdengar diseluruh ruang rawat Aretha kala Azura mendengar perkataan absurd Aretha.


Aretha yang mendengar suara tawa Azura, langsung memilih untuk membelakangi Azura karena merasa sangat malu.


"Ish, Aretha kenapa bisa keceplosan sih." gumamnya pelan, mengerutui kebodohannya sendiri.


"Kenapa membelakangi Kakak, Aretha? Kamu malu ngomong gitu atau kamu mau lagi." goda Azura.


"Kak, pulang dan istirahat lah." ucap Aretha yang kini sudah bersandar di headboard tempat tidur rumah sakit.


"Kenapa kamu ngusir kakak?"


"Aku gak ngusir kak, aku hanya nyuruh kakak untuk pulang dan beristirahat saja."


"Tidak, Kakak akan tetap berada disini sampai keadaan kamu membaik. Tuh lihat lagi pula ada ruangan istirahat untuk tamu yang menunggu." sahut Azura sambil menatap wajah cantik Aretha dengan sangat intens.


"Kak, harus berapa kali sih aku katakan kalau aku itu sudah baik-baik saja." Aretha menghela napasnya. "Ka, justru aku yang sekarang khawatir dengan keadaan kakak?! Sudah beberapa hari ini kakak yang merawat Aretha."


"Em, istirahat lah. Kakak akan keluar sebentar menemui Zeo di cafetaria rumah sakit dan kalau sudah selesai, Kakak akan balik lagi kesini untuk memastikan keadaan kamu makin membaik." Azura hendak keluar dari kamar VVIP Aretha.


"Ka," panggil Aretha yang membuat langkah Azura terhenti dan kembali menengok kebelakang.


"Terima kasih Kakak sudah bawa aku ke rumah sakit ini dan juga merawat aku." ucap Aretha tulus dari hati.


Azura hanya tersenyum "Istirahat lah." dengan segera Azura keluar dari kamar rawat Aretha untuk menemui Zeo.


****


Cafetaria rumah sakit.


"Bagaimana?" tanya Azura dengan wajah datarnya, saat menemui Zeo.


"Gue nggak sengaja menginjak ini sewaktu di air terjun." Zeo menunjukkan sebuah cincin. "Dan gue rasa ini punya lo?!"


"Punya gue?"


Zeo mengangguk kecil. "Ada sebuah nama di belakang cincin itu yang pasti secara khusus hanya di bikin oleh keluarga besar Pierre."


"Bisa gue lihat?" Membuat Zeo langsung memberikan cincin itu ke tangan Azura.


"Bagaimana cincin ini bisa berada di sana? Cincin ini sudah lama menghilang, bahkan gue sendiri pun tak bisa menemukannya!"


"Mana gue tau! Lo pikir gue cenayang atau paranormal yang bisa tahu itu." jawab Zeo dengan nada khas alanya.


"Mana pakaian gue?"


Zeo memberikan satu buah tas yang berisi kan baju, laptop, dan beberapa buku di dalamnya serta langsung di cek semua isi tas itu dengan teliti tanpa ada satu pun yang tertinggal.


"Bagus, lo boleh pergi sekarang."


Zeo berdecak tak suka, "CK, masa begitu doang?"


"Wokeh" Zeo berdiri seraya tersenyum senang dan langsung berjalan pergi.


Tring!! Bunyi notif pesan masuk.


Aretha : Ka, apakah masih lama?


Azura : Kenapa? Bukan kah tadi kamu ngusir kakak buat pergi dan beristirahat.


Aretha : Tapi, tadi kan kakak juga berjanji akan kembali lagi dan hanya pergi sebentar.


Azura. : Ck, baru ditinggal sebentar saja sudah chat. Kamu kangen bibir mahal Kakak?


Aretha. :Ish, aku pingin makan chicken katsu, dumpling isi daging, yangnyeomtongdak, dan jus strawberry, bukan karena aku merindukan bibir kakak itu.


Azura : Bukan kah bibir kakak juga rasanya strawberry?


Aretha hanya melihat chat yang dikirim Azura untuknya dan tidak berniat membalas pesan itu lantaran Aretha teramat sangat malu.


Lima menit kemudian,


"Ini pesanan yang kamu pesan tadi, Chicken katsu, dumpling isi daging, yangnyeomtongdak, dan jus strawberry." Azura mengulang kembali pesanan Aretha sambil membukakan bungkus makanan itu.


"Thank you Ka, ini pasti enak banget." Aretha mencium aroma chicken katsu, dumpling isi daging, yangnyeomtongdak, dengan mata yang berbinar-binar.


Tok..


Tok..


suara ketukan terdengar saat Aretha hendak memakan makanannya. Suster dan Dokter yang merawat Aretha pun masuk setelah di persilahkan masuk.


"Bagaimana keadaan kamu Tha? Apakah sudah enakan?" tanya Om Rey.


"Sudah Om, Om gak liat tuh Aretha sudah bisa makan banyak, berarti kan sudah sembuh dan Aretha bisa pulang kan Om?"


"Om periksa keadaannya dulu sekarang, kalau semuanya sudah stabil dan luka di kepala Aretha sudah mengering. Maka Aretha bisa pulang." ucap Om Rey sambil memeriksa kondisi Aretha.


"Bagaimana Om? Apakah Aretha sudah bisa pulang? Azura sudah lelah Om menjaganya karena Aretha itu makannya banyak." ucap Azura menggoda.


"Enak aja, Aretha baru minta makan di luar hari ini. Sebelumnya Aretha selalu makan makanan yang rumah sakit berikan karena Aretha sudah bosan. Kalau Kakak sudah lelah kenapa bukannya pulang saja ke Apartemen Kakak. Ini malah bawa tas itu, seperti mau kemping." tunjuk Aretha kearah tas besar Azura.


"Sudah, sudah, kalian itu seperti Tom and Jerry saja, kalau dekat selalu bertengkar tapi kalau jauh kangen." Om Rey terkekeh sendiri karena melihat Azura dan Aretha seperti anak kecil.


****************


Di Rs. Pierre International Healthycare


Hari ini Aretha sudah di perbolehkan pulang karena keadaan Aretha yang sudah sembuh total dan perban di kepalanya pun sudah di lepas. Dengan perlahan Azura membantu Aretha berjalan menuju mobil Azura.


Kini Azura memperlakukan Aretha dengan begitu posesif dan lembut, di bukakan pintu dan direntang kan tangan oleh Azura di atas kepalanya agar kepala Aretha aman tidak terbentur pintu mobil. Azura berlari kecil kembali duduk di belakang kemudi dan segera melajukan mobilnya.


Setelah satu jam perjalanan. Mobil yang mereka tumpangi sampai di Apartemen milik Aretha. Azura pun mengantarkan Aretha sampai depan pintu kamar Apartemen.


"Kak, apa Kakak mau masuk dahulu untuk mampir?" tanya Aretha ragu.


"Tidak usah, istirahat lah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi nomer Kakak."


"Baik, terimakasih banyak Kak. Kakak sudah mengantarkan aku."


"Mm, kakak pulang dulu. Istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obatnya."


Aretha hanya menganggukan kepala. Lalu Azura langsung berjalan pergi meninggalkan Aretha yang masih tak bergeming menatap punggung Azura.