
"Kakak mau mampir dulu?" tanya nya ketika sudah berada di depan pintu.
"Aku langsung saja pamit pulang, bukan kah kamu ingin segera istirahat?"
"Emm," jawabnya dengan raut sedih.
"Kenapa seperti itu?"
"Sebenarnya aku bosan kak, kalau harus berada sendirian di Apartemen. Aku ingin pulang kerumah bunda Lona, tapi tidak mungkin kalau aku kesana. Yang ada bunda akan bertanya macam-macam dan memarahi aku, setelah tau keadaan aku yang seperti ini."
"Mau kakak temani" tawar nya.
"Boleh, kalau kakak tidak berkeberatan." lalu Aretha menekan password pintu Apartemen nya dan mereka masuk bersama.
Azura Duduk di sofa, sedangkan Aretha masuk kedalam kamarnya untuk meletakkan tas.
"Aku simpan tas ini dulu." kata Aretha.
Selesai, Aretha pun langsung keluar dan pergi menuju dapur." kakak mau minum apa? Aretha akan membuatkan minuman untuk kakak." berjalan menuju dapur.
"COFFE, AIR MINERAL, ORANGE JUS, ATAU YANG LAIN NYA?" teriak nya dari dapur.
"Coffee."
"Carabian nut, vanilla latte, mocachino" kembali menawarkan varian rasa untuk Azura.
"Carabian nut" jawab Azura singkat.
Tak lama Aretha kemudian membawa cangkir berisikan coffee pesenan Azura dan lanjut kembali ke dapur untuk mengambil Snack dan satu gelas bening milkshake strawberry kesukaan nya.
"Maaf kak, hanya ada cake cheese strawberry dan cookies."
"Tidak usah repot-repot Aretha."
Mereka bersantai, duduk di atas sofa sambil menonton televisi dan menikmati minuman dan makanan mereka masing-masing. Tubuh kedua nya tanpa jarak bahkan lengan mereka menempel satu sama lain.
"Aretha, boleh kakak bertanya?" Azura membuka percakapan terlebih dahulu.
"Iya, tanya aja kak. Selagi Aretha bisa menjawab nya akan Aretha jawab."
"Bagaimana kejadiannya, sampai bisa kamu terjatuh dan tak sadarkan diri di air terjun."
"Emm, disaat Aretha ingin berenang dan buka baju. Kalung Aretha tersangkut dan membuat pengait kalungnya terlepas. Sehingga bandul cincin milik Aretha terlepas dan jatuh. Aretha sibuk mencari cincinnya tanpa Aretha sadari malah Aretha terpeleset." jelas nya.
Azura mendadak teringat akan cincin yang di temukan Zeo dan mencoba mencari informasi tentang Cincin itu lewat Aretha.
"Bandul cincin nya ketemu?" tanya Azura penasaran.
"Belum" Aretha mendengus pelan.
"Nanti, kakak coba bantu untuk mencari nya. Apa kamu bisa menjelaskan bagaimana ciri-cirinya?"
"Kakak tau Tha, semua cincin itu ya bulat. Lebih spesifikasi lagi." kesal nya.
"Mm, cincin itu terdapat batu grandidirite, disisi kanan dan kiri nya terdapat berlian kecil berjajar sangat manis, juga di belakang nya terdapat sebuah nama Ayca Berguzar Bareesh."
Deg..
Hati Azura langsung berdetak kencang takaruan, seakan mau loncat keluar dari tempat nya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa cincin milik nya berada di tangan Aretha.
"Kakak kenapa? kenapa Duduk dengan tidak tenang dan seperti gelisah. Apa ucapan Aretha ada yang salah?"
"Ah tidak" Azura kembali memfokuskan diri agar tetap tenang.
"Kamu tahu siapa Ayca Berguzar Bareesh?"
Aretha menggeleng cepat "Tidak, ka."
"Grandidierite masuk dalam jajaran 10 batu terlangka di dunia. Sangat banyak kolekter permata yang mengincar grandidierite, namun batu ini hampir tak mungkin ditemukan. Pertama kali di Madagaskar, batu berkualitas tinggi itu dibawakan oleh seorang ahli mineral dari Prancis bernama Alfred Lacroix, bagaimana bisa kamu mempunyai cincin itu. Itu adalah cincin turun temurun yang dibuat khusus oleh Edward Burford untuk keluarga Ayca Berguzar Bareesh." jelasnya. Lebih tepat nya Azura mencoba menggali informasi lebih tentang keberadaan cincin itu yang bisa berada pada Aretha.
"Emm, Aretha sungguh tidak tahu kalau cincin itu langka di dunia dan terbuat khusus. Aretha hanya mendapatkan nya dari seseorang. Seseorang yang sudah lama pergi." Aretha kembali terlihat sedih jika mengingat kembali masa lalu nya.
Azura yang menangkap raut wajah kesedihan mendalam pada Aretha, menjadi sangat tak tega bila ia terus memaksakan menggali informasi itu pada nya.
"Sudahlah, kamu tidak usah bersedih. Nanti kakak akan bantu kamu mendapatkan nya kembali. Sepertinya cincin itu memang penting untuk mu."
"Terimakasih kak." hanya itu yang bisa Aretha ucapkan untuk saat ini.
Mereka terdiam beberapa saat, menikmati minuman dan cake masing-masing.
"Kamu sudah minum obat? Ini sudah siang. Segera minum obat mu dan beristirahatlah, agar cepat sembuh."
"Baik, Aretha ambil obat nya dulu. Kakak ternyata begitu sangat perhatian melebihi Dr.Rey." Aretha tersenyum dan berjalan kearah kamarnya untuk mengambil obat.
Setelah beberapa detik Aretha keluar kamarnya dan langsung menuju dapur untuk mengambil air dan meminum obatnya.
"Kak, Aretha sangat mengantuk. Bisakah kakak tetap disini menunggu Aretha sebentar untuk memejamkan mata. Setelah itu temani Aretha kerumah bunda Lona. Aretha sangat rindu untuk pulang ke rumah."
"Tidurlah"
Tiba-tiba, Aretha merebahkan kepalanya di atas pangkuan Azura. Pria tampan itu membeku tidak tahu harus bagaimana. Azura berusaha tenang, ia tidak mau Aretha tahu kalau saat ini ia sangat gugup.
"Kamu manja banget ternyata." gumam Azura yang mengangkat satu alisnya.
"Mm, biarkan aku tidur disini sebentar saja." sahut Aretha samar-samar karena sudah tak tahan untuk segera memejamkan mata.
Aretha yang sangat mengantuk benar-benar memejamkan mata. Nafas Aretha yang hangat terasa dikulit Azura. Deru nafas nya pun sudah teratur menandakan bahwa Aretha benar-benar terlelap. Azura mengusap lembut rambut panjang Aretha, setelah itu ia bangun dan segera menggendong hati-hati tubuh Aretha dan memindahkannya keatas ranjang. Ia kembali ke ruang tv dan ikut membaringkan tubuhnya.
•\_To be continued\_•