
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar empat sampai lima jam. Akhirnya mobil keduanya sudah berada di salah satu pantai yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Mereka berempat, tengah duduk beralaskan pasir putih yang terhampar luas dengan posisi memandang kearah laut lepas ditambah dengan deburan ombak yang tak henti-hentinya menghantam bebatuan di pinggir pantai. Semilir angin yang kian berhembus kencang dan bau khas laut dapat mereka rasakan. Seru deburan ombak bagaikan lantunan lagu yang begitu menenangkan. Keindahan yang terpampang jelas di depan mereka, ditambah sinar-sinar lampu kecil yang semakin membuat nya Indah.
"Kamu kedinginan?" bisik Azura, saat Azura melihat badan Aretha sedikit gemetar.
"Mm, sedikit." jawabnya.
Azura, langsung membuka jaket jeans berwarna hitam yang sedari tadi melekat ditubuhnya. "Pakai ini, aku tidak ingin jika kamu kedinginan dan sakit." bisik Azura, sambil memakai kan jaket miliknya ke tubuh Aretha.
"Lo kedinginan Tha.?" tanya Zee yang melihat Azura memakaikan jaket ke punggung Aretha.
"Sedikit Zee."
"Kalau gitu, kita ke saung itu aja, ada berbagai minuman yang hangat dan makanan kecil juga." seru Zee menunjukan salah satu jejeran saung di pinggir pantai.
"Apa tidak sebaiknya kalau kita cari hotel atau cottage. Ini sudah malam, sudah pukul setengah dua belas." sanggah Azura sambil melirik ke arah jam tangan nya. "Kalian juga butuh istirahat. Udara nya pun sudah semakin dingin." seru Azura kembali dengan memberikan saran.
"Aku Setuju yang di katakan Azura, sebaiknya memang kita cari hotel atau cottage untuk beristirahat. "Kalian bisa berjalan-jalan kembali di pinggir pantai besok." lanjut Ammar menanggapi.
Aretha dan Zee kompak menanggapinya dengan menganggukkan kepala. Tanda menyetujui ucapan kekasih mereka masing-masing.
Mereka berempat pun berjalan menghampiri mobil mereka masing-masing dengan Ammar dan Zee yang saling bergandengan tangan. Sedangkan Azura berjalan merangkul pinggang Aretha.
*
*
*
Angin pagi berhembus meniup anak rambut Aretha, dingin nya pagi hari ini tak membuat Aretha menggigil seperti tiupan angin malam tadi. Segelas coklat hangat masih iya pegang dan sesekali ia menyesap coklat hangat itu sambil berdiri di balkon cottage yang mengarah pada pemandangan laut lepas yang tak berjarak jauh dari arah ia berdiri.
"Pagi Ay." sapa Azura berbisik didaun telinga Aretha.
"Kak."
"Why?"
"Aneh aja" Aretha tersenyum. Lalu menaruh gelas berisi kan coklat ke atas meja.
"Kenapa aneh? Mulai saat ini kamu harus terbiasa. Aku akan panggil kamu dengan sebutan Ay." berbicara namun pandangan nya tak beralih dari laut yang berada di depan nya.
Aretha kembali berjalan. Namun, langkah nya ke arah Azura dan memeluk tubuh kekar lelaki itu dari belakang, menyenderkan kepalanya serta kedua tangan nya melingkar disela-sela pinggang Azura dan di sambut baik oleh Azura.
"Aku berpikir, kakak tidak akan bisa seromantis itu. Tapi ternyata dugaan ku salah. Mm, terima kasih telah membuat aku menjadi wanita yang paling bahagia sejak kemarin."
Azura melepaskan genggaman tangan Aretha yang melingkar di pinggangnya, melonggarkan sedikit jarak lalu berbalik arah menghadap kekasih nya yang tak lebih indah dari pemandangan laut.
"Kamu," mata nya menatap lekat mata Aretha yang terlihat berkaca-kaca karena rasa bahagia nya. "Kamu, tidak perlu berterima kasih kepada ku Aretha. Aku akan selalu berusaha membuat mu bahagia, mulai kemarin, hari ini, esok, bahkan selama nya. Berjanjilah kepadaku untuk tidak membuat luka diatas luka yang sudah sembuh ini. Terus lah menjadi penawar dari buruk nya penghianatan masalalu ku. Berjanjilah padaku dan akan aku pastikan, aku juga akan menjadi penawar dari rasa sakit yang menyelimuti hati mu, hum.?"
"Bee, panggil Aretha ragu bercampur malu.
Azura tersenyum, "Aku suka panggilan itu untuk ku"
"Aku tidak akan berjanji pada mu, aku takut jika janji itu tidak bisa aku tepati. Aku masih merasa tak sanggup bila sebuah janji terucap diantara kit yang akhirnya menambah luka pada hati ku karena sebuah janji. Aku akan berusaha ada untuk mu ka, eh bee." Aretha menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Maaf aku masih belum terbiasa." lanjut nya.
"Tidak apa-apa sayang. Kau boleh memanggil ku dengan panggilan apapun, selagi kamu nyaman dengan panggilan itu jangan memaksakan nya."
"Muaaach" sekilas Azura mengecup bibir Aretha saat Aretha mendongak menatap kearah nya. Sontak membuat Aretha mencubit kecil perut sempurna di balik lapisan kain yang membalut tubuh nya.
"Auww," Azura meringis kesakitan.
"Lebay deh,"
"Beneran sakit Ay." suaranya terdengar begitu manja.
"Ih, anak Mommy nya keluar." sindir Aretha.
Azura tersenyum tipis. "Mm,apa aku boleh tahu alasan apa yang membuatmu takut pada sebuah janji?" kini Azura terlihat begitu serius dengan posisi Azura yang berada di belakang Aretha sambil memeluk pinggang ramping Aretha dan pandangan mereka mengarah pada laut didepan nya.
"Huft" Aretha menarik nafasnya perlahan dan kembali membuangnya.
"Tidak usah dijawab pertanyaan ku, jika kamu belum siap menceritakan semua nya padaku." Azura berusaha untuk tidak memaksa.
Aretha mengarah kan kepalanya mendongak, sambil jari-jari tangan nya mengusap lembut wajah Azura sebentar lalu ia kembali menatap ke depan dan berbicara. "Sudah saat nya Aretha menceritakan semua nya. Aretha tidak ingin membuat kekasih Aretha merasa tidak nyaman nantinya dan berpikir bahwa aku menjadikan nya sebuah persinggahan sementara."
"Hey, ku tidak sepicik itu Ay." seru Azura.
"Aku tau bee, aku hanya bercanda. Mana mungkin kamu melakukan hal itu. Mm, sebenarnya aku bingung harus memulai nya dari mana."
"Aku sudah mengatakan nya kamu tidak perlu memaksa bercerita hanya karena rasa tidak enak terhadap ku."
Aretha menggeleng cepat. "Tak seharusnya aku merasa seperti ini. Mengingat ia hanya seorang anak kecil yang belum dewasa, tapi bagi Aretha dia adalah seseorang yang sangat begitu berarti. Aku menganggapnya sebagai seseorang yang begitu luar biasa. Mungkin aku hanya memiliki dia dalam hidup ku sebagai seorang teman laki-laki ku saat itu, sahabat ku, sekaligus seseorang yang aku sukai dan aku sayangi." Aretha berusaha menceritakan semua masalalunya tanpa ada yang ia tutup-tutupi. Aretha hanya tidak ingin ada sebuah kebohongan dalam hubungan yang baru saja ia mulai. Aretha menceritakan semua kisah masa lalunya sampai perasaannya sekarang ini bagaimana dan alasan nya mengapa ia begitu sangat kecewa karena sebuah janji.
Azura dengan begitu sabar mendengarkan nya. "Terima kasih Ay, kamu sudah mau menceritakan semua nya tanpa harus ada yang kamu tutupi dari ku. Aku berharap, aku juga bisa menceritakan semua tentang hidup ku, keluarga ku tanpa adanya kebohongan."
"Menceritakan apa bee?"
"Banyak hal yang pasti nya akan aku ceritakan. Aku akan ceritakan semuanya tanpa ada yang harus aku tutupi. Tapi dimulai, setelah kita berada di jakarta. aku mau, kamu jangan marah atau membenci ku setelah semuanya aku ceritakan."
"Apa alasan nya sampai aku akan marah dan membenci mu bee, jika aku mendengar semua cerita kamu nanti."
"Semua ini ada hubungannya dengan__" ucapan Azura terhenti ketika Azura mendengar suara Zee yang sudah bangun.
"Ya ampun, couple goals. Pagi-pagi sarapannya pelukan." seru Zee dengan suara khas bangun tidur. "Tha lo udah sarapan?" lanjut nya.
Azura melepaskan pelukan nya dan pindah kearah samping Aretha. sedangkan Aretha langsung membalikan tubuhnya menghadap ke arah Zee. "Kenapa Zee? Gue dan ka Azura belum sarapan."
"Gue laper, cari makan ke luar yu." ucap Zee sambil menyenderkan kepala diambang pintu.
Aretha menatap kearah Azura, berharap kekasih nya mengijinkan nya untuk pergi sarapan di luar cottage.
Azura mengangguk, tanda ia paham dari tatapan mata Aretha "Kalian boleh pergi keluar hanya untuk membeli sebuah makanan. Setelah semua nya selesai, kalian harus sudah kembali."
"Terima kasih bee."
"Mm," ucap Azura sambil berjalan kedalam, meninggalkan Aretha dan Zee untuk mandi.
"Ha..ha..ha.. sudah ada panggilan sayang nih ceritanya. Wow, kalian emang bener-bener pasangan yang sangat luar biasa dan hanya dengan saling menatap kalian sudah paham satu sama lain nya. Kalian bisa bicara secara batin ya?" heran Zee.
"Ngaco," Aretha memukul pelan siku Zee dan menarik tangan nya untuk segera keluar sebelum Azura berubah pikiran untuk tidak memperbolehkan mereka pergi.