WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 32



Aretha tengah duduk seorang diri di atas bebatuan besar di pinggir sungai. Ia terus saja menatap lurus memandangi pegunungan yang tersuguh indah menjulang tinggi di depannya.


Suara kicau burung pun terdengar merdu menerpa gendang telinga gadis itu, ia hirup dalam-dalam udara sejuk pedesaan yang tidak dapat ia temukan di Jakarta saat pagi hari seperti ini. Dahulu saat usianya masih kecil udara sejuk ini dapat ia rasakan setiap hari di Bandung bersama seseorang.


"AARRRRGKKKKHHHH!!!" teriak Aretha sekencang mungkin, lalu ia "Huh," menghela napas dalam-dalam, lalu kembali membuangnya perlahan.


"Katanya, kalau kita berteriak keras sekeras-kerasnya itu bisa mengurangi beban yang ada. Tapi mengapa semua itu seolah tidak berlaku untuk diriku. Beban yang ingin aku lupakan pun masih terasa sesak di sini dan tak berniat untuk pergi." gumam Aretha sambil memukul-mukul pelan dadanya.


"Bagaimana bisa pergi kalau kamu hanya berteriak keras seperti orang yang tidak waras." sahut pria tampan yang sudah berada di bebatuan belakang Aretha duduk dan entah sejak kapan sudah berada di sana tanpa sepengetahuan Aretha, membuat gadis itu kaget.


"Kakak ngapain disini? Mengagetkan saja. Kakak itu sudah seperti jalangkung yang datang tak di jemput dan pulang tak diantar." gerutu Aretha.


Bukannya menjawab pertanyaan Aretha, justru Azura malah balik bertanya. "Kamu sendiri sedang apa sendirian di sini, sepagi ini? Nanti kalau kesambet bagaimana? Tuh liat disekeliling kamu, sepi seperti ini." ucap Azura sambil naik ke atas bebatuan tempat Aretha duduk dan ikut duduk di samping Aretha. "Oh iya, kakak lupa kalau setan itu takut sama kamu. Apa lagi kalau kamu sudah teriak-teriak seperti tadi, sudah seperti orang yang kesurupan dan otomatis mereka juga langsung kabur." ledek Azura.


"Ish, kakak nyebelin banget sih." Aretha memanyunkan bibirnya. "Kakak bisa tidak sehari saja tidak membuat aku emosi jiwa seperti ini." tegas Aretha tanpa menoleh ke arah Azura.


"Tidak, kamu bisa tidak kalau tidak memanyunkan bibir mu seperti itu saat sedang kesal dengan ku."


"Tidakkkk!!" balas Aretha kesal.


"Oke, kalau kamu tidak bisa. Biar aku saja yang akan menghentikannya. Agar kamu tidak terus menerus menggoda ku dengan memanyunkan bibir mu seperti itu jika sedang kesal terhadap ku."


"Bagaimana caranya?" Aretha langsung memutar kan kepalanya menghadap ke arah Azura dengan tatapan matanya yang penuh tanya.


Azura yang merasa di tatap dengan tatapan intens penuh tanya Aretha, malah justru melihat tatapan Aretha itu seperti menantang dirinya. Lalu tersenyum menyeringai penuh arti.


"Begini." jawab Azura. Lalu, Azura langsung saja meraih tengkuk Aretha, Ia menyesap bibir merah bawel itu yang sudah beberapa kali ia rasakan dan akan sangat menjadi candu untuknya.


Aretha yang kaget sedikit mendorong tubuh Azura dan membelalakkan mata tak percaya melihat kelakuan kakak seniornya yang sangat ceroboh seperti ini. Mencium bibirnya tanpa permisi di tempat terbuka.


"Kak, bagaimana kalau ada yang melihat nya?" ucap Aretha setelah Azura melepaskan tautannya pada bibir gadis itu.


Azura hanya tersenyum santai menanggapi pertanyaan Aretha. "Bawel" lalu Azura langsung kembali mengecup bibir Aretha sekilas. Pandangan mereka masih terarah memandangi wajah mereka masing-masing dengan degupan kencang irama jantung yang terus saja semakin kencang. Tiba-tiba saja, entah setan mana yang sudah berhasil merasuki pikiran Aretha dan dengan keberanian dari mana yang Aretha dapat kan. Ia justru malah membalas mencium bibir milik Azura. Azura yang mendapatkan serangan mendadak langsung ikut menyesapkan kembali bibirnya, mereguk bibir manis yang Aretha suguhkan terlebih dahulu tanpa mau membuang kesempatan itu. Keduanya terhanyut dalam permainan yang mereka ciptakan, terus saja bertukar Saliva dan menikmati sesapan demi sesapan manis yang mereka suguhkan satu sama lainnya tanpa melihat sekeliling dan tempat mereka berada.


Kedua wanita yang sedang berjalan menuruni anak tangga terlebih dahulu di bandingkan dengan yang lainnya. Tengah berdiri shock sambil menutup kedua mulut mereka. Mereka di kagetkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa mengejutkan, mereka menatap kearah kedua insan yang sedang mempertontonkan adegan romantis di mana sang sahabat yang menjadi pemeran utama dan sang pria adalah pria yang sudah seperti musuh bagi sang wanitanya. Sungguh mereka tak menyangka kalau Tom and Jerry yang semalam mereka saksikan dengan cepat berubah menjadi Drakor bergenre romance.


"Sha, Zee, Kenapa kalian berhenti dan terlihat shock seperti itu?" tanya galaxy heran sekaligus khawatir.


"****" umpat Zeo saat arah matanya melihat kemana arah kekasihnya memandang dengan sangat shock.


"Bagaimana ini? Posisi kita jadi serba salah, kalau kita turun, kita akan mempergoki mereka dan mereka pasti akan sangat malu. Kalau kita kembali naik, pasti kak Zayn, kak Ammar dan yang lainnya akan bertanya-tanya serta menaruh curiga. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sha-sha seperti bingung.


"Berteriak kencang lah memanggil nama Zee, seolah kamu sedang tertinggal oleh Zee sayang. Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini." Instruksi dari Zeo.


"Baik lah." Sha-sha menuruti saran dari kekasihnya.


"ZEE, TUNGGU AKU DONG!!" teriak Sha-sha sekeras mungkin, berharap dapat menghentikan ke uwhan mereka.


Aretha yang dapat mendengar suara teriakan itu pun langsung mendorong dada bidang Azura dengan sedikit kasar. Ia cukup yakin kalau sumber suara itu adalah milik Sha-sha.


"Maaf Kak, tapi sepertinya sahabat ku dan para mahasiswa yang lainnya sudah mulai turun untuk beraktivitas mandi disini." Azura yang melihat kekhawatiran Aretha segera paham. Ia langsung menautkan jari jempolnya di atas bibir ranum Aretha dan mengelap sisa rengkuhannya.


"Bersikaplah seperti biasanya dan tak usah segugup itu atau mereka akan mencurigai kita!!" Katanya dan Aretha mengangguk kecil, tanda ia mengerti.


"Aretha." panggil Sha-sha dengan tenang. Membuat senyum Gadis yang namanya di panggil itu terpatri jelas.


"Tha, dari tadi kita nyariin lo sehabis subuh tadi. Tapi berhubung gue takut untuk keluar camp jadi terpaksa deh gue bilang ke Zee nungguin terang dulu buat nyari lo."


"Bing, kok lo juga bisa ada di sini? Kenapa kalian bisa berduaan begini, lo janjian ya?" selidik Zeo. Sela Zeo sebelum Aretha membalas ucapan Sha-sha.


"Gue gak janjian, tadi kebetulan aja ketemu setelah gue habis sholat dan berjalan-jalan disini. Gue lihat Aretha sendirian duduk di batu ini. Ya sudah gue samperin dan temenin dia. Kenapa memang nya Bing?"


"Nggak papa, gue pikir kalian sengaja bertemu. Tau nya hanya kebetulan." pekik Zeo dan langsung mendapatkan cubitan kecil di perutnya.


"Auww, sakit Yank!" seru Zeo pada Sha-sha.


Aretha dan Azura langsung menatap keduanya heran, lalu didetik kemudian mereka menatap kearah keduanya dengan tatapan mengintimidasi meminta penjelasan tentang apa yang ia dengar barusan.


"Maksud Kakak apa memanggil Sha-sha dengan sebutan Yang?" tanya Aretha pada Zeo, membuat Pria itu diam menatap kearah Sha-sha. Merasa pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Aretha mencoba menuntut penjelasan terhadap sahabatnya. "Sha coba jelaskan?"


"Itu..."


Baru hendak di jawab oleh Sha-sha, malah gadis itu kembali menyela dengan menuntut penjelasan sahabatnya yang lain. "Kenapa? Kenapa hanya aku yang kaget sedangkan kalian tidak?" sambil terus saja menatap mereka bergantian.


"Perhatian semuanya, kalian silahkan mandi dan beraktivitas di sini sampai pukul 07.00, setelah itu kalian sudah bersiap untuk kembali berkumpul di depan camp pukul 07.30 untuk kembali melanjutkan aktivitas kita yang lainnya." suara pengumuman yang Ammar jelaskan membuat mereka beruntung sejenak dari tatapan intimidasi Aretha. Ya beruntung atensi Aretha teralihkan oleh suara Ammar.


"Aretha, kamu kenapa sudah menghilangkan dari subuh tadi? Untung saja tadi kakak sempat melihat kamu bersama ka Azura."


"Hah?" Panik Aretha. "Kakak lihat aku ngapain?" tanya Aretha membuat keempat orang yang langsung paham kemana arah pertanyaan Aretha, terlihat menahan tawanya.


"Ngapain? Kamu lagi duduk berduaan? membuat Aretha menghela napas lega.


"Makanya kakak tidak begitu terlalu khawatir."


"Cepat sana naik ke atas untuk sarapan, sampai saat ini kamu belum sarapan pagi, kan? Zee bilang kamu menghilang sejak subuh yang berarti kamu belum kembali ke atas."


"Akh iya, kak."


"Setelah sarapan kamu bisa kembali kesini untuk segera mandi. Biar nanti kak Azura yang menemani naik dan sarapan bersama kamu."


"Tapi kak?!i biar Aretha sendiri aja." bantah Aretha.


"Bareng aja, kalau bisa barengan kenapa harus sendiri sih, Tha. Lagian juga kak Azura belum sarapan pagi sama seperti kamu."


"Baik kak, Aretha naik ke atas dulu." pamitnya berjalan mendahului Azura.


"Gue ke atas duluan Bing." ucap Azura sambil tersenyum dan menepuk pundak Ammar.


"Tuh anak belakang ini gue perhatiin jadi lebih banyak senyum." Kata Zayn yang sedari tadi hanya diam.


"Dan gue perhatiin juga, dia lebih perhatian sama Aretha." Zeo ikut menimpali perkataan Zayn.


"Gue kira, gue doang yang merasa begitu. Tapi bagus deh tuh anak udah mulai menghangat lagi gak datar dan dingin tanpa ekspresi." Sahut Claudia tersenyum memperhatikan Azura yang sudah mulai menjauh.