WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 70



Semilir Angin menyapa pagi Azura, seolah mengucapkan salam padanya.


Burung-burung berkicau riang menandakan hari telah beranjak naik.


Azura berdiri di lantai empat di universitas yang sangat begitu ia cintai, ini. Mata Azura tak henti melihat para mahasiswa yang sedang asyik bercanda-tawa di plaza lantai satu kampus. Seolah-olah tiada beban dalam diri mereka yang ada hanyalah kesenangan, yang ada dalam dunia mereka.


Hari ini adalah hari yang dinantikan mereka, hari yang pasti di tunggu-tunggu sebagian besar orang yang selama empat tahun bergelut dengan sejumlah mata kuliah. Dimana sebagian orang dapat mewujudkan keinginan orang tua nya. Dimana hari saat semua orang menjadikan kedua orang tua lnya merasa bangga. Hari dimana perjuangan seseorang akan membuahkan hasil. Ya, hari ini adalah hari dimana mereka akan dilantik menjadi seorang wisuda.


"AKHHHHHHHH" teriak Azura dengan satu tarikan napas panjang. Seolah Azura tak percaya bahwa saat ini wisuda itu akan dilaksanakan.


Terlihat dari kejauhan, ada ke empat orang yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu orang perempuan yang menghampirinya. Tidak lain itu adalah sahabatnya yang sudah tampil begitu memukau dengan setelan jas lengkap membalut tubuh mereka masing-masing seperti dirinya yang juga terlihat begitu tampan.


Bagaimana tidak? Pria dengan wajah tampan blasteran Korea-Prancis siapa lagi kalau bukan Azura Eglar Albareesh. Pria tampan ini begitu sangat mempesona dengan balutan jas simpel model blazer berwarna broken white.


Disusul tiga pria yang tengah berjalan beriringan menghampirinya. Pria itu adalah pria dengan wajah tampan yang terlihat lebih dewasa dan bijaksana siapa lagi kalau bukan Ammar Dega Dirgantara Gumilang. Kali ini pria itu memilih style jas dengan model three-piece suit berwarna grey.


Pria tampan yang kedua ada Zayn Abraham Lincoln pria blasteran Thailand- Rusia yang juga takalah tampan dengan style yang ia kenakan saat ini adalah double breasted berwarna navy serta yang terakhir ada pria tampan yang berwajah baby face karena sifatnya yang selalu humoris. Yaitu Zeo Anantha Putra, kali ini ia tampil dengan balutan jas model single breasted berwarna hitam. Serasa tak mau kalah, ada juga seorang wanita cantik yang sudah tampil mempesona dengan balutan kebaya modern berwarna selaras dengan sang kekasih yaitu navy.


"Woi Bing, gue kira lo belum datang. Ternyata udah nangkring aja lo disini." seru Zeo.


"Lo yang pada datengnya lelet. Jam berapa ini." balas Azura sambil menunjuk-nunjuk jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Lah loh ngapain disini? Bukan nya masuk." tanya Claudia.


"Gue nungguin Aretha tapi sampai sekarang masih belum nongol tuh anak."


"Oh, gue kira lo nungguin keluarga lo. Keluarga lo udah datang Zu?" kini giliran Zayn yang bertanya.


"Tuh, mereka semua udah duduk manis." tunjuk Azura pada keluarganya yang terlihat sedang tertawa bersama rector dan para dosen.


"Wih, ada Arasthiar juga. Gue kedalam duluan ya, mau gendong my princess." pekik Claudia senang.


"Keluarga kalian mana? Kok belum ada yang nongol sih?"


"Bonyok gue masih dalam perjalanan menuju ke sini, Bing." kata Zayn.


"Bonyok gue juga sama masih dalam perjalan kesini setelah dari bandara langsung." Zeo.


"Nyokap lo mana bing? Apa masih dalam perjalanan juga?"


"Nyokap gue, mau jalan bareng sama kembarannya aja sekaligus bareng sama ponakan."


"Lah, nyokap lo malu Bing jalan bareng lo? Kenapa malah milih bareng sama Bunda Alona dan Aretha. Lo bukan anak nya kali."


"Plak"


"Sembarang kamu kalau bicara. Bubun bukannya malu berangkat bareng sama anak Bubun ya. Tapi Bubun grogi takut dikira pacarnya. Itu mulut dari dulu minta di jejelin sambel ya, Zeo." pekik Aluna, Bunda Ammar yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Zeo. Bersamaan dengan Bunda Alona, Aretha, Sha-sha dan Zee yang sudah ikut tertawa.


Terdengar seruan sapaan dari MC yang sudah naik keatas panggung yang berarti pertanda bahwa wisuda akan segera dimulai. Satu-persatu mahasiswa dan keluarganya yang masih berada diluar, kini mulai masuk kedalam ruangan yang disediakan.


Selang beberapa jam, akhirnya serangkaian demi serangkaian acara dapat berjalan dengan lancar. Nama-nama mahasiswa dan mahasiswi yang di pangil untuk rector memindahkan kucir tiga dari kiri kekanan itu sebagai simbol bahwa para mahasiswa telah diwisuda pun terlaksana dengan baik. Sampai akhirnya acara wisuda pun selesai.


Seperti acara wisuda pada umumnya, setelah acara selesai semuanya berfoto. Mungkin karena mereka tidak ingin melewatkan momen bersejarah ini.


"Yampun sudah lama ya kita tidak berjumpa." sapa Mommy Yoona pada Bunda Ammar dan juga orang tua wanita dari Zeo dan Zayn.


"Ay," Pangil Azura.


Aretha menoleh dan melambaikan tangan nya. Kemudian Azura berjalan kearah dimana Aretha tengah duduk bersama Bunda Alona, Daddy Pierre serta Arash dan Tiara yang sedang bercengkrama santai.


Kreakk


Tarikan bangku dari Azura terdengar, kemudian ia duduk di depan Aretha.


Mata Azura hanya menatap wajah Aretha datar dengan raut wajah yang tak bisa di tebak.


Azura menatap wajah cantik itu, ia sungguh sangat bersyukur pada Allah karena telah mempertemukannya dengan gadis cantik yang sekarang berada di hadapan nya ini. Meski memang pertemuan pertama mereka di bilang pertemuan yang sangat konyol. Tapi berkat pertemuan itu, Azura jadi lebih bisa mengenal Aretha. Menggenggam tangan gadis itu dan bahkan bisa menjadi sandaran dimana wanita itu membutuhkannya.


"Hey Boy, don't stare at him for too long. That's her mother watching you. Better look at her mother and say you want to marry her daughter." (Hey nak, jangan menatapnya terlalu lama. Itu Ibunya sedang mengawasi mu. Lebih baik kamu melihat ibunya dan katakan kamu ingin menikahi putrinya.") seru Daddy Pierre sambil menyentak punggung anaknya.


Azura yang mendengar perkataan Daddy menjadi mendongak, menatap wajah Daddy nya tidak percaya, kemudian lanjut menatap wajah Bunda Alona.


Azura jadi tersenyum canggung, antara malu dan takut melihat Bunda Alona yang menatapnya dengan tatapan tajam menyalang ke arahnya. Membuat semua orang yang melihat itu ingin rasanya tertawa namun urung di lakukan, sehingga hanya bisa menahan tawanya karena baru melihat wajah kikuk Azura yang bahkan tak pernah Azura tunjukkan selama ini.


Azura selalu menunjukkan wajah yang datar, cuek, dan dingin, tanpa ekspresi bahkan dalam keadaan apapun semenjak kejadian dimana ia melihat kembarannya menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Dan baru kali ini semua keluarga bahkan sahabatnya melihat ekspresi wajah tampan yang selalu di dominasi datar menjadi kikuk dan kecut.


"Ada apa? Kelihatannya kamu menyukai putri saya." tanya Bunda Alona yang berpura-pura tidak mengetahui apapun. Padahal ia sudah mengetahui hubungan antara mereka dari mulut anaknya sendiri. Dan Mommy Yoona pun juga sudah meminta langsung pada Arham Ayah dari Aretha agar Aretha bisa menjadi menantu kedua dari putranya itu.


"Mm, anu itu." Azura menggaruk tengkuknya bingung sendiri harus berbicara apa.


"Apa?" tanya Bunda Alona lagi.


"Ayo boys semangat, taklukan dulu induknya." ucapan Daddy Pierre seakan memperkeruh kecanggungan Azura.


"Daddy." gumam Azura pelan sambil menunduk. Sehingga mereka yang melihat itu pun akhirnya tertawa, sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Bing, berhadapan dengan para klien dan orang di luaran sana lo gak ada gugup-gugupnya. Lah ini cuman dosen kita doang, Bing. Ngapa jadi melempem lo kaya kerupuknya Mpok Tar." celetuk Ammar.


"Sial lo men, gue mati kutu ogeb. Dosen yang satu ini lain dari pada yang lainnya." bisik Azura pada Ammar yang juga sudah duduk di belakang Azura.


"Kenapa tidak jawab pertanyaan saya? Apa kamu menyukai putri saya?"


"Hehem." Azura berdehem untuk menetralkan kegugupannya. "Mm, ia Bu saya menyukai putri anda dan bahkan bukan hanya menyukainya tapi saya mencintainya." jawab Azura lantang.


"Punya apa kamu? Sampai bisa mencintai anak saya?" jawab Bunda Alona tegas.


"Saya belum punya apapun untuk saat ini, tapi setelah ini saya akan berjuang buat Aretha untuk bisa membahagiakan Aretha ke depannya. Saya akan berjuang sambil nunggu Aretha lulus dan akan kembali datang menemui Ibu untuk meminta Aretha kembali setelah Aretha lulus dan saya berhasil." jawab Azura tak kalah tegas.


Bunda Alona mengangguk-angguk kecil mengiyakan ucapan Azura barusan. "Bagus, saya sedikit kagum dengan jawaban kamu barusan. Saya tunggu kamu sampai kamu bisa membuktikannya pada saya. Kamu sudah tahukan? Seorang laki-laki sejati adalah laki-laki yang bisa dipegang ucapan nya?"


"Ya, saya paham."


"Mm, kamu memang anak didik saya yang tidak pernah mengecewakan, terlepas siapa kamu dan terlepas siapa yang ada di belakang kamu. Saya yakin kamu bisa menjaga kepercayaan saya. Seperti kamu bisa menjaga Aretha selama ini, jadi saya setuju kamu untuk pacaran dengan anak saya. Tapi jangan sampai kebablasan, Ok."


"Terimakasih Bu, apa saya boleh ajak Aretha pergi?"


"Silahkan."


"Ayo Tha." ajak Azura pada Aretha.