
Sepuluh tahun kemudian, setelah kepergian Ezra...
CHARLES DE GAULLE AIRPORT.
Takdir masa lalu semuanya hanya tentang waktu...
Kini awal takdir itu di mulai...
Aretha berjalan tergesa-gesa sambil menarik koper miliknya ke arah gate keberangkatan. Dilihat kembali jadwal keberangkatan yang tertera dalam tiket penerbangan pesawatnya ketanah air. Untuk memastikan sedikit waktu untuk dirinya tidak terburu-buru. Namun, justru jam yang di pastikannya malah tak berpihak pada diri Aretha yang tanpa sisa banyak waktu.
"Upss, sial. Mengapa memberikan ku tiket penerbangan dengan jam yang begitu sangat mepet. Kalau seperti ini aku jadi harus terburu-buru begini. Apakah dia tidak tahu kalau aku jadi sekacau ini." gerutu Aretha.
Bugkh !!
Langkahnya langsung terhenti ketika ia menabrak seseorang dan tubuhnya terpental ke lantai.
"Auww, sakit." rengek Aretha sambil mengusap-usap tangannya. Lalu, dengan gerakan cepat Aretha langsung mengadahkan pandangan matanya ke arah uluran tangan yang berniat membantu Aretha berdiri. Namun, bukan menyambut baik uluran tangan pria tampan itu. Justru Aretha malah terdiam kaku menatap dengan tatapan mata yang begitu terpesona.
"Ya Allah, sungguh indah sekali ciptaan mu. Meskipun selama beberapa tahun tinggal di negara asing yang penuh akan Bule. Namun baru wajah tampan Pria ini yang begitu memikat hati ku. Wajahnya sungguh sangat sempurna bak Oppa Ji Chang Wook di mix Ice Paris" batin Aretha.
"Hey, Nona!!" sapa pria tampan itu.
"Ya" jawab Aretha yang langsung tersadar dari keterpanahan di depannya itu. Aretha langsung menerima uluran tangan pria yang berniat membantunya berdiri. "Terimakasih sudah membantu ku." ucap Aretha sambil bangkit berdiri.
"Em." jawabannya terdengar dingin dan tegas.
Lagi-lagi Aretha kembali menatap wajah pria tampan yang tengah berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang terlihat dingin namun nampak mempesona bagi Aretha. Aretha terus saja memandangi wajah itu dengan tatapan yang memuja. Seakan Aretha terus terhipnotis masuk jauh lebih dalam. Tanpa tersadar, tangan Aretha terus saja menggenggam tangan pria itu tanpa berniat melepaskan sedikit pun. Aretha terus menelisik bagian-bagian wajah pria itu satu persatu bagaikan seperti sedang mengabsen. Pria dengan ketampanan yang nyaris begitu sangat sempurna. Mengingatkan dirinya pada wajah seseorang yang tengah tersenyum tipis. Bayang seseorang dari masa lalunya yang begitu sangat di benci karena telah berbohong. Namun juga sangat begitu dirindukan oleh Aretha.
"Tidak...Tidak...!! Jangan salah paham." Aretha sekali lagi menepis keterpanahan dirinya pada Pria yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mm, wajah mu!"
"Ada apa dengan wajah ku?" Pria itu nampak gusar memeriksa wajahnya.
Ha..ha..ha.."Kamu terlihat sangat lucu jika sedang panik." jelas Aretha sambil menahan tawanya.
"Kau??"
"Sorry, sorry!" dengan cepat Aretha langsung meminta maaf kepada Pria itu. Aretha tidak ingin jika Pria itu menjadi sangat marah. "Wajah mu itu, hanya rasanya tampak begitu sangat tidak asing bagi diriku. Tapi entah lah menjadikan ku mengingat seseorang. Aku harus segera bergegas pergi meninggalkan mu. Karena sebentar lagi pesawat ku akan boarding." Jelas Aretha, lalu di detik kemudian ia kembali bersuara. "Hey, sebagai permintaan maaf ku yang resmi. Aku akan mentraktir mu minum coffee saat kita berjumpa lagi. tapi jika kita tidak berjumpa lagi, ya itu artinya kita tidak lah berjodoh tampan." kekeh Aretha asal sambil tersenyum manis dan melangkah pergi.
Siapa sangka ucapan yang asal bagi Aretha. Namun, menjadi sebuah awalnya takdir mempertemukan mereka dan menakdirkannya bersama.
Pria tampan itu hanya bisa terdiam, terpaku pada ucapan absurd gadis yang menurut dirinya cukup unik dan aneh. Bagaimana tidak absurd, gadis itu mengatakan akan mentraktirnya minum coffee dengan kepercayaan diri bahwa mereka akan bertemu lagi.
Dunia ini tidaklah selebar daun kelor, dunia ini bulat dan luas. Bagaimana mungkin mereka akan bertemu kembali, pikir Azura.
Namun lain halnya dalam pikiran Aretha. Aretha yakin akan bertemu dengan pria itu lagi. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak menurut Aretha.
"Sampai berjumpa kembali tampan." Aretha terkekeh geli dengan ucapannya sendiri, sebelum menaiki pesawat.
"Dasar gadis aneh." tanpa sadar bibirnya tersenyum dan ucapan gadis itu mengajak dirinya minum coffee pun terngiang dalam benaknya, saat di dalam taxy.