WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
EXTRA WLYAD 1



Pagi hari di keluarga ARHAM


Banyak dari kerabat dan saudara berkunjung datang ke rumah besar Pak Arham untuk membantu dan menyaksikan moment bahagia di keluarga itu.


Semuanya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dari mulai menyiapkan dekorasi, bangku, hingga prasmanan makan untuk menjamu keluarga besar sang laki-laki malam nanti.


Sementara, Aretha tengah disibukkan oleh sahabat-sahabatnya yang tengah memilih-milih kebaya yang akan mereka kenakan nantinya. Beberapa kebaya yang di kirim oleh sang pria mulai dari Kebaya modern berwarna pastel hijau dengan aksen bertaburan Swarovski di padu padankan dengan rok tradisional dan veil warna senada, kebaya modern berpotongan cave dengan warna merah menyala disertai detail taburan Swarovski, ada juga kebaya modern berwarna biru soft, peach blossom, serta warna cream yang dipenuhi payet dan berlian bagaikan langit yang dipenuhi bintang. Sungguh mereka bingung sendiri dibuatnya karena semua kebaya itu terlihat cantik dan indah.


"Ya ampun, orang kaya mah bebas. Lamaran sehari aja tapi dikirim bajunya segini banyak." oceh Sha-sha yang tak habis pikir.


"Itu baru pria idaman, pacarnya gak bisa ikut fitting baju, eh sebutik-butik nya di bawaain. Beruntung banget sih sahabat gue ini." memeluk Aretha.


"Kalau di inget-inget lagi awal-awal ketemu, ya ampun udah kaya tom and Jerry banget, kaya minyak ketemu air." kata Zee sambil tertawa.


"Bener banget Ze. Eh, gak tau nya malah dia duluan yang dilamar. Lah kita yang udah pacaran lama belum ada hilal nya." sambung Sha-sha.


"Sabar, kalian juga pasti akan nyusul. Kata ka Azura Alrick cs (Zeo dan Ammar) lagi kerja keras mati-matian ngumpulin pundi-pundi buat nyusul ka Zayn sama ka Azura." kata Aretha masih sibuk dengan kebaya yang akan ia pilih.


"Gue jadi bangga banget sama mereka, bener-bener berjuang buat kita. Meskipun kita semua tau latar belakang orang tua mereka sekaya apa, tapi mereka milih buat berjuang dengan kecerdasan mereka sendiri. Berjuang dengan hasil keringat mereka sendiri. Yah meskipun tidak memungkiri kerjaan mereka juga mereka dapatkan pada perusahaan orang tuanya."


"Perlu digaris bawahi, ka Ammar gak ya. Dia berjuang di perusahaan orang lain."


"Tapi sama aja Zee, ka Ammar kan Asistennya ka Azura. Kerjanya di Perusahaan ka Azura, apa coba yang beda?"


"Ya beda, kan bukan perusahaan keluarga." kekeh Zee.


"Beda gimana? Bebek sama kuda maksud lo. Emangnya, kak Ammar anggap ka Azura orang lain?" Sha-sha sudah mulai sewot.


"Gak juga sih." seru Zee pelan bahkan hampir tidak bisa di dengar.


"Sudah, ujung-ujungnya malah ribut deh." ucap Aretha menengahi.


Pilihan Aretha jatuh pada Kebaya modern berwarna peach blossom, warna yang sangat kontras tapi tidak begitu mencolok. Sungguh pas di kulitnya yang putih cerah.


"Gimana, cantik gak gue?" Aretha bertanya ketika ia sudah mencoba memakai nya.


"Wah, cantik. Cantik banget malahan." seru kompak antara Zee dan Sha-sha.


Setelah mengobrol dengan teman-temannya dan memilih kebaya yang akan dikenakan pada acara lamaran malam nanti. Tak terasa hari sudah menjelang malam, mereka juga sudah sibuk mempersiapkan diri.


Zee yang sibuk memakai pakaian nya, Sha-sha yang sudah cerewet tak jelas mengomeli sang kekasih di telpon agar pakaian mereka harus terlihat serasi. Sedangkan Aretha kini sedang gugup, duduk di depan meja rias. Wajah nya kini sedang di rias oleh MUA terpercaya Mommy Yoona.


...****************...


Malam hari dikediaman Keluarga Arham.


Malam istimewa.


Ayah dari Aretha, Pak Arham sudah terlihat gagah dengan setelan jas lengkap berwarna hitam berdiri menyambut rekan-rekan yang hadir di temani istri tercintanya, Bunda Alona yang terlihat sangat berbeda malam itu. Wanita paruh baya keturunan Bandung-Arab itu terlihat begitu sangat cantik di balut dengan kebaya berwarna coklat susu sambil tersenyum menyambut para undangan.


Tepat pukul Tujuh, deretan mobil-mobil mewah datang menghampiri gerbang utama dan terparkir memenuhi pelataran parkir keluarga Arham. Siapa lagi kalau bukan keluarga besar laki-laki.


Mereka semua di sambut hangat pihak keluarga pemilik rumah setelah seluruh rombongan masuk kedalam. Pak Arham dan Bunda Alona menyambut calon besannya yang juga sahabat lamanya saat semasa kuliah dulu dengan suka cita dan senyum yang tak pernah luntur. Beserta para rombongan yang masing-masing membawa kotak parcel kristal yang mewah berisikan barang-barang berended dari berbagai merek terkenal, serta seperangkat perhiasan di dalamnya.


Malam itu Azura terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan jas kontras membalut tubuh kekarnya dengan warna hitam yang elegan terlihat selaras dengan sang Daddy dan Abang laki-laki nya yang juga sama-sama terlihat tampan bergandengan dengan seorang wanita cantik yang selalu berada di samping.


Waktu bergulir dengan cepat, setelah sambutan dari kedua belah pihak selesai. Aretha yang di temani oleh kedua orang tuanya serta Azura juga yang sama-sama di temani kedua orang tuanya pun naik ke atas podium yang sudah di sediakan.


Azura menatap yakin dengan maksud dan tujuannya datang kesini, malam ini. Ia menghela napasnya pelan menetralkan kegugupan yang sempat melanda dirinya sejenak lalu, memantapkan hati untuk menyatakan.


"Saya, Azura Eglar Albareesh. Ingin mengutarakan maksud saya di depan Om Arham, Bunda Alona, Mommy, dan Daddy, serta keluarga besar Arham dan keluarga besar Pierre, para sahabat serta tamu undangan yang hadir untuk memantapkan hati melamar gadis yang bernama Aretha Gania Mounira, putri pertama dari Om Arham." ucap Azura, kemudian langsung menatap wajah Aretha.


"Aretha Gania Mounira, mau kah kamu menerima lamaran ku untuk menjadikan ku Imam mu? Menjadikan ku suami mu? Dan menjadikan ku ayah dari anak-anak mu kelak?" katanya dengan lantang dan tegas. Ia kembali melanjutkan ucapannya setelah beberapa detik mengambil napas.


"Aku tidak berjanji, tapi aku akan membuktikannya sebagai seorang pria yang akan terus berusaha mencintai mu, menyayangi mu, bahkan akan selalu ada menemanimu dalam keadaan apapun. Baik dalam keadaan susah mau pun senang, dalam keadaan sehat maupun sakit. Seumur hidup ku atas izin sang maha kuasa." tutur Azura pada Aretha.


Saat mengucapkan semua, Azura meneteskan air mata harunya. Ia tidak dapat membendung tetesan air mata itu, air mata yang langsung luruh tanpa permisi. Netranya kini tengah memandang netra wanita yang ada di hadapan nya. Wanita yang juga terlihat sudah berkaca-kaca.


Azura yakin jika Aretha adalah wanita pilihan Allah yang dikirim kannya lewat takdir perjalanan hidupnya.


suasana nampak hening, sahabat, keluarga, serta tamu undangan ikut terhanyut dalam suasana haru malam ini. Semua emosi seakan terasa begitu terkuras dalam moment sakral ini.


Azura mengelap sisa tangisnya dengan ibu jari sesaat sebelum akhirnya ia maju dua langkah untuk meminta tangan pujaan hatinya pada sang Ayah.


"Saya disini hanya sebagai seorang Ayah yang hanya bertugas mendidik, membesarkan, memberikan banyak ilmu yang saya punya serta menyayangi putri saya sebagaimana mestinya." seru Arham sambil menggenggam tangan Aretha.


"Memupuk cinta kasih agar anak saya menjadi pribadi yang baik. Agar anak saya tumbuh menjadi pribadi yang selalu menjunjung harkat dan martabat keluarga serta dapat menjaga nama baik keluarga dalam setiap langkah putri saya di luar sana. Saya tidak dapat memberikan keputusan itu karena saya menyerahkan semua keputusan di tangan Aretha." kini Arham berbicara sambil menatap anak gadisnya. Lalu ia kembali lagi meneruskan ucapannya.


"Namun perlu kamu tau, nak. Bahwa saya sangat merestui dan mendukung niat mu menikahi Aretha." sanggah Om Arham.


"Bagaimana, Ay? Apa kamu bersedia menjadi makmum ku, menjadi istri sekaligus ibu untuk anak-anak ku?" tanya Azura kembali dengan sangat lembut namun tegas.


Aretha kembali menatap wajah pria tampan di hadapannya. Entah sejak kapan dan berapa banyak tangis yang tumpah di wajah nya, kini gadis itu ikut maju dua langkah mengambil tangan Azura yang sudah terulur untuk nya, kemudian iya menjawab dengan cukup tenang.


"Iya, aku bersedia menjadi makmum mu. Menjadi istri yang akan selalu mendampingi mu, menjadi Ibu bagi anak-anak mu nantinya dan juga akan selalu mencintai, menyayangimu, sepanjang umurku atas izin sang maha kuasa." jawabnya.


Aretha terisak setelah menjawabnya dan langsung menangis dalam pelukan Bunda Alona.


Setelah rangkaian sesi penerimaan lamaran. Kini saatnya acara pertukaran cincin antara kedua nya. Zee dan Sha-sha yang membawakan cincin mereka.


Azura menggenggam tangan Aretha kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Aretha. Lalu kini giliran Aretha yang memasangkan cincin ke jari Azura. Saat keduanya berhasil memasangkan cincin di kedua jari satu sama lainnya, para hadirin kini bertepuk tangan meriah.


Mereka resmi bertunangan, Aretha yang baru saja lulus S² dan Azura yang beberapa bulan lalu resmi menjadi CEO grup Pierre dan membuktikan kesuksesan nya. Akan mengadakan resepsi pernikahan setelah satu bulan dari pertunangan malam ini.