
Terdengar dari balik pintu, bahwa seseorang tengah memencet tombol password untuk masuk ke dalam apartemen kekasihnya itu.
Claudia langsung bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri kekasih hatinya yang baru saja pulang. Dipeluknya Lelaki tampan yang telah menjadi kekasihnya selama 4 tahun itu dengan sangat posesif.
"Kenapa lama sekali sih, Yank !!" Claudia berkata seakan sudah di tinggal pergi Zayn bertahun-tahun lamanya. Padahal hanya beberapa menit Zayn meninggalkan Claudia dan beberapa menit pula mereka baru saja mematikan video callnya. Sebelum akhirnya Zayn pergi pamitan pulang pada Azura.
"Yank, kan aku harus mengantar Zeo pulang. Belum lagi di luar itu hujan deras, masa aku harus mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Nanti kalau terjadi sesuatu pada aku bagaimana?? Apakah kamu siap menjadi janda sebelum kita menikah.?" Zayn mengelus lembut rambut Claudia dan mengecup bibir ranum kekasihnya yang bagaikan candu.
"Ish, kamu kalau bicara itu suka asal." kesal Claudia, lalu melenggang ingin pergi. Namun, dengan gerakan cepat Zayn menarik tangan Claudia sehingga gadis itu menabrak dada bidang Zayn.
Zayn meraih tengkuk Claudia, menci*m bibir ranumnya yang terlihat begitu sangat menggoda bagi Zayn. Tidak tinggal diam, kini Claudia mengikuti permainan kekasih nya. Membalas setiap serangan yang di berikan Zayn. Sehingga mereka bertukar S*liva dengan pandangan yang berkabut di penuhi hasr*t untuk saling memuaskan satu sama lainnya.
Mereka mendapatkan beberapa kali klim*ks dalam permainan mereka kali ini. Sehingga tanpa terasa waktu sudah semakin menunjukkan pukul setengah tiga pagi.
Zayn mencium pucuk kepala Claudia dan mereka pun langsung terlelap dalam mimpi mereka masing-masing dengan keadaan mereka yang masih sama-sama naked dibawah selimut mereka.
****************
Keesokan harinya di kampus
"Aretha." panggil Zee dan Ammar berbarengan saat melihat Aretha berjalan di lorong kampus.
"Ish, pagi-pagi sudah buat mata gue terkontaminasi aja." sebel Aretha yang melihat Ammar terus menggandeng tangan Zee erat dan posesif.
"Gimana lo kemarin, berhasil?" tanya Zee.
"Entah lah Zee, rasanya lebih buruk dari pada ditolak pacaran."
"Ck, child banget kamu Tha."
"Apa sih Ka?"
"Omongan kamu itu loh, makanya tha cepetan cari pacar deh, biar otak cerdas kamu itu kembali waras." ledek Ammar sambil mengacak-acak rambut Aretha, gemas.
Ammar dan Zee tersenyum senang takala melihat wajah Aretha yang begitu kesal di pagi hari.
"Woy, Nge." panggil Ammar yang melihat Zayn dan Zeo saling tendang, menendang bok*ng mereka bergantian.
"Omg, ini kampus lama-lama penghuninya orang stres semua." bisik Aretha kepada Ammar yang membuat Ammar menciming kan matanya menatap Aretha tak suka.
"Pagi Bing," Sapa Zayn sambil high five dengan Ammar. Kemudian menyapa Zee "Pagi Zee."
"Pagi Ka," Balas Zee menyapa Zayn.
"Eh, ada cewek gila." Kata Zayn.
"Enak aja lo bilang gue cewek gila. Ada juga lo yang gila." sewot Aretha. "Sepertinya wajah Kak Zayn cerah banget hari ini, apa Kakak habis?"
"Kan semalam habis hujan, Tha. Jadi pagi ini cerah lah." ucapan Zeo memotong perkataan Aretha.
"Oh iya Ka, pantas aja." jawab Aretha cepat yang paham akan maksud dari Zeo.
"Ha..ha..ha..," tawa Zeo dan Aretha bergema kompak. Sedangkan wajah Zayn memerah takala mendapati ledekan dari Aretha dan Zeo.
Namun berbeda halnya dengan Zee yang tidak memahami maksud dari sahabat dan sahabat kekasihnya itu apa.
"Ayo Yank, kamu tidak akan mengerti apa yang mereka maksud. Kamu masih di bawah umur, nanti kalau kita sudah sah di mata agama dan hukum pasti kamu akan mengerti yang dimaksud dengan wajah cerah sehabis hujan." jelas Ammar pada Zee.
"Apa maksudnya kamu bilang aku di bawah umur? Aku dan Aretha seumuran Yang, terus apa masalahnya dengan wajah yang cerah sehabis hujan. Memangnya Kak Zayn habis mandi hujan? Kan hujannya malam tadi." Zee semakin binggung.
"Makanya aku bilang kamu masih di bawah umur, ayo kita kekelas aja jangan mendengarkan perkataan mereka."
Aretha dan Zeo Semakin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perdebatan Ka Ammar dan Zee.