
Apartemen Cassagoya*
"Zayn!!" panggil seseorang.
Zayn langsung menengok ke belakang mencari darimana suara yang menyerukan namanya itu.
Deg..
Seketika hatinya langsung berdetak kencang, saat melihat seseorang berdiri tak jauh darinya denganterus memanggil namanya.
"Hey Zayn, how are you. Long time no see. (Hai Zayn, apa kabar mu dan lama tidak bertemu)" imbuhnya pelan dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sedangkan Zayn dengan terpaksa membalas jabatan tangan itu.
"What are you doing here, Zayn? Do you live in this apartment? (Apa yang kamu lakukan di sini Zayn? Apa kamu tinggal di apartemen ini?)" sapa wanita itu dengan sangat lembut.
"No, I don't live here. But this is where my lover lives.(Tidak, saya tidak tinggal di sini. Tetapi di sinilah kekasih saya tinggal.)"
"Really? Do you have a minute? There's something I want to talk to you about, ("Betulkah? Apakah kamu punya waktu sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu.)"
"Five minutes. (Lima menit.)" ucap Zayn malas, Zayn berjalan menuruni anak tangga menuju lantai basement cafetaria apartemen Cassagoya dan di ikuti SeanSean di belakangnya.
*Caffetarian Cassagoya*
"Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" Tanya Zayn dingin, setelah mereka duduk.
"Zayn apakah Azura sudah melupakan ku? Dan apakah kini Azura sudah memiliki kekasih hati?"
"Apa Maksud mu.l?" imbuh Zayn.
"Aku melihatnya di sebuah caffe bersama seorang wanita, dia begitu sangat baik memperlakukan wanita itu seperti dahulu dia memperlakukan ku." ucap Sean sendu.
"Seperti yang kau lihat, Azura baik-baik saja sekarang. Itu tandanya Azura memang sudah melupakan dirimu. Dan kalau soal wanita yang bersamanya benar adalah kekasihnya, kau mau apa? Apakah tidak cukup pelajaran yang kau dapatkan disana sampai kau harus kembali dan membuat ulah. Kamu tau dengan jelas apa yang bisa Azura lakukan pada mu kalau kamu berulah, bukan hanya sekedar kehancuran tapi bisa saja dia melakukan lebih dari pada itu. Jika memang sekarang belum dia lakukan, berarti bahwa Azura masih menghargai mu." sebuah peringatan Yang lebih terdengar sebagai sebuah ancaman yang Zayn katakan. "Waktu mu sudah habis." Zayn ingin beranjak meninggalkan caffe, namun tangan nya ditarik.
"Sebentar Zayn, tolong temui aku dengan nya. Adahal yang ingin aku bicarakan dengan Azura."
"Sorry Sea, waktu mu sudah habis dan untuk hal itu aku tidak bisa." berlalu pergi meninggalkan Sean.
Sean, hanya bisa menatap punggung Zayn yang hilang di balik lift. Sean merasakan bahwa pengaruh orang di sekeliling Azura begitu sangat baik menjaganya. Sampai-sampai tidak ada celah untuk Sean menembus pertahanan mereka untuk bisa bertemu Azura.
***
Tok..
Tok..
"Permisi Pak, saya mau tanya."
"Iya silahkan."
"Untuk pengecekan daftar peserta acara keakraban dengan siapa ya Pak?" tanya Aretha kepada pak Bambang.
"Silahkan kamu tunggu sebentar." Jawab Pak Bambang.
Beberapa menit kemudian, setelah mencari daftar peserta tersebut. Pak Bambang kembali ke hadapan Aretha dan menginformasikan bahwa daftar peserta bisa di tanyakan langsung pada Ketua dan anggota BEM. "Kamu bisa naik kelantai dua, sebelah kanan tangga disanalah ruang kesekretariatan. Kamu bisa langsung bertanya di sana." jelas pak Bambang.
"Baik terimakasih Pak." ucap Aretha sopan lalu Aretha berjalan menaiki tangga dengan sangat cepat.
Sesampainya di depan pintu ruangan kesekretariatan Aretha langsung mengetuk pintu, terlebih dahulu.
Tok..
Tok..
"Permisi Kak," kata Aretha.
"Masuk." ucap seorang Pria yang sedang duduk sambil menandatangani berkas dan proposal.
"KA AZURA?" teriak Aretha.
"Shutt, jangan teriak bisa nggak sih. Mulut lo itu udah kaya kaleng rombeng, pusing gue dengarnya." imbuh Azura sambil menutup telinga.
Aretha hanya memanyunkan bibirnya, merasa kesal atas ucapan Azura.
"Lo Spg apa Model? Berdiri aja disana." ujar Azura santai.
"Aretha boleh masuk dan duduk di sini? Ya Allah gusti kalau lo baik begini rasanya dunia ini tuh indah banget." ucap Aretha dengan tersenyum simpul.
"Lebay lo." Azura berkata sambil menenggak minuman dingin yang ia ambil dari atas meja. "Ada keperluan apa kesini?" ucap Azura.
Namun Aretha hanya terdiam tak menghiraukan perkataan Azura, dirinya hanya memperhatikan wajah tampan Azura dengan seksama.
"Kenapa lo diam? Apakah jangan-jangan lo sedang berpikir yang tidak-tidak." sindir Azura sambil tersenyum menyeringai.
Namun lagi-lagi Aretha hanya terdiam sambil menarik napas dalam-dalam. Lalu, ia berkata dengan intonasi nada pelan. "Kak Azura Albareesh yang terhormat. Bisakah anda memberikan kesempatan untuk saya berbicara?"
"Nama gue itu AZURA EGLAR ALBAREESH, paham? Jangan main lo ganti seenaknya."
Aretha hanya menganggukkan kepala tanpa bersuara sedikit pun. "Kak, bisa tidak untuk Aretha mengikuti kegiatan camp itu?"
"Tidak bisa, kegiatan Keakraban itu wajib di ikuti oleh kalian yang sudah terdaftar dan tidak ada kesempatan lagi untuk yang telat mendaftar kan diri untuk berangkat mengikuti acara tersebut." pekik Azura dengan tegas.
"Tapi Aretha ingin bisa ke sana mengikuti kegiatan camp." tawar Aretha.
"Emm, kenapa terlambat untuk daftar? Pokoknya tidak bisa kegiatan itu wajib untuk mahasiswa yang sudah terdaftar tepat waktu. Gue gak punya banyak waktu untuk melakukan negosiasi."
"Ish." Aretha berdecak kesal sambil mengumpat dalam hati. "Sabar Aretha, sabar, demi kebaikan bersama. Kalau bukan karena ini gue udah bunuh lo." batin Aretha.
"Tidak usah mengumpati gue dalam hati, bagaimana pun lo negosiasi hasilnya tetap, tidak." pekik Azura datar.
"Bagaimana kalau Aretha bantu pekerjaan Kakak? Terus sebagai imbalannya, Kakak memberikan kesempatan untuk Aretha daftar mengikuti kegiatan itu." Nego Aretha pantang menyerah.
"Lo coba bernegosiasi?"
Aretha mengangguk "Please."
"Boleh, lo bisa bantu pekerjaan gue sekarang dan ambil form daftarnya di apartemen gue, setuju??" tersenyum menyeringai.
"What, kenapa harus ambil di apartemen lo? Gue gak mau kalau harus ambil di sana, nanti gue diapa-apain sama lo lagi." kesel Aretha.
"Eh Cewek bar-bar, ternyata otak lo mes*m ya. Gimana mau gak? Hanya itu kesempatan lo satu-satunya."
"Tapi kenapa harus di apartemen lo sih, kenapa gak di caffe atau dimana saja lah asalkan jangan di sana?" sebel Aretha masih berusaha protes.
"Lo mau nggak? Tenang aja, gue gak bakalan macem-macem kok sama lo. Palingan cuma satu macem aja." ledek Azura.
"Tuh kan, gak macem-macem tapi cuman satu macem." ucap Aretha kesel.
"Yaealah, masa cewek bar-bar kaya lo takut sih gue macem-macemin." ledek Azura kembali, yang entah kenapa membuat Azura merasa sangat begitu bahagia melihat Aretha kesal seperti itu.
"Iya deh oke, terpaksa." jawab Aretha cepat, ia sudah tak ingin berdebat dengan Pria menyebalkan seperti Azura.
"Ha..ha..ha" tawa Azura memenuhi seluruh ruang kesekretariatan.
"Ya udah, sekarang lo bisa kerjain tugas gue. Nanti gue kabarin alamat apartemen gue dimana. Gue cabut dulu." bisik Azura di telinga Aretha.
"TAPI, ARETHA MASIH PUNYA TUGAS." teriak Aretha.
"Gampang, lo bisa kerjain tugas lo disini sekalian tugas gue."
"DASAR LO COWOK NGGAK BERPERASAN." teriak Aretha.
Setelah keluar dari ruangan, Azura melangkah pergi ke parkiran kampus dan melajukan mobil sport kesayangan nya.
*****
Empat jam telah berlalu dari pertemuan terakhir antara keduanya di kampus.
Aretha is calling Azura.📞
"Lo dimana sih?" tanya Aretha kesal. Lantaran sudah hampir 30 menit lamanya, ia menunggu di depan pintu lobby apartemen milik Azura.
"Bentar, gue masih di jalan." imbuh Azura santai.
"Gue udah nungguin lama tau nggak!!" rajuk Aretha.
"Iya bentar, gue di lampu merah depan apartemen. Tinggal putar arah sampai. Jangan marah-marah gitu dong." sangah Azura dengan memegang kemudi cepat, agar cepat sampai.
"Ini tuh udah jam berapa? Lo kan janji tadi jam 19.00, kenapa sekarang lo yang ngaret." Seru Aretha sebal.
"Iya, tadi gue balik bentar ke rumah nyokap gue. Ini gue udah di basement Apartemen, gue tutup telpon lo." kesel Azura.
Tut..
Tut..
Sambungan telepon pun berakhir. Setelah beberapa menit, akhirnya Azura pun tiba di lobby dimana Aretha tengah menunggunya.
"Sorry ya nunggu lama." ucap Azura tulus, serta mengajak Aretha ke dalam lift menuju lantai tertinggi apartemen P'avenue park.
Saat mereka sudah berada di depan pintu bercat putih langsung Azura membuka code pintu apartemennya.
Cklek!!
"Masuk, lo anggap aja ini rumah lo." ajak Azura. "Kalau mau minum, lo bisa ambil di sana." sambil menunjuk kulkas di dapur. "Lo bisa minum dulu dan gue ganti baju bentar."
"Emm." dehem Aretha malas.
Setelah beberapa menit, "Gimana mau sekarang daftar nya?" tanya Azura saat baru keluar kamar dan mendudukkan dirinya di sofa.
"Em," Aretha mengangguk.
"Ya sudah, silahkan mulai isi."
Aretha membuka laptop milik Azura. Kemudian ia mulai mengisi satu persatu dengan telaten.
"Ini sudah Aretha isi Kak, apakah harus melampirkan foto di sini?" tunjuknya pada laptop Azura. Karena sebelumnya Aretha sudah di izinkan masuk ke dalam link pendaftaran untuk Aretha bisa mengikuti kegiatan Keakraban kampus mereka.
"Ya." tak berapa lama Azura kembali berkata. "Kenapa fotonya jelek sekali." protes Azura ketika melihat foto yang sedang di upload Aretha.
"Memangnya kenapa? Ini kan hanya lampiran." jawab Aretha.
"Kenapa nggak pakai foto lo yang sedikit lebih cantik." saran Zura sambil tersenyum smrink.
"Ish, kenapa cuma sedikit cantiknya." ucap Aretha manyun.
"Cepetan, lagian ini tuh udah malam. Gue mau istirahat, malah masih aja ngebahas ini. Seharusnya ini tuh sudah beres dan sudah gue laporin. Berhubung gue kasihan sama lo, jadi gue kasih kesempatan lo sekarang."
"Iya, oke. Nyebelin banget sih jadi Cowok." ucap Aretha pelan namun masih bisa di dengar. "Ini foto gue mau yang mana yang dilampirkan." menunjukkan beberapa koleksi fotonya lewat handphone.
"Yakin itu lo? Kok cantikan di foto sih daripada aslinya." ucap Azura meledek Aretha.
"Ayo lah Ka, katanya udah malam. Lo minta foto gue yang cantik, gue kasih foto gue yang cantik kok lo komen! Ada baiknya lo kasih gue minum aja dari pada lo komen foto gue. Kalau kaya gini kapan kelarnya coba?"
"Ish, kok jadi lembut nada suara lo."
"Huft," Aretha menarik napasnya perlahan. "Gue males debat sama lo Kak!"
"Oh,"
"Kak?" saat ingin meneruskan ucapannya, malah justru terdengar suara perut Aretha yang Kelaparan.
"krukk... Kruukkk.."
Azura mengernyitkan dahinya. "Itu suara perut lo?" tanya Azura.
"Iya, he..he.." cengir kuda.
"Yaudah, gue buatin lo omlet. Karena hanya ada bahan itu saja yang bisa gue buatin."
"Tapi Ka?!"
"Tidak terima penolakan, gue gak mau nantinya di bilang pelit."
"Ish, baiklah kalau memaksa."
****************
*kediaman Zeo.*
"Bing, anterin gue ke apartemennya Azura yok?" ucap Zayn.
"Tumben lo malam-malam ke Apartemen Azura." jawab Zeo binggung.
"Kabelnya Claudia ketinggalan di sana, orangnya ngamuk minta gue ambil. Kalau gak gue ambil, nanti gue gak di kasih jatah."
"Aish sialan lo, Men. Giliran susah lo nyamperin gue, giliran lo enak gak ngajak gue."
Plakk!!
"Masa ia Claudia gue bagi ke lo, ayok cepet." sungut Zayn kesal.
****************
"Aretha." panggil Azura dari arah dapur namun tidak ada jawaban.
"Tha, ini omlet lo udah jadi. Lo makan di sini ya, nanti kalau dingin malahan gak enak." imbuh Azura yang sedang merapihkan peralatan memasak tapi tidak ada jawaban dari Aretha.
"Astaga, lo itu bener-bener cewek aneh bin ajaib. Gak ada tiga puluh menit lo kelaparan tapi sekarang malah justru lo tertidur lelap seperti ini. Pasti lo lelah banget, sorry Tha kalau gue bikin lo lelah seperti ini dan ternyata lo begitu cantik saat sedang terlelap." gumam Zura sendirian.
Azura tidak tega untuk membangunkan, akhirnya Azura pun mengambil selimut dan menyelimutkan Aretha.