
"Bee, boleh aku menanyakan sesuatu.?"
"Mm," jawab Azura singkat.
"Boleh tidak, kalau aku tahu dimana ka Ezra dimakam kan?" tanya Aretha ragu.
"Tentu boleh, besok pagi kita berangkat kesana ya." jawab Azura sambil tangannya terus mengusap lembut pipi Aretha.
"Terimakasih bee." Aretha tersenyum manis.
*
*
*
Pagi ini Aretha terlihat begitu sangat cantik. Dengan balutan sederhana antara turtleneck white and Pegged Pants broken white yang membalut di tubuh nya. Tak lupa juga ia mengaplikasikan makeup natural agar semakin terlihat sempurna. Ditambah rambut panjang yang tergerai indah dengan sedikit Curly di bagian bawah. Ia berjalan turun, berniat untuk menyiapkan sarapan mereka berdua. Karena Zeevana dan Ammar masih belum kembali dari rumah orang tua Zee.
"Ay." sapa Azura yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
Aretha tersenyum. "Aku cantik?" tanyanya dengan sangat percaya diri.
Azura mengangguk, mengiyakan.
"Terimakasih bee," Aretha duduk lalu meminum susu coklat hangat milik Azura.
"Ay, itu punya ku." kata Azura.
"Nanti aku ganti, langsung dari sapinya."
"Bener?" goda Azura.
"Mm, tenang aja. Aku banyak uang kok." balas Aretha pamer.
Azura terkekeh mendengar nya. Aretha yang pamer itu terdengar menyebalkan namun terlihat lucu untuk Azura.
Setelah mereka menghabiskan sarapan nya, mereka langsung pergi menuju makam dimana Azera dimakamkan. Mereka menempuh perjalanan hampir satu jam dari villa dengan kecepatan sedang.
Azura menggandeng tangan Aretha, saat berjalan kearah makam tersebut.
Aretha berdiri menatap nisan yang bertuliskan nama dari sahabat kecilnya. Sudah hampir sepuluh tahun ia mencari-cari keberadaan sahabat nya itu dan ingin sekali bertemu dengan nya, namun kenyataan nya ia hanya mampu bertemu disaat pria itu sudah tak lagi di dunia ini.
"Taruh bunga nya Ay." seru Azura.
Aretha tersenyum kecil, lalu menaruh rangkaian bouquet bunga mawar itu diatas makam Azera dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Assalamualaikum, brother. Sorry gue baru kesini lagi. Habis belakangan ini gue sedikit sibuk. lo gak akan marahkan sama gue?" sapa Azura.
Mendengar kekasihnya menyapa Azera. Aretha langsung menoleh pada pria tampan disampingnya yang masih mengenakan kaca mata hitam nya.
Azura berjongkok disamping makam Azera, ia mengusap nisan itu. Kemudian menuangkan air mawar dan menabur bunga yang ia bawa serta tak lupa memberikan gift berupa sebuah do'a. Serta diikuti oleh Aretha yang juga berjongkok dan berdoa.
"Zer, lo kenal gak sama wanita cantik yang ada disamping gue ini?dia sahabat lo, yang lo titipkan buat gue. Tapi sekarang dia itu pacar gue. Lo jangan iri ya?" ujar Azura dengan nada yang terlihat ceria.
Aretha tersenyum mendengar nya. Dalam situasi ini, ia terlihat berbeda dari Azura biasanya.
"Gue udah tepatin janji gue. Gue udah ceritakan keaadan lo sama dia. Sekarang lo bisa pergi dengan tenang dan bahagia ya. Lo gak usah takut sekarang, gue yang akan jangain wanita cantik ini." Azura menatap Aretha dan mengusap lembut kepala Aretha. "Sekarang gue izinin sebentar buat lo bisa bicara sama pacar gue, inget jangan buat dia nangis. Gue cuman izinin lo buat ngobrol."
"Ay, aku tunggu kamu disana."ucap Azura beralih pada kekasih nya, sambil bangkit dan berjalan sedikit menjauh agar Aretha dapat leluasa untuk berbicara.
Setelah Azura pergi, Aretha menjadi canggung sendiri.
"Ka, apa kabar?" tanya Aretha. Dia menghela nafas nya sebentar sebelum kembali meneruskan kata-katanya.
"Maaf, Aretha baru nemuin kakak. Aretha baru mengetahui nya dan sebelum nya juga Aretha mau mengatakan bahwa hati Aretha sudah berpindah ke ka Azura. Habisnya kakak sudah ningalin Aretha tanpa kasih kabar selama ini. Maaf ya ka, Aretha sudah tidak lagi setia dan Aretha juga sudah bisa menerima semua alasan kepergian kakak. Aretha memaafkan janji yang kakak sudah ingkari itu. Kak Ezra sudah boleh kok untuk pergi dengan tenang dan bahagia ya di sisi nya. Kakak juga tidak perlu khawatir lagi pada Aretha, karena kakaknya ka Ezra juga baik banget sama Aretha. Terimakasih ya kak sudah mempertemukan ka Azura dengan Aretha." menghela nafas "Aretha pamit pulang dulu. Lain waktu Aretha akan kembali kesini buat nengokin ka Ezra." Aretha kembali menarik nafasnya yang terasa berat. Ezra sudah tidak bisa lagi menjawab semua yang ia bicarakan, hati nya sedih dan pilu pada kenyataan yang ada didepannya. Namun ia juga sudah bertekad untuk melapangkan dada menerima semua ini. Ia menyadari bahwa kenyataan yang ada kini, ka Ezra sahabat kecilnya sudah berada di alam yang berbeda yang tentunya lebih baik bagi ka Ezra. Setelah pamit pulang pada Ezra, Aretha berjalan menuju kearah dimana pria tampan yang begitu sangat ia cintai sedang berdiri menunggu nya di pinggir sebuah tebing.
Aretha langsung memeluk tubuh Azura dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu.
Azura membalasnya dengan mengusap lembut punggung tangan Aretha dan mengurai pelukan Aretha untuk bisa menghadap ke arah Aretha. Ia tatap lekat-lekat wajah teduh kekasihnya.
"Aku berharap, kamu bisa memaafkan Azera. Azera tidak benar-benar melupakan bahkan mengingkari janji nya. Ia sudah menceritakan semua tentang mu dan kejadian apa yang membuat mu kecewa pada nya. Ia pergi saat itu karena memang pesawat pribadi kami memang harus terbang saat malam itu juga, bahkan sebelum dirinya koma dan meninggal, ia masih bersikeras untuk meminta maaf. Ia juga menyuruh aku untuk mencari mu dan menjaga mu. Kamu tahu, pada saat liburan usai. Kami semua kembali pulang ke Indonesia. Daddy menyuruh kami untuk pulang dan tinggal di Jakarta. Bahkan satu hari setelah baru sampai di Jakarta, Azera langsung meminta aku untuk ikut menemani nya ke Bandung untuk menemui sahabatnya itu. Disaat setengah perjalanan, hujan deras disertai petir kencang mengguyur mobil kami. Sehingga jarak pandang menjadi kurang baik. Dan disaat itulah mobil kami menabrak pembatas jalan dan juga menabrak mobil odyssey hitam dari arah berlawanan. Namun naasnya justru Azera keluar terpental dan tubuh nya terpelanting membentur trotoar sebelum akhirnya ia terbaring koma dan meninggal. Apa sekarang perasaan mu sudah lega? Kamu harus percaya. Mungkin Allah lebih sayang Azera, makanya Azera pergi lebih dulu. Kamu juga harus selalu tersenyum, kalau kamu bahagia di sana Azera juga pasti bahagia." ujar Azura panjang lebar.
Aretha mengatupkan mulutnya, kali ini selaput bening yang ia tahan pecah dan air mata nya mengalir dalam pelukan kekasihnya. Pelukan dan perkataan Azura tadi mampu membuat hati nya sedikit lebih tenang. Ia kini tahu alasan nya kenapa ka Ezra nya pergi dengan tidak berpamitan pada nya.