WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 20



"Cabut Bing, My wife gue udah ngamuk-ngamuk di apartemennya." ucap Zayn frustasi sambil mengacak rambut.


"Ngebet banget emangnya?" imbuh Zeo.


"Verdomme, weet je." (sialan, lo tau aja.)" ucap Zayn dengan bahasa Belanda.


"Michin. (Gila)" pekik Azura yang tak habis pikir.


"Ha..ha.." Aretha tertawa mendengar umpatan Azura yang mengumpat Zayn menggunakan bahasa Korea.


Trio ZAZEZU menatap horor ke arah Aretha yang tiba-tiba tertawa.


"Gekke vrouw" ucap Zayn.


"Enak aja lo ngatain gue cewek gila, ada juga lo yang gila!" ucap Aretha kesal.


Zayn yang mendengar umpatan Aretha tertawa pelan. "Gue kira lo nggak ngerti, ternyata lo pintar juga." sangah Zayn, kagum.


"Berarti lo tadi paham dong gue ngomong apa ke Zeo?"


"Emm, cepet sana salurin. Cewek lo ntar malahan solo karir." tertawa meledek.


"Emangnya bisa cewek bersolo karir? Gimana caranya?" tanya Zeo ke Aretha dengan wajah yang teramat binggung.


Dan hanya gedikan bahu yang Aretha berikan.


"Sial lo cewek gila." membuat Zayn langsung buru-buru balik karena takut Aretha kembali menjuliti dirinya lagi.


"CABUT GUE BING, JANGAN NGIKUTIN JEJAKNYA SI KAMPRET MEN. SUSAH LEPAS KALAU SUDAH KEENAKAN DAN KETAGIHAN." teriak Zeo yang sudah tak terlihat lagi di balik pintu. Namun, suaranya masih dapat di dengar.


"Ish." kesel Aretha.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Azura mengambil sebuah kunci mobil di atas nakas yang hendak mengantar Aretha pulang.


****************


"Thank's Bing," perkataan Zayn saat mereka sudah berada di pelataran kediaman Zeo.


"Slow Men." ucap Zeo pada Zayn. Mereka bertos, sebelum akhirnya Zeo membuka seatbelt mobil Zayn dan turun dari dalam mobil.


"Hati-hati."


"Oke," Zayn kembali menaikkan kaca mobilnya dan berlengang pergi untuk kembali ke apartemen Claudia.


****************


"Ayo!!"


"Kemana?" tanya Aretha bingung.


"Emangnya lo nggak mau pulang? Atau lo mau nginep dan tidur bareng gue?" sanggah Azura dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ish mesum lo." Aretha dengan cepat membereskan barang-barangnya yang tergeletak di atas meja ruang tv dan berlalu keluar mengikuti langkah Azura yang sudah menunggunya di depan pintu.


"Ternyata, bukan lo doang ya yang mesum. Tapi duo cengek tadi juga ternyata mesum. Kalian itu emang klop banget jadi gue akan bikinin kalian trio. Yaitu trio ZAZEZU." beo Aretha, lalu terkik geli.


"Em," Azura mengakat sebelah alisnya lantaran ocehan Aretha yang menurutnya aneh.


"ZA, ZE, ZU, Gimana bagus, kan?"


"Bagus apanya?" heran Azura.


"ZA, Zayn, ZE, Zeo, ZU, zura." celoteh Aretha di sepanjang lorong namun hanya di dengarkan saja oleh Azura tanpa disadari oleh dirinya sendiri membuat Azura tersenyum simpul lantaran sikap Aretha yang menurutnya sedikit childisth, namun entah kenapa membuat Azura menyukai hal itu.


Mereka berdua pun memasuki lift, Azura menekan tombol lantai menuju lantai dasar atau lantai basment dan akhirnya pintu pun tertutup bersamaan dengan ocehan Aretha. Karena setelah itu, Aretha terdiam tanpa banyak kata. Di saat lift mulai menuruni setiap lantai, tiba-tiba saat berada di lantai dua puluh satu lift terbuka dan menampilkan seseorang yang hendak masuk lift dari lantai club, tersebut.


"AZURA." panggil seorang wanita yang sudah lama Azura hindari, tetapi hari ini justru malah mereka bertemu di dalam satu lift yang sama.


"How are you? We haven't seen each other for a long time, since that day. (apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu, sejak hari itu.)" ucap sang wanita yang berdiri tepat di samping mereka.


Azura hanya menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan dan lekat penuh kebencian.


Azura tersenyum mengejek, "Jangan berharap gue itu masih sama seperti Azura yang dulu. Buat gue sekarang lo itu gak penting!" ucap Azura ketus sambil merangkul pinggang Aretha dengan posesif.


Deg..


Sontak membuat Aretha merasa sangat begitu terkejut. Namun sepertinya Aretha paham akan situasi yang terjadi saat ini, di dalam lift.


Sean Sueanna Racal mengerti bahwa sifat Azura begitu dingin dan keras kepala. Apalagi kalau dia sudah berbicara seperti itu, maka akan sulit untuk dirinya nanti. Sean tidak ingin memperburuk keadaannya sekarang, maka lebih baik dirinya mengalah untuk diam. Tetapi tidak untuk menatap gadis yang bersama Azura di lift, ia menatap dengan tatapan yang begitu sinis, seperti hendak melahap mangsanya.


"Tring!"


lift terbuka di lantai basement Apartemen, Azura langsung keluar menggandeng tangan Aretha tanpa memperdulikan Sean yang tengah menatapnya.


Lagi-lagi Sean hanya bisa memperhatikan Azura dari kejauhan ketika Azura membuka kan pintu mobil untuk Aretha dan merentangkan telapak tangannya diatas kepala Aretha, membuat Sean berpikir bahwa apa yang di katakan Zayn benar. Kalau memang lelaki yang dulu takut kehilangannya kini terlihat begitu sangat mencintai gadis itu, seolah-olah tidak ingin Aretha terluka.


Aretha yang mendapatkan perlakuan istimewa itu merasa senang namun sekaligus tak enak hati melihat wanita itu menatap nya dengan tatapan sedih. Sehingga Aretha hanya bisa tersenyum.


Dalam perjalanan menuju ke arah apartemen Aretha, mereka hanya saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing tanpa ada yang berbicara sedikit pun.


"Ehem." dehem Azura yang memecahkan keheningan.


"Sorry, buat yang tadi." ucap Azura tulus tanpa melihat ke arah Aretha. Karena fokusnya masih pada jalan di depannya.


"No problem, gue tau akan situasi canggung itu. Jadi untuk kali ini gue nggak masalah."


Azura tertawa, "Lo itu lucu banget ya." Ujarnya sambil mengacak-acak rambut Aretha. "Terimakasih, sudah mengerti akan situasi tadi."


Aretha mengangguk kan kepala seraya tersenyum.


Saat berada di tengah perjalanan menuju Apartemen Aretha. Langit tak secerah tadi seperti disaat mereka keluar dari Apartemen P'avenue park. Perlahan demi perlahan rintikan hujan mengguyur mobil Azura serta di iringi suara petir yang begitu menggelegar.


JEGERRR.. JEGERRR...(anggap saja suara petir.)


"AGKHHH!!!!" teriak Aretha, sambil menggenggam erat paha Azura. Dengan deru napas yang memburu, keringat yang bercucuran dan detak jantung tak lagi beraturan.


"AUWW," pekik Azura yang merasakan sakit di pahanya akibat cengkraman tangan Aretha. Sesaat kemudian Azura melihat keadaan Aretha yang sudah mulai pucat pasi akibat rasa ketakutannya.


"Hey, lo kenapa?" tanya Azura yang ikut panik melihat badan Aretha bergetar hebat. Tanpa banyak berpikir, Azura langsung membanting stir untuk berhenti di pinggir jalan.


"Hey, are you okay? Please answer my question?! (Hei, apakah kamu baik-baik saja? Tolong jawab pertanyaanku?!)" pekik Azura dengan nada yang panik. Lagi-lagi Aretha tak menjawab nya, membuat Azura semakin khawatir.


Reflek, Azura memeluk tubuh Aretha dengan sangat erat dan membisikkan sesuatu di telinga Aretha dengan nada suara yang terdengar begitu menenangkan.


"Don't worry, you'll be fine. Because I'm here. (Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja. Karena aku di sini.)"


Aretha menatap wajah Azura dengan tatapan sendu dengan manik mata yang sudah mulai berkaca-kaca, Azura yang melihat tatapan itu pun langsung menyambut hangat. "Ada aku di samping kamu." Kembali berusaha membuat Aretha agar tenang. Lain halnya dengan Aretha yang hanya terdiam, seolah meminta perlindungan yang jauh lebih lama.


Mata mereka bertemu, menelisik jauh lebih dalam. Mereka menemukan rasa nyaman yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan dan mereka pun melihat kalau diantara mereka berdua pun juga menyimpan segala rasa sakit di hati terdalam mereka masing-masing. Mereka merasakan kehangatan satu sama lain, merasakan kenyamanan yang telah lama pergi, tanpa disadari Azura sudah menautkan wajahnya mendekati wajah Aretha dan mencium bibir Aretha sekilas. Dirasa tidak ada sebuah penolakan terhadap dirinya, kini Azura kembali mereguk bibir manis itu dengan lebih dalam. Aretha pun membalas ciuman itu dengan penuh kenyamanan.


Azura melepaskan pungutan bibirnya takala melihat asupan oksigen Aretha hampir habis dan setelah itu Azura langsung membelai rambut panjang Aretha dengan penuh kelembutan. "Sorry, kalau gue lancang."


"Ka?"


"Em,"


"Aretha takut, Ka." dengan nada yang parau.


"Tenang ya, aku ada disini. Sekarang kamu gegam tangan aku dan perlahan pejam kan mata lalu bayangkan hal-hal yang menurut kamu indah."


"Tapi aku nggak bisa Ka, aku harus pakai headset dan mendengar kan lagu sekeras mungkin agar aku tidak mendengar suara petir itu."


"Aku yakin, kamu pasti bisa." Serunya masih menatap Aretha.


Aretha menggeleng ragu.


"Sekarang kamu coba pejamkan mata dan rasakan hal-hal indah itu mengisi bayangan ketakutan kamu. Kamu anggap saja kamu tengah berada di satu konser musik yang begitu menggelegar sehingga kamu dapat mendengarkan lantunan suara lagu-lagu itu di telinga kamu."


Aretha mencoba mengikuti instruksi yang Azura berikan, perlahan demi perlahan, Aretha mulai tenang dan Azura pun dapat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang di bawah guyuran hujan itu.