
"Bee, wanita itu.?" Aretha berkata sambil memandangi wajah kekasih nya.
"Wanita itu adalah Yoona Kartika Moreira, dia adalah wanita yang melahirkan ku. Dia adalah Mommy ku." seru Azura pelan.
Deg.
Hati Aretha langsung bergemuruh, ia diam terpaku di tempatnya. Ia merasa bingung, entah apa yang harus ia katakan. Matanya terus mengerjap mencerna ucapan kekasihnya sekaligus kenyataan yang ada. Hati nya terasa begitu sakit mendapati kenyataan yang ada, saat ini. Rasanya ingin marah dan menangis saat itu juga. Namun rasa di hati dan tubuh nya menjadi tak selaras, ia seperti sangat shock mendapati kalau Mommy kekasih nya adalah Mommy yang sama dari sahabat kecil yang sudah pergi meninggalkan nya.
Aretha terus mengulang serangkaian demi serangkaian ucapan Azura sedari tadi.
"Cincin." ucap Aretha lemah.
Azura mencoba meraih tangan Aretha, ia merasa bersalah pada gadis itu. Namun justru gadis itu melepaskan tangan Azura, seperti menghindari sentuhan itu.
"Ayca Berguzar Bareesh. Itu berarti." ucapnya kelu saat mengingat kembali tentang cincin dan nama yang menurut nya itu juga adalah nenek dari Ezra.
"Kembaran? Yang berarti itu adalah Ezra Azera Eglar Albareesh. Yang berarti adalah sahabat nya.
"Meninggal." kini Aretha berseru dengan sangat pelan sambil meneteskan air mata nya.
Aretha kembali menatap wajah kekasihnya dengan tatapan penuh kekecewaan yang sulit untuk diartikan. Serasa tawa dan tangis, ia rasakan bersamaan hari ini.
"Ay," Azura kembali menggenggam tangan Aretha. kali ini ia tidak menghindar atau melepaskan seperti sebelumnya. Aretha hanya terdiam dengan tatapan nanar nya.
Azura yang kembali melihat kesedihan mendalam pada tatapan mata gadis yang ia cintai. Malah justru tatapan mata itu semakin bertambah terluka. Begitu membuat hati Azura ikut terluka, tidak ada luka yang lebih menyakitkan hati nya selain ia menatap tatapan kecewa yang saat ini ia lihat dari tatapan kekasih nya.
"Aku mau pulang." ia berkata seraya berdiri dan ingin pergi.
"Ay maaf, kalau aku melukai hati mu. Tapi inilah kenyataan yang harus aku katakan, aku tidak ingin kamu mengetahui hal ini dari orang lain. Bahkan disaat hubungan yang terjalin antara kamu dan aku dengan waktu yang sudah cukup lama. Aku tidak ingin membohongi mu terlalu lama, maka dari itu aku berusaha untuk secepat mungkin memberitahukan semua ini. Tidak perduli kamu akan marah, aku hanya berusaha untuk Jujur dan tidak membohongi mu. Sungguh, ay. Aku sangat mencintaimu terlepas dari siapa Azera bagi mu. Terlepas dari masalalu buruk mu, aku hanya ingin kita menjalani hubungan ini tanpa ada rasa bersalah ku terhadapmu. Atas rasa marah mu terhadap kembaran ku. Aku ingin menyudahi ini semua dan aku ingin mencintaimu seutuhnya. Maaf jika aku terlalu egois." Azura berusaha memberikan pengertian meskipun ia tahu akan sia-sia. Namun setidak nya ia sudah menjelaskan apa yang ada di hatinya.
"SEJAK KAPAN? SEJAK KAPAN KAMU MENGETAHUI JIKA SAHABAT KU ITU ADALAH SAUDARA KEMBARAN MU? SEJAK KAPAN AZURA?" teriak nya sambil menangis.
"Ay, please. Don't cry like that. I can't bear to see it. (Ay, kumohon. Jangan menangis seperti itu. Aku tidak sanggup melihat nya.)
"SEJAK KAPAN? SEJAK KAPAN AZURA?" Aretha kembali berteriak.
"Mm, sejak di rumah sakit Wilhelmina hospital." jawab Azura pelan, namun masih bisa Aretha dengar.
Aretha tersenyum getir, sambil terus meneteskan air mata. "Kenapa baru hari ini kamu mengatakan semuanya, kenapa? Apa ini yang kamu bilang untuk tidak membohongi ku. Tapi kenyataan kamu sudah terlalu lama berbohong Azura. Kenapa tidak kamu katakan di hari dimana kamu meyakini itu, jika kamu memang tidak berniat untuk tidak berbohong."
"Aku sudah berusaha untuk mengatakannya. Tapi tidak mudah untuk aku meyakinkan diri ku untuk langsung jujur kepada mu. Itu sungguh membuat ku, sulit. Terlebih lagi aku mencintaimu, aku harus memilih waktu yang tepat agar kamu tidak merasakan kekecewaan dan aku tidak siap jika harus ditinggal pergi untuk ketiga kalinya. Aku tidak siap ditinggal kan oleh orang yang aku cintai Aretha." Azura berkata sambil menahan tangisnya.
Rasanya sakit membuat keputusan bahwa ia harus melukai orang yang saat ini ia cintai. Tapi hati nya juga marah untuk tetap berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Azura. Ia langsung berlari keluar apartemen Azura.
"Tunggu Aretha" Azura berlari mengejar Aretha dan memegang erat tangan gadis itu, saat ia berhasil mendapatinya. "Biarkan aku tetap bertanggung jawab terhadap diri mu. Aku tidak ingin membiarkan kekasih ku pergi seorang diri dimalam hari meskipun dalam keadaan marah, aku antar kamu pulang ke apartemen mu, setidak nya aku melihat mu dalam keadaan baik-baik saja." Azura menjeda sedikit ucapan nya dan menarik nafas. Lalu kembali berkata. "Aku, akan kasih waktu kamu sendiri untuk memikirkan hal apa kedepan nya yang akan kamu pilih. Dan aku mencoba berusaha menerima apapun yang menjadi keputusan mu. Aku akan selalu menunggu mu, jadi biarkan sekali ini saja aku mengantar mu untuk pulang."
Aretha hanya terdiam. Ia tidak mengiyakan juga tidak menolaknya. Lalu, mereka masuk kedalam lift bersama-sama menuju basement dan Azura masih tetap sama memperlakukan Aretha. Ia masih membukakan pintu untuk kekasihnya masuk dan kembali dengan Azura yang membelah jalan dengan kecepatan di atas rata-rata.
Deru mesin mobil yang terdengar halus, kemudian tertutup oleh lantunan lagu yang terputar di head unit in dast mobil Azura. Sepertinya, Azura tidak ingin suasana di dalam mobil menjadi tidak nyaman. Keheningan tetap menjadi penghantar Azura membelah jalan ibu kota. Ya, selama perjalanan menuju apartemen Aretha. Azura memberikan ruang untuk Aretha berpikir.
Aretha hanya diam merenung dan menyenderkan kepalanya di kaca jendela mobil. Sepertinya ada banyak hal yang ia pikirkan saat ini, sesekali pundaknya terlihat naik turun. Ia tengah menangis, bukan Azura tidak perduli terhadap nya. Justru saat ini Azura hanya tidak ingin memperkeruh keadaan. Ia tidak ingin menambah rasa kekecewaan lagi pada Aretha. Dibilang pasrah pada kenyataan, buat Azura tidak ada kata pasrah sebelum ia berjuang pada titik terlemah nya. Hanya saja ia sedikit memberikan ruang agar Aretha bisa memikirkan hal ini dengan cukup bijak.
Setelah hampir beberapa menit membelah perjalanan. Akhirnya mobil Azura tiba di depan parkiran apartemen Aretha.
"Ay, sudah sampai." ia berkata sambil berusaha membuka seat belt ditubuh Aretha. Lagi-lagi, Aretha menolak nya.
"Aku bisa sendiri. Terimakasih." dengan segera ia turun dan berjalan ke dalam loby apartemen nya tanpa berpamitan seperti biasanya pada Azura. Azura yang mendapati hal itu hanya bisa menghela nafas, lalu kembali melajukan mobilnya.
*
*
*
*
*
Azura mencoba tetap fokus pada jalan yang berada di depan nya. Namun kini pikirkan nya begitu teramat kacau dan kalut. Ia menepikan mobilnya di jalan yang sedikit lebih sepi dan menenggelamkan wajah nya diatas setir. Ia tidak ingin jika kejadian yang pernah ia alami akan terulang lagi. Kecelakaan yang terjadi ketika ia sedang dalam masalah dan mengemudikan nya dengan sangat kencang.
Azura mencoba menghubungi Ammar, mungkin Ammar bisa membantu nya dan menenangkan diri nya yang sedang tak tentu arah. Ia mengambil ponsel di saku jeans nya, lalu menekan nomer ponsel bertulis kan brother Ammar. Ia terus menghubungi nomer itu namun tak ada jawaban dari seberang sana. Menekan nomer tersebut untuk kedua kalinya dan masih tidak ada jawaban. Terus berulangkali namun masih tetap tak ada Jawaban.
Akhirnya ia pun mengirimkan sebuah pesan Whats*pp kepada Ammar namun juga tak mendapatkan balasan. Azura semakin kesal dan membanting ponselnya asal. Ia tak perduli sekalipun ponsel itu rusak atau layar nya retak.
"Akh, b*ngs*t." kesalnya.
Pria tampan itu menyenderkan tubuhnya dan mengusap wajah nya dengan kasar, emosinya tidak bisa dia kendalikan. Azura berusaha menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, berharap dapat mengontrol sedikit emosinya. Setelah berhasil, Azura terpaksa kembali melajukan mobilnya ke apartemen.
Di sisi lain, Aretha sedang menangis sambil memeluk lututnya di atas tempat tidur. Hati nya terasa begitu sakit mendapati kenyataan bahwa ia mencintai kakak dari sahabat masa lalu nya. Bukan hanya kakak, tetapi kembaran dari sahabat nya. Kenapa takdirnya begitu sangat sempit dan rumit. Selama hampir sepuluh tahun ia mencoba menekan rasa rindu sekaligus rasa sakitnya. Saat bertemu dengan Azura ia berusaha untuk melupakan nya sampai pada akhirnya ia berhasil menempatkan nama Azura pada hatinya, meskipun belum sepenuhnya melupakan masa lalu nya, tapi setidak nya ia sudah berhasil mencintai seseorang. Takdir seperti sedang mempermainkan nya. Kenyataan ini seperti sedang menciptakan luka-luka baru dihati Aretha