
"Nanti jika mereka menginap, kamu langsung saja call kakak. Kakak akan datang buat nemenin kamu biar kamu tidak lagi jadi obat nyamuk mereka." tutur Azura memberikan saran.
"Maksud kakak double date.?" tanya Aretha.
"Mm, semacam itu." jawab Azura cepat.
"Gak ah, kan aku dan kakak tidak ada hubungan apapun. Nanti jika mereka beradegan ciuman. Aku tetap akan menjadi obat nyamuk."
"Lalu mau kamu kita ada hubungan?"
"Iyalah, masa kita terus-menerus berciuman tanpa ada hubungan. Itu sih namanya teman tapi mesra. Cuman bisa ngumpet-ngumpet." protes Aretha yang tanpa filter.
Azura menatap wajah Aretha dengan intens. Perlahan mendekati Aretha yang sedang duduk di sebelah nya. Lalu menarik badan Aretha menyerong agar berhadapan dengan nya.
"Kamu beneran mau kita punya hubungan?"
Aretha mengangguk kecil. "Mm, Aretha tidak ingin kalau orang lain berpikir bahwa Aretha wanita yang bisa di cium seenak nya tanpa ada satatus." Aretha terus saja memandangi wajah Azura yang tampan. Pikiran nya menerawang entah kemana, dia seperti terhipnotis pesona Azura saat itu.
"Aku akan mewujudkan nya besok."
"Kenapa harus besok?" protes Aretha.
Azura yang melihat wajah Aretha seperti ini, merasa terganggu. Azura membuang pandangannya ke arah lain. Reaksi seorang pria normal saat sedang berg*ir*h tidak mudah Azura tangani.
"Ini gila, hentikan. Hentikan memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya." batin Azura menyeruak penuh peringatan.
Namun untuk kali ini tubuh dan pikiran nya tak sejalan. Tubuh nya ingin bergerak lebih dari hanya sekedar menatap wajah gadis di depan nya. Sedangkan pikirannya terus protes agar ia tidak bertindak lebih jauh.
Gai r*h merebak dalam darah dan meledak di dalam otak Azura, membuat Azura akhirnya menarik Tengkuk Aretha dan ******* habis bibir ranum itu. Bulu mata Aretha terlihat naik turun sesaat, setelah itu ia memejamkan mata menyambut suguhan yang Azura berikan. membuat Azura tidak bisa berhenti memberikan ciuman di bibir gadis yang menyambut nya.
Sesekali bibir Azura itu menyasar memberikan sentuhan kecil di bagian leher dan tulang selangka milik Aretha.
Sedikit merasakan panas yang menjalar, kedua tangan Aretha mengalung di belakang. Sensasi yang terus meminta lebih membuat Azura tidak tahan. Ia mendorong tubuh Aretha sambil terus melum*tnya ditambah keadaan hujan di luar yang terus-menerus deras yang seolah sedang mendukung kegiatan mereka saat ini.
Disaat tangan Azura mulai masuk kedalam kaos oversize milik Aretha dan mulai meraba lekuk tubuh Aretha, disaat itu juga otak cerdas nya kembali berfungsi.
"Jangan Azura! tidak boleh,ckamu tidak boleh melakukannya. Hal ini akan menyakiti Aretha." otak Azura berputar mencari sebuah kesadaran yang sudah menipis di dalam diri nya. Ia memundurkan tubuhnya, berdiri dan melangkah mundur kedalam kamar mandi.
"KAKAK MANDI DULU, INI UDAH MALAM. BISA-BISA KAKAK TERKENA REMATIK NANTI." ujar nya mencari alasan sambil berteriak dari dalam kamar mandi dan menuntaskan yang sudah menegang.
Wajah Aretha berubah menjadi merah, dia berteriak "Aaaargh,vka Azura kenapa lo bikin jantung gue loncat begini sih.!" gumam Aretha pelan sambil senyum-senyum sendiri. Ia tidak ingin kalau Azura dapat mendengar perkataan nya barusan.