
Aretha memasukan cake cheese strawberry kesukaannya kedalam mulut mungil itu dengan begitu perlahan.
"Apakah enak?"
"Sungguh enak Kak, ini sungguh kue 🍰 cheese strawberry yang paling enak dari yang pernah atau biasanya Aretha makan."
Ujarnya antusias.
"Pantas saja." ucap Azura, sambil mengelap sisa cream strawberry yang menempel di bagian bawah bibir Aretha. Sontak perlakuan Azura membuat Aretha terdiam terpaku seperkian detik.
"Bukan kah tadi lo meminjam gitar akustik itu pada Kak Tiara??
"Ya." mengangguk kecil. "Apa Kakak, mau lihat Aretha memainkannya?" ucap Aretha gugup.
"Boleh,"
"Tapi, jika itu tidak bagus. Please jangan di tertawakan ya?!"
"Iya" tersenyum manis.
Aretha berjalan ke atas panggung minimalis itu dan menarik kursi ke tengah panggung. Ditesnya suara gitar dan di atur nadanya, lalu setelah dirasa cukup sesuai. Ia mulai mainkan sebuah lagu, yang berjudul Bila nanti. lagu yang di popularkan oleh Nabila Maharani.
.
.
.
.
.
.
.
Bila memang engkau tak lagi cinta
Lebih baik engkau katakan saja
Ku relakan bila Kau Ingin pergi
Meninggalkan luka didalam hati
🎼
Cukup sudah kau lukai hatiku
Yang selalu tulus mencintaimu
Ku ikhlaskan semua yang terjadi
Ku akhiri cukup sampai disini
Pergilah engkau bersamanya
Anggaplah diriku yang tak pernah ada
Aku mohon jangan lukai hatinya
Cukup aku saja
Bila nanti engkau tak bahagia
Kembalilah pintu selalu terbuka
Seperti dulu lagi.
🎼
Cukup sudah kau lukai hatiku
Yang selalu tulus mencintaimu
Ku ikhlaskan semua yang terjadi
Ku akhiri cukup sampai disini
Pergilah engkau bersamanya
Anggaplah diriku yang tak pernah ada
Aku mohon jangan lukai hatinya
Cukup aku saja
Bila nanti engkau tak bahagia
Kembalilah pintu selalu terbuka
Namun hati tak kan bisa kembali
Seperti dulu lagi.
Namun hati tak kan bisa kembali
Seperti dulu lagi.
Aretha mendapatkan tepuk tangan dan sorak-sorai para pengunjung yang datang serta melihat penampilannya namun berbeda hal dengan Azura, ia terdiam.
Azura merasakan alunan iramanya yang begitu menohok masuk kedalam hati. Bait demi bait yang di persembahkan oleh Aretha seakan membuka lagi luka lama yang masih terbuka dan seakan kembali di hujani ribuan belati yang menancap di hati. Namun ada rasa yang berbeda yang tidak di mengerti oleh logika cerdasnya. Rasanya, seperti Aretha tengah menghapus sedikit demi sedikit luka itu dari setiap suara merdu yang keluar dari bibir gadis itu. Mencoba menasehati dirinya jikalau dia memang harus mengikhlaskan kepergian Sean demi laki-laki lain. Mungkin dengan dirinya mencoba mengikhlaskan kepergian Sean, dirinya dapat dengan mudah keluar dari belenggu yang menyiksa batinnya sendiri dan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik untuk bisa menemani hidupnya kedepan.
"Kak" panggil Aretha pada Azura. "Boleh Aretha mengatakan sesuatu?" tanyanya ketika sudah kembali duduk di depan Azura.
"Iya, mau mengatakan apa?"
"Maaf jika Aretha terkesan ikut campur dalam urusan pribadi Kakak. Tapi Aretha harus mengatakan apa yang seharusnya Aretha katakan. Aretha tidak tahu masalah apa yang terjadi pada hidup Kakak, tetapi dari yang Aretha tangkap tentang pembicaraan Kak Tiara bersama Kakak ada benarnya kalau tidak baik meninggalkan rumah pada saat keadaan kita yang sedang emosi dan membiarkan masalah terlalu lama berlarut-larut seperti itu." Katanya lalu menghela kan napas sebentar dan kemudian kembali berkata.
"Bunda Alona pernah mengatakan, bahwa cinta kita kepada seseorang tidaklah boleh melebihi kapasitas cinta kita kepada Allah dan Orang tua. Bahkan demi orang yang sangat kita cintai sampai melukai perasaan orang tua kita adalah sesuatu yang tidak benar, Kak. Sesuatu yang berlebihan akan menjadi tidaklah baik, coba Kakak renungkan kembali problem Kakak saat ini."
"Akan Kakak coba."
"Apakah mungkin semua masalah yang Kakak hadapi saat ini tidak lah lepas dari peran penting orang tua Kakak? Mungkin, tanpa di sengaja Kakak sudah sangat begitu melukai perasaannya. Jadi Aretha mohon coba Kakak berpikir kembali. Aretha percaya bahwa Kakak bukan lah Pria pengecut yang bodoh yang tidak bisa mengambil langkah yang yang tepat dan Kakak bisa membuang rasa ego Kakak dan memikirkan kembali kesalahan Kakak. Mau tidak Kakak pada Aretha untuk segera pulang dan meminta maaf?"
"Terimakasih atas perhatiannya. Akan Kakak perbaiki semuanya setelah mengantarkan kamu kembali kerumah." Entah apa yang membuat ia langsung menyetujui saran dari seorang Gadis yang baru saja hadir dalam hidupnya tanpa memikirkan nya terlebih dahulu.
"Sungguh?"
"Iya, Kakak berjanji pada mu." perkataan Azura terdengar tulus.
"Terimakasih Kak, Kakak sudah mau mendengarkan Aretha