
Empat jam telah berlalu dari pertemuan terakhir antara keduanya di kampus.
Aretha is calling Azura.📞
"Lo dimana sih?" tanya Aretha kesal. Lantaran sudah hampir 30 menit lamanya, ia menunggu di depan pintu lobby apartemen milik Azura.
"Bentar, gue masih di jalan." imbuh Azura santai.
"Gue udah nungguin lama tau nggak!!" rajuk Aretha.
"Iya bentar, gue di lampu merah depan apartemen. Tinggal putar arah sampai. Jangan marah-marah gitu dong." sangah Azura dengan memegang kemudi cepat, agar cepat sampai.
"Ini tuh udah jam berapa? Lo kan janji tadi jam 19.00, kenapa sekarang lo yang ngaret." Seru Aretha sebal.
"Iya, tadi gue balik bentar ke rumah nyokap gue. Ini gue udah di basement Apartemen, gue tutup telpon lo." kesel Azura.
Tut..
Tut..
Sambungan telepon pun berakhir. Setelah beberapa menit, akhirnya Azura pun tiba di lobby dimana Aretha tengah menunggunya.
"Sorry ya nunggu lama." ucap Azura tulus, serta mengajak Aretha ke dalam lift menuju lantai tertinggi apartemen P'avenue park.
Saat mereka sudah berada di depan pintu bercat putih langsung Azura membuka code pintu apartemennya.
Cklek!!
"Masuk, lo anggap aja ini rumah lo." ajak Azura. "Kalau mau minum, lo bisa ambil di sana." sambil menunjuk kulkas di dapur. "Lo bisa minum dulu dan gue ganti baju bentar."
"Emm." dehem Aretha malas.
Setelah beberapa menit, "Gimana mau sekarang daftar nya?" tanya Azura saat baru keluar kamar dan mendudukkan dirinya di sofa.
"Em," Aretha mengangguk.
"Ya sudah, silahkan mulai isi."
Aretha membuka laptop milik Azura. Kemudian ia mulai mengisi satu persatu dengan telaten.
"Ini sudah Aretha isi Kak, apakah harus melampirkan foto di sini?" tunjuknya pada laptop Azura. Karena sebelumnya Aretha sudah di izinkan masuk ke dalam link pendaftaran untuk Aretha bisa mengikuti kegiatan Keakraban kampus mereka.
"Ya." tak berapa lama Azura kembali berkata. "Kenapa fotonya jelek sekali." protes Azura ketika melihat foto yang sedang di upload Aretha.
"Memangnya kenapa? Ini kan hanya lampiran." jawab Aretha.
"Kenapa nggak pakai foto lo yang sedikit lebih cantik." saran Zura sambil tersenyum smrink.
"Ish, kenapa cuma sedikit cantiknya." ucap Aretha manyun.
"Cepetan, lagian ini tuh udah malam. Gue mau istirahat, malah masih aja ngebahas ini. Seharusnya ini tuh sudah beres dan sudah gue laporin. Berhubung gue kasihan sama lo, jadi gue kasih kesempatan lo sekarang."
"Iya, oke. Nyebelin banget sih jadi Cowok." ucap Aretha pelan namun masih bisa di dengar. "Ini foto gue mau yang mana yang dilampirkan." menunjukkan beberapa koleksi fotonya lewat handphone.
"Yakin itu lo? Kok cantikan di foto sih daripada aslinya." ucap Azura meledek Aretha.
"Ayo lah Ka, katanya udah malam. Lo minta foto gue yang cantik, gue kasih foto gue yang cantik kok lo komen! Ada baiknya lo kasih gue minum aja dari pada lo komen foto gue. Kalau kaya gini kapan kelarnya coba?"
"Ish, kok jadi lembut nada suara lo."
"Huft," Aretha menarik napasnya perlahan. "Gue males debat sama lo Kak!"
"Oh,"
"Kak?" saat ingin meneruskan ucapannya, malah justru terdengar suara perut Aretha yang Kelaparan.
"krukk... Kruukkk.."
Azura mengernyitkan dahinya. "Itu suara perut lo?" tanya Azura.
"Iya, he..he.." cengir kuda.
"Yaudah, gue buatin lo omlet. Karena hanya ada bahan itu saja yang bisa gue buatin."
"Tapi Ka?!"
"Tidak terima penolakan, gue gak mau nantinya di bilang pelit."
"Ish, baiklah kalau memaksa."
****************
*kediaman Zeo.*
"Bing, anterin gue ke apartemennya Azura yok?" ucap Zayn.
"Tumben lo malam-malam ke Apartemen Azura." jawab Zeo binggung.
"Kabelnya Claudia ketinggalan di sana, orangnya ngamuk minta gue ambil. Kalau gak gue ambil, nanti gue gak di kasih jatah."
"Aish sialan lo, Men. Giliran susah lo nyamperin gue, giliran lo enak gak ngajak gue."
Plakk!!
"Masa ia Claudia gue bagi ke lo, ayok cepet." sungut Zayn kesal.
****************
"Aretha." panggil Azura dari arah dapur namun tidak ada jawaban.
"Tha, ini omlet lo udah jadi. Lo makan di sini ya, nanti kalau dingin malahan gak enak." imbuh Azura yang sedang merapihkan peralatan memasak tapi tidak ada jawaban dari Aretha.
"Astaga, lo itu bener-bener cewek aneh bin ajaib. Gak ada tiga puluh menit lo kelaparan tapi sekarang malah justru lo tertidur lelap seperti ini. Pasti lo lelah banget, sorry Tha kalau gue bikin lo lelah seperti ini dan ternyata lo begitu cantik saat sedang terlelap." gumam Zura sendirian.
Azura tidak tega untuk membangunkan, akhirnya Azura pun mengambil selimut dan menyelimutkan Aretha.
*************
Ting...
Tong..
Bel apartemen Azura berbunyi. Tak lama pemilik apartemen tersebut pun keluar membukakan sedikit celah pintunya tanpa berniat membuka lebar-lebar pintu itu.
"Kenapa lo, Bing? Lo ngumpetin apa di dalam apartemen lo?" curiga Zayn, ia melihat wajah Azura menjadi kikuk setelah kedatanganya. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Iya lo ngumpetin apa? Kok tumben banget lo nahan kita buat masuk!" Zeo mulai mencurigai Azura.
"Gak ada apa-apa." jawab Azura sedikit gugup.
"Alah, ngibul lo." mencoba nerobos paksa, namun kali ini Azura tetap menahan pintu masuknya yang semakin membuat kedua keong racun penasaran.
"Sial, kenapa duo racun dateng ke apartemen gue malam-malam begini." batin Azura.
Saat Azura tengah lengah, Zeo mendorong paksa Zayn masuk. Sehingga Azura tak siap menahan pintu dan akhirnya mereka bertiga pun terjatuh.
"Bangs*t lo Bing, sakit ogeb jidat gue." gerutu Zayn saat keningnya membentur lantai.
"Sorry Men, abis gue penasaran sama apa yang di ump..." suara Zeo terhenti seketika, takala Zeo melihat seorang gadis tengah tertidur lelap di sofa ruang tv apartemen sahabatnya.
"**** Men, lo diem-diem nikung gue." besit Zeo.
"Nikung apaan maksud lo?" tanya Azura yang lupa kalau Aretha tengah tertidur di sofa ruang tv miliknya.
"Njir Bing, diem-diem lo nakal ya??"
"Aish, bukan gitu. Ini gak seperti yang kalian pikirkan." sangkal Azura kala matanya mengikuti arah kemana mata duo racun menatap.
"Slow Bing, kita bisa jaga rahasia lo. Tapi?!"
"Tapi apa hah? Mau gue pecat kalian dari Alricks." ancam Azura.
"Ha..ha..ha..".duo racun hanya bisa tertawa kesal saat mendengar ancaman Azura. Lagi-lagi mereka kalah telak dengan ancaman Azura.
Ketika Zayn berjalan mendekati sofa di mana Aretha tertidur, sontak Zayn langsung berkata. "Bing, bukannya ini anak sepupunya Ammar? Gimana ceritanya nih anak bisa tidur di Apartemen lo?"
"Pakai nanya lagi lo, ya Azura yang bawa lah. Selain kita siapa lagi yang tau apartemen ni Beruang kutub." tunjuk Zeo pada Azura yang berada tepat di belakangnya. "Habis lo apain nih anak, Nge. Kok sampai kelelahan begini? " ucap Zeo absurd sambil tersenyum simpul.
Plakk!!!
"Kenapa otak lo jadi ikutan omes." kesel Azura.
Azura pun kembali menceritakan kejadian tadi siang, bagaimana Aretha bisa sampai berada di sini kepada keduanya.
"Oh, tapi gue heran kenapa sampai lo bisa punya hati sama ni anak."
"Punya hati bagaimana maksudnya? Lo kalau ngomong yang jelas sedikit dong!" Protes Zayn.
"Buat ngasih kesempatan ni Cewek." Sanggah Zeo, membuat Zayn mengangguk kan kepala mengerti.
"Lo bolehin dia buat ke apartemen lo? Padahal kan lo itu anti banget buat di deketin cewek setelah kejadian itu Zu. Dan kalian juga gak sedekat itu, kan?" ujar Zayn yang hafal dengan sifat dingin sahabat baiknya itu.
belum sempat Azura menjawab pertanyaan Zayn, Aretha lebih dulu membuka mata dan seketika matanya membulat sempurna terkejut melihat tiga Pria tampan yang sedang melihat ke arahnya.
"AGGGKKKKHHHH!!" teriak Aretha. "Ngapain lo semua di kamar gue? Gimana lo semua bisa masuk?" Tanyanya sambil memukuli tiga trio ZAZEZU dengan bantal sofa.
"EH, CEWEK SINTING. MELEK WOI, MELEK. INI TUH BUKAN KAMAR LO." teriak Zayn kesal.
Seketika Aretha terdiam dan menatap sekeliling. "Upss sorry." tersenyum imut menahan malu.
Azura hanya menatap wajah Aretha, tak percaya bahwa ada cewek aneh seaneh Aretha. Lalu ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman kaleng dingin yang akan Azura berikan ke duo racun.
Drt..
Drt..
Video call berdering di ponsel milik Zayn.
"Najis." ucap Zeo melihat nama panggilan yang tertera di ponsel Zayn.
"Berisik," Zayn berjalan ke arah balkon apartemen.
"Siapa Ze yang nelpon si kampret?" Imbuh Zura, sambil melemparkan kaleng minuman dingin itu ke Zeo.
"Biasa, bininya." ucap Zeo singkat, lalu Azura pun berlalu masuk kedalam kamar meninggalkan Zeo dan Aretha berdua di ruang TV.
Sambil menunggu Zayn selesai menerima panggilan telepon dari Claudia, menunggu Azura keluar dari kamar. Akhirnya Zeo memutuskan berbincang dengan Aretha, Zeo merasa sudah seperti mengenal lama Aretha karena saking asiknya Aretha diajak berbicara.
"Pantesan aja Azura bisa baik sama lo, ternyata lo asik juga!" imbuh Zeo.
Aretha mengerutkan kening seperti binggung kemana arah pembicaraan Zeo.
"Lola, Zeo menjelaskan maksudnya kepada Aretha. Lo tau kan Azura ini siapa di kampus?"
Aretha menganggukkan kepalanya tanda dia tau apa jawaban dari perkataan Zeo.
"Dan lo juga tau kalau dia penerus tahta kerajaan pierre?" Lagi-lagi Aretha hanya mengangguk.
"Banyak dari jutaan para kaum hawa yang terpesona dengan ketampanannya, apalagi di tambah mereka mengetahui jati diri Azura yang sebenarnya kalau dia adalah seorang putra kedua dari Made Pierre Eglar Albareesh yang berarti bahwa dia juga pewaris tahta seluruh bisnis Pierre serta kampus kita? Banyak yang mengejar-ngejarnya selama ini tapi dirinya menutup akses untuk orang lain dekat dengannya selain kami para sahabat dan satu-satunya wanita yang dekat dengannya pun hanya Claudia kekasih Zayn diluar dari keluarga."
"Terus, kenapa kak Azura memutuskan untuk menutup diri kalau dirinya adalah putra kedua Tuan Pierre?"
"Sebenarnya, ada satu kejadian di masalalunya yang membuat Azura jadi lebih dingin. Ditambah lagi Setelah beberapa bulan terakhir ini dirinya memutuskan untuk tinggal di apartemen mewahnya. Makin dingin dan tak tersentuh sembarangan orang, tak satupun ada yang bisa membuatnya kembali seperti dahulu. Azura yang penuh dengan kehangatan. Tapi setelah gue liat lo, lo bisa bikin dia banyak bicara meskipun kaya Tom and Jerry." Jelas Zeo panjang lebar diiringi tawa di akhir kalimat memenuhi seluruh ruang apartemen Azura.
"Tapi Kak, apa memang Kak Azura dulu lebih hangat? Masa lalu apa yang membuat dia menjadi seseorang yang seperti sekarang?"
"Dulu Azura adalah pribadi yang hangat, banyak bicara dan selalu tersenyum ramah pada siapa saja. Bukan seperti sekarang yang hanya bisa tersenyum pada sebagian orang. Kalau untuk menceritakan tentang masalalu nya itu bukan ranah ku, Tha. Karena aku tidak berhak atas semua itu."
Aretha mengerti dengan sikap Zeo, meskipun mereka bersahabat dan tidak ada sesuatu yang mereka tidak tahu satu sama lainnya. Tapi mereka tetap menjaga privasi pribadi masing-masing tanpa membuka sesuatu yang bukan hak mereka.
"Ngapain lo gibahin gue?" merebahkan tubuhnya di samping Zeo.
"Siapa juga yang lagi gibahiin lo. Kalau pede itu jangan ketinggian, Bing. kalau jatuh sakit nantinya." sangah Zeo.
"Gue denger Bing lo ngomongin gue. Awas aja kalau sampai gue denger lo ngejelek-jelekin gue, gue pastikan lu out langsung." canda Azura.
"Tadi tuh ya Ka, Ka Zeo bilang kalau Ka Azura itu dingin kaya kulkas dua pintu. Terus panasan orangnya, dikit-dikit ngancem." bohong Aretha.
"Enak aja lo, Tha." Protes Zeo tak terima.
"Beneran kok Ka Zeo bilang gitu."
Dan mereka berdua pun berlarian seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran dan Aretha hanya tertawa geli melihat tingkah laku keduanya yang dianggapnya cool di kampus namun begitu kekanakan bila di lihat dari sisi lain.