WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 33



Pada tatapan lekat Aretha ke arahnya.


Aretha hanya terdiam menahan malu karena sudah tertangkap basah mencuri pandang pada lelaki itu


"Yaelah Bing, lo ketus banget jadi orang. Belum tentu juga dia ngeliatin lo." Kata Zeo. " Noh, di samping lo ada Ammar dan di belakang lo ada Zayn dan Laudy." Tunjuknya membuat Azura menoleh.


"Gue kadang heran sama lo, kadang gue lihat lo berdua akur, kadang juga gue lihat lo ketus kaya gini." Zeo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang satu itu.


"Jangan di pikirkan ya, Tha. Memang kadang-kadang otak diatas rata-ratanya suka bergeser." bisik Zeo pada Aretha sambil naik ke atas bebatuan untuk berjalan menghampiri kekasihnya yang duduk sendirian.


Aretha tersenyum "Iya kak." Jawab Aretha.


Sementara itu, Azura langsung berjalan ke arah tengah meninggalkan Aretha dan mulai berenang. Sedangkan Aretha, justru tengah sibuk mencari cincinnya yang tiba-tiba saja terlepas dari kalungnya karena kalung tersebut tersangkut di baju Aretha saat hendak membukanya.


"Yah, cincin gue. Yah kemana jatuhnya ya." Katanya sambil clangak-clinguk berusaha mencari cincinnya. Tanpa memperhatikan langkahnya itu dan tiba-tiba saja kakinya terpeleset.


Bugkh!!!


Kepanikan pun terjadi di saat para pengunjung dan para mahasiswa yang melihat Aretha terjatuh. Mereka segera membantu untuk menolong Aretha, namun Azura langsung saja datang dan mengangkat kepala Aretha.


"Aretha, Aretha, Aretha bangun Aretha." Azura semakin panik ketika di saat mengangkat kepala Aretha terdapat darah yang mengalir bercampur dengan air terjun yang mengalir di sekitarnya.


"Mar, Zayn." seru Azura meminta bantuan. "Tolong cepat angkat dan panggil dokter jaga di perkemahan." titah Azura.


"Maaf Mas, hari ini dokter jaga di perkemahan off." sahut Tour Guide yang menjadi pemandu kegiatan mereka.


"Kalau begitu cepat panggil ambulance ke camp dan bawa tandu lipat kesini." titah Azura kembali.


"Tha, bangun, tha." namun lagi-lagi Aretha tak merespon semakin membuat Azura dilanda kepanikan dan naik pitam.


"AYO CEPETAN ANGKAT." teriak Azura dengan intonasi yang begitu sangat marah saat melihat sahabatnya hanya terdiam saja tanpa melakukan tindakan apapun. "KALAU SAMPAI TERJADI SESUATU KEPADANYA, AKAN GUE PASTIKAN KALIAN MENYESAL." ucapnya lagi dengan mata yang sudah memerah.


"Calm down."


"Damn, how can i calm down." Katanya sendu yang sudah tidak mulai terpancing emosi.


Untung dengan segera Ammar membawa tandu ke arah Azura dan Aretha yang sudah di pindahkan ke arah bebatuan yang kering. Azura, Zayn dan Ammar mengangkat dan membawa Aretha menggunakan tandu lipat itu mengarah ke area parkir.


"Apa ambulancenya sudah datang?" tanya Sha-sha yang khawatir.


"Belum." jawab zeo.


"Mar cepat lo siapin mobil aja. Gue yang akan bawa dia ke RS. Pierre internasional Healthycare terdekat dari sini."


"Oke Bing" ucap Ammar dan langsung berlari menyiapkan mobil.


Setelah 45 menit melewati perjalanan, akhirnya mobil yang Azura tumpangi telah sampai di parkiran RS. Pierre internasional Healthycare.


Aretha langsung di bopong ala bridal style sebelum akhirnya di letakkan di brankar RS oleh Azura. Para perawat dengan cekatan mendorong brankar Aretha menuju ruang ICU. Karena, mereka tau bahwa yang membawa Aretha adalah anak dari pemilik RS. Pierre Internasional Healthycare. Disusul oleh Azura yang ikut berlari di belakang perawat.


Azura dan Ammar dengan setia menunggu dokter yang menangani Aretha keluar dari dalam ruang ICU dan tak lama Zee dan Sha-sha pun datang menyusul.


"Bagaimana keadaan Aretha, Ay?" tanya Zee pada Ammar.


"Siapa dokter yang merawatnya?" tanya Zee namun Ammar menggeleng tanda ia tidak mengetahui.


"Dokter Rey, bokap lo." Kata Azura membuat Zee mengangguk.


Tak lama Dokter Rey pun keluar ruangan dan mereka bertiga pun bangkit, menghampiri Dokter Rey. "Bagaimana keadaan Aretha Om?" tanya Azura yang terlihat khawatir.


"Alhamdulillah, semuanya sudah di tangani dengan baik. Hanya saja kondisinya masih belum stabil dan harus banyak istirahat." ucap Dokter Rey sambil menunduk memberi hormat pada Azura.


"Azura." panggil Dokter yang menangani Aretha, yaitu Dokter Rey. "Apa yang sudah terjadi sama Aretha sampai dia menjadi seperti ini?" tanyanya.


"Maaf Om, Azura tidak tahu persis kejadiannya seperti apa?! Karena kita semua sedang sibuk pada aktivitas kita masing-masing sewaktu di air terjun tadi." jelas Azura jujur.


"Ya sudah, untung saja kalian segera membawanya kesini. Kalau sampai terlambat sedikit kemungkinan dia akan kehabisan darah dan menjadi fatal akibatnya karena benturan yang sangat begitu keras sehingga Aretha mengalami pendarahan di kepala.


"Lalu sekarang bagaimana keadaannya, Pah?" tanya Zee sendu.


"Sahabat kamu itu anak yang kuat sehingga dengan cepat ia melalui masa kritisnya. Alhamdulillah sekarang dia sudah baik-baik saja, Sayang."


"Terimakasih, Pah."


"Sama-sama, tadi dia sempat tersadar dan menitipkan pesan bahwa Om tidak boleh memberi tahukan kedua orang tuanya. Maka, Om ingin meminta tolong untuk kalian menjaganya dan kalian bisa temui Aretha saat dia sudah di pindahkan ke ruang VVIP seperti yang tadi Azura minta."


"Baik Om, saya akan menjaganya sampai dia sembuh dan lakukan apapun yang terbaik buat kesembuhan Aretha Om."


"Om akan pasti kan itu." sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih Om." ucap tulus Azura . "Sama-sama Nak, saya permisi" ucap Dokter Rey.


"Pah, bisa kita bicara sebentar?" tanya Zee.


"Bisa Sayang, silahkan keruangan Dokter jaga." jawab Dokter Rey.


"Gue tinggal sebentar ya, Sha?!" Katanya mengusap bahu Sha-sha.


"Iya Zee." jawab Sha-sha.


"Ay, aku titip Sha-sha."  Ammar hanya mengangguk kecil sambil tersenyum hangat. Lalu Zee dan Dokter Rey pun berjalan menjauhi Azura, Ammar dan Sha-sha.


Setelah masuk kedalam ruangan Papahnya, Zee langsung bertanya tanpa basa-basi. "Pah, kenapa Papah berada di sini? Memangnya Papah lagi ada tugas di daerah sini? Dan kenapa Papah gak call aku?" Cecar Zee sambil duduk di ruangan Dokter jaga.


"Maaf Sayang, Papah tidak ingin mengganggu aktivitas kampus kamu. Lagian Papah kesini bukan untuk bertugas melainkan Papah ada meeting di sini dan sewaktu tadi Papah ingin pulang, Papah tak sengaja melihat Azura berlari membawa Aretha dengan darah yang berlumuran di tangan dan baju Azura." Jelas Dokter Rey.


"Terus?"


"Segera Papah meminta untuk langsung membantunya. Takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap sahabat kesayangan mu itu." ujar Dokter Rey sambil mengusap pipi anak satu-satunya.


"Em, begitu ya. Lalu keadaan Aretha sungguh tidak ada yang harus dikhawatirkan? Aku takut terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya?"


"Tidak sayang, kamu meragukan kemampuan Papah mu ini, hum?"


"Bukan begitu maksudnya Zee, Pah. Papah kan selalu jadi Papah yang luar biasa untuk Zee, apalagi setelah kepergian Mamah. Papah makin luar biasa." lalu mereka saling berpelukan.