
Ammar yang kini sedang berdiri di depan mobil Azura, serta Azura yang juga tengah berdiri menghadap ke arah Ammar. Keduanya tengah berbincang sambil mendiskusikan sesuatu lantas di kagetkan dengan suara teriakan seorang wanita yang sedang berjalan ke arah mereka sambil tergesa-gesa.
"Ay." Panggil Zee kepada Ammar.
"Iya, pelan-pelan dong sayang. Kamu tidak usah berbicara dengan tergesa-gesa seperti itu." Seru Ammar saat Zee sudah mendekat.
"Maaf, aku buru-buru karena aku mau memberitahukan kamu."
"Memberitahukan soal apa?"
"Kalau Aretha masih belum datang padahal sudah jam segini, di hubungi berkali-kali pun juga nggak bisa."
"Enggak bisanya?"
"Ya gak bisa di hubungi, Ay."
"Alasannya kenapa tidak bisa dihubungi? Apa karena ponselnya mati atau karena nggak bisa di hubungi itu tidak di angkat." Sambar Zayn yang baru saja tiba menghampiri mereka.
"Gak tau deh Kak, soalnya gue belum coba sendiri." Serunya sambil terkekeh kecil.
"Lo coba dulu telpon, Mar. Siapa tau karena nggak di angkat" Azura.
"Kok bisa-bisanya Miss disiplin seperti tuh anak datang terlambat mengingat acara sepenting ini."
"Aku juga binggung, Ay. Nggak biasanya Aretha terlambat seperti ini kalau tidak terjadi sesuatu padanya." papar Zee, karena Zee memang tahu betul sifat dan kebiasaan Aretha sejak mereka mengenyam bangku sekolah menengah pertama bersama-sama.
"Oke gue coba telpon sebentar."
Zee mengangguk sebagai respon perkataan kekasihnya barusan. "Kak Azura kenapa wajahnya seperti itu?" tanya Zee yang melihat sedikit kecemasan yang tergurat pada wajah tampan Azura.
"Kenapa dengan wajah gue?" Jawab Azura heran.
"Ah tidak, lupakan saja."
Ammar langsung merogoh sebuah ponsel yang berada di dalam saku kanan celana jeansnya, kemudian dibuka lah password yang melindungi ponselnya itu. Dengan segera ia langsung mencari sebuah kontak bertuliskan nama Aretha.
Percobaan pertama tak di jawab, kembali Ammar mencobanya, sampai akhirnya berkali-kali Ammar mencoba menghubungi, tetap tidak ada jawaban dari sang empu yang di telepon.
"Bagaimana?" Zee.
Azura yang melihat reaksi Ammar yang terus saja menggelengkan kepalanya pun ikut mencoba menghubungi nama yang tertera di dalam kontaknya. "Biar gue yang coba."
Belum juga beberapa menit panggilan itu terhubung, malah justru langsung terdengar suara dari arah balik ponselnya yang terhubung.
"HALO... HALO.." teriak Aretha yang tak mendengar suara apapun. Azura dengan segera memberikan ponselnya kepada Ammar.
"Halo, Aretha ini aku Ammar. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Kak, kok Kak Ammar sih yang bicara?"
"Memangnya kenapa kalau aku yang bicara? Memang kamu berharap berbicara dengan siapa?"
"Ada apa Kak?" ucap Aretha mengalihkan pertanyaan Ammar.
"Mengapa kamu belum juga sampai di kampus? Ini sudah pukul berapa Aretha? Yang lainnya sudah menunggu untuk berangkat tapi karena kamu, keberangkatan mereka jadi tertunda."
"Maaf Kak, Aretha hari ini bangunnya kesiangan dan sekarang Aretha lagi nunggu mobil Aretha yang belum selesai di kerjakan mekanik di bengkel terdekat dengan lokasi Aretha sekarang. Kak Ammar bilang yang lainnya saja untuk berangkat terlebih dahulu tanpa harus menunggu Aretha. Biar nanti Aretha menyusul sendiri ke lokasi yang sudah di tentukan."
"Tidak Aretha, tidak mungkin kalau Kakak meninggalkan kamu dan membiarkan kamu untuk berangkat sendirian. Ini cukup jauh, Kakak tidak akan membiarkan kamu menyusul."
"Tidak, jalannya cukup beresiko bila kamu berangkat sendiri. Kakak akan menunggu Sampai kamu tiba di kampus."
"Tapi Kak ?!"
"TIDAK TERIMA TAPI-TAPIAN, MENGERTI! ATAU TIDAK SAMA SEKALI." bentak Ammar dan langsung menutup sambungan telepon itu secara sepihak.
"Sorry Bing, kita tidak bisa kalau harus menunggu Aretha sampai datang. Kasian yang lainnya yang sedari tadi menunggu untuk bus mereka berangkat menyusul bus yang lainnya yang memang sudah berangkat sedari tadi. Lagian kita juga tidak bisa terlambat mengenai jadwal dan jarak tempuh yang sudah sesuai jadwal yang di tentukan." ucap Zayn yang sedari tadi hanya terdiam.
"Tapi, gue juga nggak bisa membiarkan sepupu gue berangkat sendirian. Lo lihat langit yang sudah mulai Sangat gelap yang menandakan bahwa cuaca akan segera turun hujan. Aretha itu..." ucap Ammar menggantung di udara, ketika Azura langsung menyekat omongannya.
"Biar gue yang akan tunggu Aretha Sampai tiba disini."
"Terus?"
"Gue juga yang akan temenin dia untuk kelokasi, menyusul kalian. Lo nggak usah khawatir kan Aretha." Katanya mempermudah keadaan. "Sekarang kalian semuanya berangkat."
"Lo serius, Bing?" tanya Ammar ragu.
"Lo pikir gue lagi bercanda? Gue serius Bing, gue tau kalau Aretha itu takut petir. Jadi lo nggak usah lagi mengkhawatirkan nya, oke." bisik Azura pada Ammar.
"Thanks banget, Bing. Emang lo sohib gue dan gue percaya sama lo." Kata Ammar menepuk pundak Azura, sambil berlalu meninggalkan Azura.
****************
"Tin... Tin..." bunyi klakson mobil yang baru saja tiba di parkiran universitas internasional jakarta.
"Kak." panggil Aretha saat menuruni kaca mobilnya. "Kak ini busnya kemana? Udah berangkat semua ya?" Tanya Aretha, sedangkan orang yang ia tanya tak terlalu meresponnya.
"Kenapa hanya ada Kakak saja sendirian disini? Apa Aretha di tinggal? Tadi saat di telpon Kak Ammar mengatakan akan menunggu Aretha sampai datang. Tapi?" cecar Aretha.
"Shutt!!" Azura menautkan jari telunjuknya pada bibir Aretha. "Bawel, cepet turun dan jangan banyak bertanya. Pindahkan semua barang-barang bawaan yang kamu bawa ke dalam bagasi mobil ku, cepet lima menit nggak pakai lama." terang Azura.
"Ish, bukannya menjawab malah main menyuruhku saja. Memangnya aku babunya." gerutu Aretha sambil turun dari mobil, kemudian ia memindahkan semua barang bawaannya ke dalam bagasi mobil Azura yang sudah di buka.
"Nggak usah pakai ngedumel begitu!! Cepat masukan barang bawaan kamu ke bagasi. Kamu nggak tau apa, sudah berapa lama aku menunggu dan membuang waktu ku sia-sia hanya untuk bersabar menunggu disini."
"Siapa yang menyuruh Kakak buat nungguin Aretha di sini, kan Kak Ammar yang bilang kalau dia yang akan menunggu aku, bukan Kakak. Mengapa jadi Kakak yang menunggu Aretha di sini, tau Kalau begini Aretha langsung berangkat saja sendiri."
"Kalau bukan karena sahabat baik Kakak yang meminta, Kakak juga tidak akan mau nungguin kamu disini lama dan berangkat bersama."
"Ya sudah kita berangkat saja sendiri-sendiri."
"Yakin? Kamu yakin mau berangkat sendirian?"
"Yakin." Katanya mantap.
"Memangnya kamu tidak takut kalau harus berangkat sendiri dengan mobil butut kamu itu. Bagaimana kalau mobil kamu mogok lagi di daerah sepi atau di dalam sebuah hutan, belum lagi ditambah tuh liat cuacanya pasti sebentar lagi akan turun hujan dengan petir yang menyambar kencang. Beneran mau berangkat masing-masing saja?"
tanpa berpikir panjang, Aretha langsung saja naik kedalam mobil Azura yang di sambut dengan senyum kemenangan oleh Azura.
"Tidak usah senyum-senyum seperti itu, Kak." Aretha.
Azura mendengus perlahan. "Akh sial, kenapa juga pakai lihat aku senyum." umpat Azura di dalam hati. Rasanya ingin sekali Azura menghilang sekarang juga, ketimbang harus ke pergok tersenyum.
Kini giliran Aretha yang tersenyum penuh kemenangan, merebut kembali posisi kemenangan telaknya yang sebelumnya telah di ambil.