WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 2



"Aretha!!" panggil seseorang yang tengah berlari kecil ke arah Aretha.


"Aretha ayo ikut Kakak, ada yang ingin Kakak tunjukkan kepada kamu." ucap Ezra yang terengah-engah sesaat ia sudah berada beberapa meter di depan gadis itu.


"Memangnya Kakak mau ajak Aretha kemana sih? Dan apa yang ingin Kakak tunjukkan kepada Aretha, Kak?" Jawab gadis itu pelan.


"Ayo, ikut saja kemana aku pergi dan mengajak mu. Tak usah banyak bertanya."


"Ish, Kakak ini selalu saja begitu. Kakak sungguh tidak asyikk." gerutu Aretha yang begitu penasaran.


Ezra melangkah mendekati Aretha, ia juga menarik tangan kecil itu untuk segera mengikutinya. Sebelum mengajak Aretha pergi, Ezra sudah terlebih dahulu meminta izin kepada orang tua mereka.


"Kakak mau ajak aku kemana?" lagi-lagi Ezra hanya mengabaikan pertanyaan Aretha dan terus saja menggandeng tangan itu untuk segera melangkah mengikutinya.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di pinggir jalan menuju danau tempat favorit mereka. Aretha pun juga tak lagi banyak bertanya karena Aretha sudah tahu akan kemana tujuan mereka. Kemana lagi jalan setapak yang ia lewati jikalau bukan ke arah danau tempat mereka bermain dan menghabiskan waktu bersama-sama.


"Aku pikir kita akan pergi kemana, kalau hanya untuk kesini. Mengapa Kakak begitu sangat heboh dan harus menarik-narik tangan ku." Keselnya.


"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada mu, Aretha."


"Apa? Danau itu." Tunjuk Aretha ke arah danau.


"Bukan! "


"Lalu apa? Pemandangan gunung itu?" Kembali menunjuk ke arah gunung yang terhampar luas di sebrang danau.


"Bukan!"


"Ayo lah Kak, semuanya sudah bosan aku lihat. Apa yang akan Kakak tunjukkan?"


"Coba kamu lihat ke arah sana." tunjuk Ezra pada Aretha dan Aretha mengarahkan pandangannya mengikuti kemana arah tangan Ezra mengarah.


"KAKAK" teriak Aretha takjub, sambil berlari ke arah pohon besar yang sudah di sulap diatasnya menjadi sebuah rumah kecil yang biasa orang menyebutnya sebagai rumah pohon.


"Kak, ini sungguh bagus. Apakah Kakak yang membuat rumah pohon itu?" tanya Aretha antusias.


"Ya" angguk Ezra.


"Sungguh? Kapan Kakak membuat semua itu, sedangkan kemarin saat kita pulang dari danau semua ini belum ada!"


"Tadi, sepulang sekolah. Hari ini Kakak pulang lebih awal dari biasanya." jelas Ezra. "Maka dari itu, Kakak langsung kesini dan membawa alat-alat milik Mang Oleh (Security keluarga Albareesh)."


"Oh!!" Aretha hanya beroh ria saja.


"Sebenarnya, sudah dari kemarin Kakak ingin membuat rumah pohon ini. Namun belum ada kesempatan dan baru hari ini Kakak bisa membuatnya. Meskipun belum bagus dan rapih, tapi rumah pohon ini sudah bisa digunakan untuk kita berteduh dan bersantai di sini. Kakak tidak ingin melihat kamu kehujanan dan kepanasan saat kita berada di danau. Jadi, ketika hujan kita tidak perlu lagi berlari untuk cepat pulang. Kakak tidak ingin melihat kamu kehujanan dan sakit." Ezra kembali menjelaskan dengan panjang lebar.


"Terimakasih Kak, sungguh Aretha sangat senang sekali." ucap Aretha bahagia sambil memeluk tubuh Ezra dengan sangat erat.


"Iya, sama-sama." Ezra tersenyum sambil mengurai pelukan Aretha.


"Kakak bahagia melihat Aretha bahagia seperti ini. Ini adalah hadiah persahabatan Kakak untuk Aretha."


"Sungguh? ini adalah hadiah persahabatan yang luar biasa Ka. Aretha tidak akan melupakan semuanya. Aretha akan selalu mengingat momen bahagia ini." ucap tulus Aretha.


"Kalau begitu kemarilah." ajak Ezra. "Kita harus berfoto bersama dan akan Kakak jadikan hiasan di dalam rumah pohon ini. Nanti semua foto kita hari ini akan Kakak gantung bersama foto-foto yang sudah Kakak hias di dalam sana."


"Baik Kak." Aretha tersenyum bahagia.


Melihat senyum bahagia Aretha saat ini, menjadikan Ezra terpaksa harus berbohong. Ezra sungguh menjadi tidak tega bila harus jujur menceritakan tentang kepergiannya besok untuk pindah dan menetap tinggal di Paris. Menyusul kedua Kakaknya yang terlebih dahulu untuk menetap disana. Tetapi, Ezra juga tidak tega bila harus membohongi Aretha seperti ini. Ezra menjadi binggung harus bagaimana. Namun sungguh Ezra harus terpaksa mengatakan hal ini.


"Aretha?" Panggil Ezra pelan.


Aretha menengok sesaat, "Iya Kak, ada apa?" Lalu kembali fokus kearah kamera handphonenya.


"Ada yang ingin Kakak bicarakan dengan Aretha, tapi tidak disini." lalu Ezra menarik tangan Aretha yang sedang berselfi ria untuk segera naik ke atas rumah pohon. "Ayo cepat naik, kamu harus lihat ke dalam rumah pohon ini. Aku sudah menghiasinya dengan sangat cantik seperti dirimu."


"Tapi Kak? Kakak ingin mengatakan apa pada Aretha?"


"Nanti akan aku katakan ketika sudah berada di atas." Ezra mendorong pelan Aretha agar cepat naik keatas rumah pohon tersebut.


Aretha sungguh bahagia dan sedikit melupakan rasa penasarannya terhadap apa yang ingin Ezra bicara kan tadi.


Setelah Aretha puas melihat ruang dalam rumah pohon tersebut, kini giliran Ezra mengajak nya kesisi luar rumah pohon itu. Tak lupa juga Ezra menambahkan sisi luar dengan sebuah ayunan jaring-jaring dan bangku kecil yang di tata menghadap ke arah hamparan luasnya danau dengan background gunung. Ezra ingin, Aretha dapat nyaman berada di dalam rumah pohon yang ia buat.


"Bagaimana pemandangannya di sini, apakah kamu suka?"


"Aku suka sekali Kak, ini sungguh luar biasa." ucap Aretha terharu.


"Kamu bisa melihat seluruh pemandangan dari atas sini. Nanti jika kamu merindukan Kakak. Kamu bisa kesini dan lihat lah ke arah sana." Tunjuk Ezra, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Pasti kamu akan menemukan Kakak."


"Maksud Kakak apa? Memangnya Kakak ingin pergi jauh kesana?" seru Aretha yang mengingat kembali prihal yang ingin Ezra katakan padanya. "Oh iya, tadi apa yang ingin Kakak bicarakan pada Aretha?" tanya Aretha.


"Seandainya aku pergi meninggalkan kamu, apakah kamu akan marah dan sedih? Tanya Ezra.


"Marah sih tidak!" Aretha tampak berpikir sejenak. Kemudian, ia melanjutkan lagi perkataannya. "Tetapi, aku pasti akan sangat sedih. Memangnya Kakak ingin pergi kemana? Dan kenapa Kakak sampai harus bertanya seperti itu?"


"Besok Dady Kakak akan pulang ke sini. Dan ia akan menjemput Kakak, serta Mommy!"


"Itu artinya Kakak beneran akan pergi?" sela Aretha, sebelum Ezra menyelesaikan perkataannya.


"Iya." jawab Ezra, di sertai anggukan kepala.


"Kakak akan pergi kemana?" Aretha bertanya dengan nada gemetar menahan sedih di hatinya yang tiba-tiba saja menyerang.


"Besok itu kan hari terakhir Kakak masuk sekolah, setelah beberapa hari kemarin Kakak melewati ujian kelulusan. Jadi Kakak akan berlibur ke Paris selama masa liburan kelulusan Kakak. Tadinya Kakak ingin menolak untuk pergi, namun Kakak tidak mungkin bila harus tinggal di sini sendirian mengingat Kakak hanya tinggal bersama Mommy dan adik You. Tetapi kakak juga berat kalau harus ninggalin kamu disini, Maafkan Kakak." jelas Ezra merasa bersalah.


"Kakak tidak perlu meminta maaf seperti ini. Aretha sungguh sangat mengerti kok. Lagiankan Kakak hanya pergi berlibur bukan menetap disana. Itu hanya dua Minggu Kak, kenapa Kakak bersikap seperti Kakak ingin pergi dalam waktu yang sangat lama."


Akhirnya air mata yang sempat tertahan itu kini menetes juga tanpa permisi. Buru-buru Aretha menghapus air matanya yang menetes. Aretha merasa kalau Ezra sedang lagi berbohong mengenai kepergiannya. "Kakak tidak perlu khawatirkan Aretha sampai seperti ini, Aretha akan baik-baik saja selama Kakak pergi berlibur. Aretha juga akan pergi berlibur kerumah nenek di Jakarta dan disana banyak teman-teman Aretha yang lainnya." ucap Aretha berbohong, demi tidak memberatkan Ezra untuk pergi.


"Sungguh? Aretha tidak lagi berbohong, kan?"


"Sungguh, untuk apa Aretha berbohong mengenai itu. Kalau Kakak tidak percaya, Kakak bisa bertanya pada Bunda."


"Kakak percaya sekali dengan Aretha, mana mungkin Aretha membohongi Kakak." Ezra tersenyum getir.


Ezra juga merasakan hal yang sama dengan Aretha, kalau Aretha sedang berbohong. Mereka sama-sama saling memahami satu sama lainnya. Meskipun mereka berbicara lain, namun mereka hafal jikalau salah satu dari mereka berbohong karena dari mata mereka. Mereka tidak bisa saling menyakiti satu sama lainnya.


"Maafin Kakak Aretha. Demi Kakak, kamu sampai harus bersikap seolah-olah kamu tidak merasa bersedih." batin Ezra.


"Kak, kenapa Kakak melamun? Kakak harus berjanji akan menemui Aretha besok sebelum pergi dan cepat kembali pulang ke sini. Aretha pasti sangat merindukan Kakak." ucap Aretha lirih. "Janji?" Aretha menaikkan jari kelingkingnya.


"Kakak berjanji. Jadi, kamu juga harus berjanji akan nungguin Kakak untuk pulang." jawab Ezra sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Aretha.


Ezra merogoh dada dan melepaskan cincin grandidirite yang selama ini di jadikan sebagai bandul kalungnya, karena lingkaran cincin ini masih sangat terlalu besar untuk jarinya yang berukuran kecil. Maka, Ezra memasangnya sebagai bandul di sebuah kalung miliknya.


Sebuah cincin dengan batu permata langka yang ditemukan pada tahun 1902 di Madagskar. Adalah sebuah cincin milik Kakak kembarannya, cincin yang ia temukan di sebuah kotak beludru berwarna merah yang berada di dalam laci kamar lama Kakaknya. Sewaktu masih menetap di Bandung.


"Pakai ini dan jangan pernah di lepaskan. Cincin ini adalah milik seseorang yang teristimewa bagiku. Suatu saat nanti, cincin ini akan kembali kepada pemiliknya. Jadi jaga baik-baik selama aku tidak ada."


"Iya Kak, Aretha berjanji akan memakainya dan menjaganya baik-baik." jawab Aretha sambil memegang cincin yang sudah di berikan oleh Ezra.


"Cincinnya kebesaran, Kak?" sambil tersenyum dan memperlihatkan cincin itu yang terlihat begitu longgar di tangan kecil milik Aretha.


"Kalau begitu simpan saja cincin ini seperti aku menyimpannya." Ezra lalu memasukkan cincin itu kedalam kalung miliknya sehingga membentuk sebuah bandul.


"Cantik Kak." kata Aretha sambil melihat Cincinnya yang sudah bertengger manis di lehernya.


Ezra memeluk Aretha dengan erat sebagai pelukan perpisahan. Ezra seakan enggan melepaskan Gadis kecilnya, melepaskan pelukan Gadis kecil yang cantik, Gadis kecil yang berhasil masuk ke dalam hatinya, Gadis kecil yang selama ini bersamanya, Gadis kecil yang dulu sering di gendongnya, kini sudah menjelma menjadi gadis cantik yang kini tumbuh besar. Waktu cepat sekali bergulir. Rasanya Ezra tidak rela berpisah pada Gadis kecilnya yang ia selalu berjanji akan menjaganya dan tak akan meninggalkan Gadis itu.


"Kak, sudah lepas kan. Ayo segera kita pulang, hari sudah semakin sore dan sepertinya mau turun hujan."


"Ayo" ajak Ezra, kemudian menggenggam jari tangan Aretha.


Mereka pun berlalu pergi, beriringan.