
Matahari sudah menunjukkan jati dirinya ke permukaan langit ditimur sana. Aretha sama sekali belum bisa tidur dari semalam, dia hanya terus menangis. Begitupun sama halnya dengan Azura yang sejak semalam pun tidak bisa tenang memikirkan masalah ini.
Pintu kamar apartemen nya terbuka, Aretha mendengar suara itu namun tidak perduli. Dia hanya menatap kearah luar jendela, rasa nya Aretha masih ingin menangis namun sepertinya matanya sudah lelah dan kehabisan air mata.
"Aretha." Panggil wanita cantik yang baru saja masuk.
Aretha yang merasa namanya dipanggil pun menoleh sebentar, lalu kembali fokus menatap keluar jendela lagi.
Itu Zee yang datang, seperti nya ia baru saja membolos ke kampus karena merasa khawatir dengan keadaan sahabat nya yang sejak semalam menangis. Ya semalam Aretha menelpon, namun karena sudah malam Zee baru bisa ke apartemen Aretha pagi ini.
Zee langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
"Wah, wah, wah, Aretha Ghania mounira. Lo emang yang terbaik sih menurut gue, lo tetep keliatan cantik banget meskipun tanpa makeup dan muka yang kacau balau begini. Muka lo lesu, pucet, mata bengkak, dan rambut lo berantakan." takjub Zee. "Ha, ha, ha, kenapa kacau bener sih lo Tha." sebenarnya itu tidak terdengar seperti pujian. Aretha yakin Zee sedang meledek nya sekarang.
"Kenapa lo gak ke kampus?" tanya Aretha ketus.
"Bosen, lagian juga udah pernah. Mendingan gue disini bisa dapat hiburan dari sahabat gue yang katanya galau." jawab Zee yang tak kalah ketusnya.
"Cih" decak sebal Aretha sambil ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Zee.
"Sini gue peluk, biar daya lo penuh lagi."vZee merentangkan kedua tangannya.
Aretha langsung saja menghambur memeluk sahabatnya itu. Zee pun langsung menerima pelukan rapuh Aretha, ia mengusap lembut rambut panjang hitam Aretha yang sedikit Curly di bagian bawah. Zee hanya melakukan hal ini jika memang disaat Aretha benar-benar sedang bersedih. Karena pelukan Zee hati Aretha kembali galau, ia merasa sulit untuk menahan tangis nya.
"Zee, gue harus apa?" tanya Aretha sambil menangis di pelukan Zee.
"Tha, hati gue jadi ikutan patah, karena cewek kuat kaya lo jadi lemah begini. Jangan sedih begini dong. Gue, sha-sha, laxy selalu ada buat lo. Kita semua gak akan ninggalin lo kok, jadi jangan lemah begini." ujar Zee tulus.
Aretha mengurai pelukannya, ia mengusap sisa air mata yang barusan saja luruh dengan sendirinya. Ia kembali menyenderkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruang tv. Mencoba kembali menahan selaput bening di matanya agar kembali tidak pecah dan berakhir dengan dirinya yang kembali menangis.
"Gue gak mau nangis lagi. Gue capek, bahkan gue udah berhasil melakukan hal itu dari sepuluh tahun yang lalu. Jenapa gara-gara cowok brengs*k macam kak Azura gue jadi cengeng gini." ucap bibir Aretha yang sungguh jauh berbeda dari hati nya.
"Ha.ha.ha. brengs*k lo bilang, yakin? Menurut gue ka Azura gak brengs*k Tha. Dia justru baik banget sama lo, dia gak mau nyakitin perasaan lo lebih dalam, makanya dia berusaha untuk jujur. Kalau gue ada di posisi nya dia, belum tentu gue mau untuk berkata jujur. Karena gue tau konsekuensinya. Ya pasti, lo bakalan ngejauh. Lebih baik gue simpan rapat-rapat agar lo gak tau, tapi balik lagi serapih-rapih nya lo nyembunyiin bangkai lambat laun pasti bakalan kecium juga tuh aroma nya. Mending lo sakit sedikit diawal, tapi akhirnya lo bisa bahagia. Jika lo mau belajar buat terima itu dengan lapang dada." ucap Zee menepuk pundak Aretha dengan sangat pelan. "kalau lo gak bisa terima itu, kenapa gak lo ambil jalan instan nya aja?" seru Zee menatap Aretha.
"Maksudnya?" bingung Aretha.
"End. The E.N.D" tukas Zee menekan kalimat di kata-katanya.
"Si*lan" umpat Aretha.
Aretha ikut tersenyum. "Jadi gue harus maafin ka Azura."
"Mm, tapi kita uji dia dulu gimana? Gue mau tau seberapa besar dia mempertahankan lo, seberapa besar dia cinta sama lo, dan lo juga penasaran kan? Terus lo juga pasti mau tau, bagaimana alasan dia bisa jujur untuk mengatakan semuanya. Padahal dia tau lo bakalan marah banget saat tau kenyataan nya."
"Tapi, gue gak tega."
"Gue udah tau pasti jawaban lo kaya gitu. Lo itu udah bener-bener bucin ke ka Zura. Lo udah bener-bener sayang dia. Makanya gue gak terlalu khawatir banget sama lo, lo marah karena keadaan, bukan marah karena kejujuran ka Azura. Pada dasarnya lo gak bisa kan marah terlalu lama sama dia?"
Aretha nampak berpikir dan sesaat mengangguk.
"Ha.ha.ha.yah begitulah cinta dan sayang. Bisa menghapus segala kesalahan dengan begitu teramat mudah nya, bahkan penghianatan sekalipun kalau ada aspek dan faktor-faktor yang bisa kita pertahan kan pasti bisa dengan mudahnya dimaafkan."
Aretha menghela nafas, " terus, sia-sia dong gue nangis semalaman."
"Nggak lah, setidak nya semua Beban itu terangkat dan tersalurkan. Lo jadi tau jawabannya kenapa sahabat lo itu gak pernah ngabarin lo dan gue juga yakin kalau sahabat kecil lo itu sudah bisa tenang dan pergi dengan damai disana. Karena lo udah tau alasan dia pergi dan tidak kembali. Lo percaya takdir?"
"Mm, gue percaya takdir itu ada. Karena gue udah pernah buktiin sendiri."
"Really?" tanya Zee, sedikit penasaran.
"Ya, lo inget kan dimana hari pertama gue balik keindo?" tanya Aretha yang di sambut anggukan kepala oleh Zee. "Di bandara Charles de Gaulle, gue nabrak seorang pria, dan lu tau pria yang gue tabrak itu siapa?"
Zee menggeleng pelan sambil terus menyimak penjelasan Aretha.
"Ka Azura. Dan lo tau gue bilang apa ke dia pertama kali?"
Lagi-lagi Zee hanya menggeleng.
"Gue bilang bakalan traktir dia minum coffe, dan gue juga bilang kalau gue dan dia berjodoh kalau ketemu lagi." antusias Aretha.
Ha.ha.ha "Ternyata lo beneran ketemu dia. Wah, gak nyangka sih gue. Kalau sudah jalan takdirnya seperti itu, ternyata kalian memang sudah dipersiapkan berjodoh oleh Allah. Atau mungkin berkat sahabat lo yang ternyata kembaran nya ka Azura. Dia minta sama Allah kali, supaya ka Azura mengantikan posisi dia buat jagain lo, makanya takdir seolah berpihak sama kalian. itu sih definisi ucapan yang bisa jadi dia."
"Mungkin" Aretha kembali galau.
"Udah akh, gak usah galau terus. Mending kita pesen makan aja, gue laper nih." keluh Zee.
Aretha tersenyum dan mereka pun memesan makanan dan menikmati nya dengan obrolan santai.