WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 5



Azura baru saja turun dari sebuah taxy. Langkah Azura tertuju pada sebuah alamat yang mengarah pada suatu bangunan tinggi, yaitu Apartemen sang kekasih yang berada dekat dengan menara Eiffel. Serta berencana untuk memberikan surprise kedatangannya di kota Paris ini. Kota yang berjuluk sebagai kota romantis.


Langkah Azura terhenti tepat di depan sebuah Lobby Apartemen milik kekasih hatinya. Kekasih yang sudah lama berpacaran dengan Azura saat Azura menetap tinggal di Paris. Namun karena harus menuruti permintaan Sang Daddy Pierre, akhirnya Azura tidak lagi tinggal menetap di sana dan kembali pulang ke Tanah Air.


Azura mengambil sebuah ponsel di saku celana jeansnya. Lalu ditekan lah sebuah kontak yang bertuliskan nama kekasih untuk segera dihubungi. Beberapa kali Azura berusaha menghubungi kontak bertuliskan nama kekasihnya. Lagi-lagi panggilan itu tidak direspon dan pada akhirnya Azura memutuskan untuk langsung ke atas Apartemen milik sang kekasih.


Langkah Azura terhenti pada sebuah pintu Apartemen bercat dark brown. Dirinya segera menekan bel tersebut dan tak lama kemudian pintu itu terbuka. Seketika wajah tampan Azura berubah saat melihat seorang Pria di hadapannya dalam keadaan bertelanjang dada dan hanya mengenakan sebuah boxer.


Azura sedetik berpikir, apakah dirinya salah memencet sebuah bel milik orang lain. Namun sedetik pula ia tersadar kalau dia tidak salah memencet bel kamar kekasihnya.


"Sorry, who are you? (maaf, anda siapa?)" tanya Lelaki itu duluan ketika melihat Azura hanya terdiam.


"Where is sean. (Mana sean?)" bukan menjawab, tapi justru Azura malah balik bertanya dengan nada yang sudah menahan emosi.


"Why, you are looking for his where abouts? (ada perlu apa kau mencarinya?)." tanya kembali pria bule itu.


"Who's coming, Honey? (Siapa yang datang, Sayang?)" teriak Wanita yang berada di dalam ruangan, karena kekasihnya tampak lama tidak kembali.


Tanpa permisi dan basa-basi. Azura menerobos masuk ke dalam Apartemen kekasihnya itu. Lebih tepatnya lagi, bukan kekasih. Namun akan menjadi mantan kekasih.


"Aku yang datang." jawab Azura santai, dengan sorot mata yang tajam dan sulit di artikan. Emosinya sudah benar-benar berada di ujung tanduk. Hatinya begitu sakit melihat Wanita yang begitu di cintainya bersama Pria lain dalam satu atap. Bahkan Azura sempat melihat kekasihnya itu dalam keadaan neked tanpa benang sehelai pun tengah terbaring di atas sebuah sofa.


"A... Azura...!" Sean begitu terkejut setengah mati saat melihat Azura kini sedang berdiri menatap jijik padanya.


"Kenapa kamu tidak bilang Kalau kamu mau datang kesini?" Sean berusaha tenang sambil memegang pakaiannya dan berusaha menutupi tubuh polosnya itu dengan sebuah Bathrobe yang terletak tak jauh dari posisinya sekarang.


"Untuk apa aku harus memberikan mu sebuah kabar jika aku ingin menemui mu! Bukan kah selama aku tinggal menetap di Indonesia dan ingin kembali ke City of light menemui diri mu, maka aku tak perlu memberikan mu sebuah kabar? Sungguh aku sudah tertipu, kau bermain di belakang ku dan kini aku mendapati kenyataan jika kau menghianati kepercayaan ku." tersenyum getir.


"INI YANG KAMU BILANG SETIA MENUNGGU DIRIKU?" kali ini Azura berbicara dengan nada suara yang terdengar begitu bergetar. Terlihat jelas dari kuku buku tangannya yang memutih. Azura mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarah yang bergemuruh.


"Azura maafkan aku, aku bisa jelaskan." Sean berjalan mendekati Azura dan berusaha menyentuh tangan Azura. Akan tetapi dengan sangat cepat pria tampan di hadapannya menghempaskan tangan itu begitu saja. Sementara pria yang menjadi selingkuhan Sean hanya terdiam terpaku di tempat tanpa tau apa yang harus dilakukan.


"JAL*NG, TAK TAU DIRI." bentak Azura dan berlalu pergi meninggalkan apartemen mantan kekasihnya dengan perasaan hancur. Karena pada saat detik itu juga Azura memutuskan untuk tidak ada hubungan apapun pada wanita kotor yang menjijikkan macam Sean.


"Azura, aku mohon Azura, jangan pergi! Aku sungguh menyesal dan meminta maaf." Sean berteriak histeris sambil menangis.


Azura terus melangkah kan kaki tanpa memperdulikan tangisan dan teriakan Sean. Hari yang seharusnya bisa melepaskan rindu dan bahagia. Kini berganti menjadi sebuah goresan luka yang teramat sakit. Langkahnya pupus sudah, harapannya untuk memperistrikan Sean setelah lulus kuliah S2nya pun sirna. Sejak saat itu Azura tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta, dia hanya akan menganggap bahwa cinta adalah sebuah luka dan derita.