
Di dunia ini, tidak ada kehidupan yang sempurna. Bahkan di dunia perhaluan pun juga tidak bisa menjadi sempurna. Kalau cerita di buat dengan kebahagiaan tanpa ada sedikit konflik, rasanya menjadi hampa. Begitupun sebaliknya, termasuk hati. Kalau terus merasa sedih, lama kelamaan capek juga. Kalau bahagia terus rasanya hati terasa kaku. Karena tidak ada adrenalin yang membuat jantung berpacu. Semua orang akan merasakan kekecewaan dan kebahagiaan nya dengan cara yang berbeda-beda bukan? Janji yang terikhrar dulu, adalah janji masalalunya. Hidup harus terus berlanjut, luka itu harus berlalu dan berganti dengan kebahagiaan. Cara yang paling ampuh adalah mengikhlaskan dan melupakan. Serta melangkah ke arah depan tanpa kembali menengok kebelakang. Eits, bukan berarti melupakan loh ya. Karena pelajaran awal kehidupan yang kita dapatkan setelah kebahagiaan adalah masa lalu yang menyakitkan.
Seperti nya memang benar, bahwa manusia harus merasakan patah hati terbesar nya sebelum ia mendapatkan cinta terbaik nya, harus merasakan kehilangan terlebih dahulu, sebelum menyadari betapa pentingnya ia dalam hidup nya.😜
Matahari di langit yang tadinya nampak terlihat begitu cerah menampilkan pesona sinarnya. Kini mulai mengarah ke ufuk barat besama semburat jingga kemerahan di temani burung-burung yang berterbangan kembali ke sarang membawa sisa-sisa harapan. Bagaikan pemanis di atas Azura (langit) sana. Sebentar lagi senja. Mengingatkan, bagaikan alarm manusia untuk menghentikan aktivitas nya.
Azura dan Aretha berjalan masuk kedalam villa sambil bergandengan tangan. Semua permasalahan yang sempat melanda mereka akhirnya dapat mereka akhiri dengan kata perdamaian. Yaitu kata "MAAF". Aretha ingin Azura memberitahu kan segala nya, tanpa ada kebohongan lagi atau menundanya sedikit lebih lama. Dan Aretha pun akan mencoba mendengar kan dengan lapang dada dan menerima nya dengan keikhlasan. Agar hubungan mereka kedepannya dapat berjalan dengan baik.
"Ehem, udah ada yang bermekaran namun bukan bunga, ada yang terpancar namun bukan bintang. Apa ya?" sindir Zee sambil menyiapkan makanan di meja makan.
"Ada sambel diatas meja, enak kali ya nyumpel mulut orang pakai itu." ketus Aretha yang menyadari sindiran Zee, yang sudah pasti tertuju kepada nya.
"Ha.ha.ha.ha, lo emang, sahabat gue yang paling peka." ucap Zee sambil memeluk Aretha.
"Gak usah sok peluk-peluk, gue tau lo butuh bantuan gue kan, apa?" tanya Aretha ketus.
"Tuh kan, beneran lo paling peka sejagat Maya." jawab Zee cengar-cengir. "Bantuin gue nyiapin ini semuanya dong. Dari tadi gue nyiapin sendirian."
"Ka Ammar kemana?" Aretha
"Nyari air isi ulang," jawab Zee sekali lagi.
"Memangnya ada yang buang?" sangah Azura menghampiri mereka.
"Maksudnya Zee beli ka" Aretha yang menjawab.
"Kenapa tidak minta bantuan mang Asep." memeluk Aretha dari arah belakang, lalu mencium pipi nya sebentar dan berlenggang mengambil air bening.
"Mang Asep lagi antar istrinya," ucap Zee. "Please woi, Aa dan neng. tolong banget ya, tolong! bisa tidak, dikondisikan. Masih ada makhluk hidup disini." sinis Zee sewot.
"Azura tersenyum tipis mendengar perkataan sinis, Zee.
Sambil mengangguk pelan. Ia langsung saja duduk di depan MacBook yang sudah menyala di lantai depan ruang santai villa. Dan mengerjakan beberapa proyek yang ia tangani bersama Ammar. Sedangkan Aretha sedari tadi hanya tersenyum senang melihat Zee sudah naik pitam melihat interaksi antara dirinya dengan Azura. akhirnya setelah sekian lama menjadi nyamuk diantar kemesraan Zee dan Ammar. Aretha dapat membalas kan nya sekarang.
...****************...
Mereka berempat pun kini sudah duduk rapih di ruang meja makan, menikmati makanan mereka masing-masing setelah Ammar kembali, sejak tadi.
"Tha, habis ini gue izin balik sebentar ya ke rumah bokap. Mumpung gue lagi disini."
"Mm, lo langsung balik apa nginep Zee?" sambil mengunyah suapan terakhir nya.
"Langsung balik sih kayanya." jawab Zee.
"Ya udah hati-hati. Biar ini gue aja yang rapihin, gih lo jalan sana. Nanti keburu kemalaman."
Zee, dan Ammar berjalan melangkah menuruni anak tangga untuk ke halaman depan menuju mobil Aretha. Sedangkan Aretha dan Azura hanya mengantar nya sampai di depan pintu villa. Setelah mobil Aretha yang dibawa Ammar melesat pergi, mereka berdua kembali kedalam untuk beraktivitas kembali dengan pekerjaan mereka yang masih belum terselesaikan.
Aretha kembali membereskan bekas makan mereka, sedangkan Azura kembali berkutat di depan MacBook nya menyelesaikan pekerjaan yang harus di selesaikan nya malam ini hingga besok pagi ia bisa santai.
"Bee," Panggil Aretha lembut.
"Mm, ada apa?" jawab Azura singkat, tanpa melihat kearah Aretha.
"Tidak, aku hanya ingin memberikan ini." Aretha menaruh jus dan makanan itu di depan meja Azura dan ikut duduk di samping Azura.
"Besok hari sabtu. Apa kamu masih harus mengerjakan ini semuanya?"
Azura hanya tersenyum sambil menengok sebentar kearah Aretha dan kembali fokus pada layar didepan nya.
"Ish, kalau sudah dihadapkan pada pekerjaan, aku jadi terabaikan begini." kesal Aretha. Aretha langsung bangun dan merebahkan tubuhnya di sofa yang berada tepat di belakang Azura. Karena posisi Azura yang duduk di lantai.
"Maaf Ay, bukan aku mengabaikan mu. Tapi aku harus benar-benar fokus untuk merapikan nya hari ini. Agar besok aku bisa dengan santai mengajak mu jalan-jalan."
"Sungguh?" Aretha menempelkan dagunya di bahu kokoh Azura.
"Mm" jawab Azura, sambil mengelus lembut kepala Aretha yang berada di bahunya.
"Ok, kalau begitu. Aku tidak akan mengganggu." ucap Aretha dan langsung kembali merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya.
"Good girl."
Jam menunjukkan pukul 20.15, Aretha yang sedari tadi hanya memainkan ponselnya menjadi bosan dan terus menguap. Matanya berair, kelopak mata nya pun terasa berat. Tanpa sadar ponsel yang ia pegang pun terjatuh tergeletak begitu saja, saat matanya benar-benar diserang kantuk yang tidak bisa ia tahan. Deru nafas nya terdengar teratur dan dapat dipastikan bahwa wanita itu benar-benar sudah tertidur pulas.
Azura yang mendengar bendah jatuh pun sontak menengok ke arah suara benda itu. Dan melihat kekasihnya itu sudah tertidur pulas disofa.
Setelah semua pekerjaan yang dilakukan Azura selesai lalu membereskan nya, pria itu kembali ke ruangan dimana Aretha tertidur. Dengan sangat hati-hati Azura mengangkat tubuh Aretha dan menggendong Aretha untuk di pindahkan ke dalam kamar. Menyelimuti tubuh nya dan tak lupa memberikan belaian lembut dan mengecup nya. Saat hendak melangkah kan kaki keluar kamar, tiba-tiba saja Aretha menarik tangan pria itu. "Bee jangan pergi" rancau gadis itu setengah tersadar.
Azura menengok, dan menaikkan satu alisnya. "Ay, kamu mengigau, hum?" ucap Azura kembali menunduk memastikan wanita nya hanya mengigau. Dan disaat itu pula dengan iseng nya Aretha langsung mengecup bibir itu.
"Muach"
"Ay, kamu berpura-pura?"
"Tidak, hanya saja terbangun disaat kamu memindahkan ku kekamar ini. Bee."Aretha sedikit bergeser dan menepuk bed disebelahnya, "Sini" seru Aretha pelan, agar Azura bisa ikut tidur.
Azura langsung menyambut nya dengan sangat baik. Ia ikut terbaring di sebelah Aretha dengan posisi miring yang satu tangannya menopang kepala sambil menghadap Aretha.
"Love you Bee," ucapan Aretha berhasil membuat pria dihadapannya merona.
"Love You too, sayang" mengusap pipi Aretha.
"Bee, boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Mm," jawab Azura singkat.