
Di dalam mobil mereka berdua sedang melakukan perang membisu satu sama lain. Tidak ada yang mau membuka mulut mereka sama sekali membuat mereka saling canggung.
Hanya Azura yang sesekali melirik kearah Aretha yang sedari tadi diam tak bersuara, bahkan Aretha memalingkan wajahnya kearah luar jendela tanpa mau melihat ke arah lain.
Hening!!
Atmosfir di dalam mobil itu seakan mencekam. Hanya terdengar suara ramai lalu lalang mobil dan motor di sekitar mereka. Aretha membuka sedikit jendela mobil itu seolah sedang mencari oksigen yang tak ia temukan di dalam mobil, kedua manusia yang sama-sama keras kepala masih mempertahankan kebisuan mereka tanpa ada yang mau mengalah. Keduanya, baik Azura maupun Aretha hanya sibuk pada jalan pikiran mereka masing-masing.
Azura menghela napas panjangnya perlahan dan kembali mengarahkan pandangan matanya ke arah Aretha dengan pandangan intens.
"Jangan sampai ada sebuah kabar duka terbaru di kalangan anak-anak kampus karena kakak terus menerus fokus menatap Aretha, bukan fokus pada jalan yang berada di depan Kakak." ucap Aretha sinis, Aretha berkata tanpa mau sedikit pun menoleh atau melirik ke arah Azura. Tatapan nya masih setia pada jalan yang berada di luar jendela mobil.
"Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Azura.
"Aretha harus berbicara seperti apa? Bukankah betul yang Aretha katakan, kalau Kakak terus fokus menatap kearah Aretha dan bukan pada jalan yang ada di depan Kakak. Apa tidak ada kemungkinan kita akan kecelakaan?" masih terus setia memalingkan wajahnya kearah luar jendela.
"Nada bicara kamu tidak seperti biasanya yang bawel dan banyak protes. Apa kamu sedang dalam mode marah? Apa aku sudah membuat kesalahan? Atau aku telah membuat kamu kesal? "tanya Azura.
Aretha mendengus kesal, selama beberapa menit melanjutkan perjalanan. Mengapa pria dengan wajah yang tampan nyaris sempurna ini begitu sangat menyebalkan sehingga baru menanyakannya sekarang.
"Apakah Kakak begitu sangat peka, sehingga Kakak baru menanyakannya sekarang? Tadi Kakak kemana saja?" sindir Aretha.
Azura tertawa. "Ough, jadi sedari tadi kamu diam menunggu Kakak duluan yang menanyakan kenapa? Bagaimana Kakak bisa tahu dan peka kalau kamu saja tidak mengatakan hal apapun. Dan bagaimana Kakak bisa tahu kalau kamu lagi merajuk sedangkan kamu saja tidak memberitahu kan dimana letak kesalahan kakak." ucap Azura yang tidak mau kalah.
Aretha kembali membisu dan mengingat kembali kejadian di restoran makan sebelum mereka pergi meninggalkan restoran dan kembali melanjutkan perjalanan menuju area perkemahan.
"Azura." seruan seorang wanita cantik berwajah oriental yang terlihat anggun dengan balutan busana mewah tengah memanggil dan tersenyum kearahnya.
"Hey." sapa Azura sambil berjalan menghampiri wanita cantik itu dan meninggalkan Aretha begitu saja saat mereka sedang berjalan beriringan menuju ke pintu keluar restoran. Mereka memeluk satu sama lainnya dan saling cipika cipiki seperti budaya luar yang selalu terbiasa melakukan hal itu meskipun berbeda jenis.
"Bagaimana kabar kamu dan keluarga? Aku sangat merindukan kalian, terutama sayangnya aku ini." tanyanya pada Azura sambil membelai pelan pipi Lelaki itu dan berhasil membuat perasaan Aretha bergemuruh, menandakan dirinya tak suka mendengar panggilan wanita itu pada Azura terlebih lagi dengan sikapnya yang terlihat genit.
"Ck, Sayang, Rindu." Gerutunya pelan.
"Mengapa mendengar perkataan wanita itu, hati ku terasa tak rela dan nyeri." batin Aretha.
"Sama seperti mu, terlihat baik bukan?"
Azura tersenyum seraya mengangguk. "Oh ya Zu sepertinya aku harus duluan pergi, mobil ku sudah menunggu." ucap wanita itu yang diketahui bernama Rain. Ia berpamitan pergi terlebih dahulu dan kembali memeluk Azura Sebelum ia benar-benar terpisah satu sama lain.
flash back off
"Argkh sial." umpat Azura kepada dirinya sendiri yang merasa begitu frustasi terhadap tingkah laku Aretha yang berubah menjadi es gunung utara. Rasanya ingin sekali Azura mengubah es kutub Utara itu menjadi sebuah taman bunga Dubai Miracle Garden. Dirinya tidak ingin berada pada situasi yang mencekam seperti ini. Biasanya, dahulu jika tiba-tiba mood wanita yang pernah dekat dengannya sedang tidak baik-baik saja. Ia berdiam diri tak menyadari bad mood mereka dan mereka akan kembali baik. Namun baru kali ini rasanya ia dibuat tak berdaya dan kikuk oleh sikap keras kepala Aretha. Benar-benar membuat hidup Azura jungkir balik. Azura tidak menyangka kalau gadis yang tengah duduk di bangku samping nya bisa menjadi dingin dan menyeramkan. Kini Azura harus extra sabar menghadapi wanita yang satu ini, wanita yang kuat dan tidak manja namun agak keras kepala. Melebihi rasa sabar nya menghadapi sang mommy dan adik manja kesayangannya.
"Aretha?" panggil Azura masih terfokus pada jalan.
"Aretha?" kembali manggil, namun Aretha masih tetap saja diam.
"Aretha, maafkan aku jika aku melakukan kesalahan. Aku sungguh tidak mengerti di mana letak kesalahan ku hanya saja seperti nya tanpa aku sadari aku memang telah membuat kesalahan, sehingga menyebabkan kamu marah seperti ini. Maka dari itu aku harus meminta maaf ke padamu. Please, jangan mendiami aku seperti ini lebih baik kamu memaki aku atau apapun itu tapi tidak diam seperti ini." ucap Azura sambil menepikan mobilnya di jalan dekat gerbang masuk perkemahan mereka.
"Hey, Aretha. Please lihat ke Kakak, Kakak sungguh meminta maaf." Azura tengah menggenggam kedua tangan Aretha dengan erat sambil menghadap ke arah wanita yang sudah berhasil memporak-porandakan perasaannya.
"ARETHA." panggil Azura sedikit membentak.
Aretha langsung saja menoleh ke arah Azura. menatap manik mata tulus Azura dengan tatapan membunuhnya tanpa mengeluarkan satu kata pun.
"Aku tidak ingin memperlarut masalah ini, aku hanya ingin masalahnya menjadi jelas dan dapat terselesaikan. Aku tidak ingin kamu bersikap dingin pada saat kita bersama yang lainnya. Nanti akan menaruh perhatian mereka dan bertanya ada masalah apa diantara kita. Jangan bersikap childish seperti ini."
"Maksud Kakak sikap Aretha childish? Aretha mengerti Kak, tidak seharusnya sikap Aretha seperti ini melihat Aretha yang bukan siapa-siapa bagi Kakak. Aretha hanya ingin membuat diri Kakak itu lebih peka, apalagi peka terhadap orang-orang yang berada di sekitar Kakak. kakak tahu? Tanpa kakak sadari sikap Kakak banyak menyakiti perasaan orang lain secara tidak langsung dengan sikap kakak yang acuh, cuek, dan dingin seperti itu. Terlebih meninggalkan orang yang saat ini bersama Kakak sendirian tanpa ada ucapan permisi, apa Kakak tidak berfikir kalau sikap Kakak tidak menyinggung dan melukai perasaan orang lain? Atau Kakak sengaja untuk tidak peka dan perduli terhadap perasaan orang lain? Begitu kah cara seseorang yang dibilang cerdas, memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak sopan. Sungguh jauh berbeda di banding dengan orang tuanya. Bahkan pepatah yang mengatakan bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya tapi menurut aku pepatah itu tidak berlaku untuk Kakak."
Deg
Rasanya seperti di hujani ribuan belati yang menancap tepat di jantung. Azura yang mendengar keluh kesah perasaan Aretha saat ini, seakan menyadari sikapnya selama ini. Mungkin juga mewakili keluh kesah perasaan orang-orang yang selama ini mengejar-ngejarnya tanpa ada balasan dan sikap baiknya terhadap mereka. Azura yang mendengar perkataan wanita cantik disampingnya merasa tertampar dengan perkataan pedas wanita itu. Wanita yang Azura rasa sudah berhasil membuat perasaannya kembali jatuh cinta, namun masih enggan mengakui perasaannya apa lagi mengungkapkan.
Sedetik kemudian, Azura tersenyum melihat ekspresi kesal Aretha. Azura sadar bahwa kini Aretha tengah protes dan menunjukkan rasa cemburunya terhadap dirinya. Entah mengapa ia merasakan kebahagiaan saat ia menyadari atau lebih tepatnya meyakini kalau perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Apa yang sudah membuat Kakak tersenyum? Apa kakak sudah mulai tidak waras?" Aretha bergidik ngeri.