
Azura mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari seseorang yang tengah menunggu nya sedari tadi. Setelah netra nya menangkap sosok yang ia cari, ia langsung berjalan kearah lapangan basket yang berada di dekat taman.
Bibir nya terus tersenyum, saat melihat kekasih nya yang tengah terduduk di pinggir lapangan basket. Langkah nya ia arahkan begitu cepat seakan ingin segera tiba didepan gadis berwajah cantik yang sudah ia cap sebagai miliknya.
"Nunggu lama?"
Aretha mendongakkan kepalanya dan menggeleng pelan.
"Sorry Ay, if it made you wait a long time." Azura berbicara sambil mensejajarkan tubuh nya duduk didepan Aretha dan langsung mengusap lembut pipi Aretha.
"Tidak, aku juga baru saja tiba." ucap Aretha seraya tersenyum manis.
"Ay ,kenapa minta aku buat jemput kamu disini? Memangnya kamu habis dari mana, hum?"
"Aku lagi mau di taman ini, makanya aku minta kamu jemput aku disini. Sekaligus buat temin aku. Apa kamu keberatan?" tanya Aretha menatap kearah Azura.
"Mm, tidak. Jika itu kamu yang meminta nya."
"Are you sure about that.? ( Apa kamu yakin akan hal itu.?)" tanya Aretha meyakinkan Azura.
"Do I look unsure.?" (apa aku terlihat tidak yakin.?)" jawab Azura santai.
Aretha tersenyum. "Kalau gitu gendong?" rengek Aretha manja.
"Hah," Azura nampak bingung.
"Gendong aku bee." Aretha kembali merengek meminta seperti anak kecil yang sedang meminta gendong kepada ayah nya.
"Aku beneran gendong kamu?" tanya Azura memastikan.
Aretha tersenyum seraya mengangguk. Lalu Aretha menarik Azura berdiri dan berjalan kearah bangku taman. Aretha membalikkan badan Azura dan ia pun segera naik kebangku dan dengan segera naik ke punggung Azura.
"Seriusan gendong belakang?kenapa gak aku gendong seperti Baby." tanya nya menggoda.
"Mm, nanti kamu malah macam-macam."
"Hanya satu macam aja paling."
"Let's go" seru Aretha mengalihkan dan Azura mulai berjalan pelan mengelilingi taman sesuai keinginan Aretha.
"Bee."panggil Aretha.
"Hemmm." sahut Azura.
"Boleh kan sekali ini saja aku merindukan nya." seru Aretha sedikit pelan.
Azura tersenyum tipis menangapinya.
"Kamu tidak akan marah kan bee.?" Aretha menempel kan dagunya di pundak Azura.
Azura menautkan kedua alisnya. "Kok mikir nya begitu?"
"Biar bagaimanapun, sahabat masalalu ku adalah seseorang yang begitu sempat ada di hati aku. Dulu aku sering di gendong seperti ini dari danau sampai ke rumah dan entah kenapa aku ingin mengakhiri nya dan menguburkan semua itu ketika aku mengingat wajah kamu yang sedang tersenyum tulus. Aku tidak mau menyakiti perasaan kamu dengan bayang-bayang nya lagi. Dan kamu tau, disaat siang tadi. Aku sempat memimpikan nya. Ia berjalan menggandeng tangan seseorang mengarah mendekati aku dan wajah seseorang yang ia gandeng pun sangat begitu mirip terhadapnya. Sepertinya mereka adalah orang yang berbeda namun terlihat sama. Aku bahkan sampai tak bisa membedakan nya." ujar Aretha.
Deg.
Azura menghentikan langkahnya, ia menurunkan Aretha lalu berbalik badan menatap wajah gadis itu. Hatinya bergemuruh, memang seperti nya ia harus mengatakan hal yang sesungguhnya.
"Mm," Aretha mengangguk pelan seraya menatap manik mata Azura yang hangat dan tulus baginya.
"Ada satu hal, yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi aku ceritakan semuanya di apartemen aku ya. Disini banyak nyamuk, aku sedikit tidak nyaman untuk hal itu."
"Ha.ha.ha.bee kamu sungguh sangat manja ternyata."
"Hanya di depan kamu, tidak apa-apa kan?" Azura berkata sambil menyelipkan helaian rambut panjang Aretha ke telinga. "Masih mau aku gendong atau jalan di samping aku?"
"Gendong."
"Yah, kok masih gendong sih." Azura masang wajah kecewanya, sedetik setelah nya ia tersenyum begitu sangat manis dan kembali menggendong Aretha di punggungnya.
Gadis itu kembali di buat tersenyum atas ulah nya yang terlihat menggemaskan. "Bee, kamu beneran sayang sama aku?"
"Menurut kamu? Kenapa masih bertanya tentang itu. Jelas aku sayang sama kamu lah, kalau tidak sayang kenapa harus repot-repot aku memberikan perhatian yang lebih untuk kamu, meluangkan banyak waktu untuk menuruti permintaan kamu, Ay."
"Sejak kapan kamu sayang aku bee.?"
"Sejak kamu banyak protes."
"Kok gitu?"
"Mm,"
"Kok jawaban nya hanya Mm?"
"Ya aku mana tau. Sejak kapan, Aretha. yang penting untuk saat ini hati aku cuman milik kamu, jiwa dan raga aku pun juga milik kamu. Jadi tidak usah di permasalahkan sejak kapan aku mulai menyukai mu. Kamu paham?"
"Mm." jawab Aretha.
"Kok hanya Mm?"
"Aku hanya mengikuti hal yang beruang madu lakukan."
"Maksud mu, aku beruang madu. Begitu, hum?"
"Aku tidak mengatakan kalau kamu itu beruang madu. Tapi kamu sendiri yang mengklaim bahwa kamu itu beruang madu."
"Oh, ternyata kamu sudah mulai pandai berkilah ya." Azura kembali menurunkan Aretha.
"Kok aku diturunkan sih?"
"Karena aku mau ini." Azura langsung mengelitik kan perut Aretha.
Ha.ha.ha."Geli bee, sumpah aku gak tahan.ha.ha.ha." Aretha langsung berlari ke arah mobil Azura yang terparkir di area depan Taman di ikuti Azura yang berjalan santai di belakang nya. Keduanya pun masuk kedalam mobil dan menyenderkan tubuh mereka masing-masing di kursi mobil.
"Huft." nafas Aretha terlihat sangat ngos-ngosan setelah berlari.
Azura membuka satu botol air mineral dan memberikan nya untuk Aretha minum.
"Terimakasih Bee." seraya mengambil botol air mineral yang di berikan oleh Azura.
Azura tersenyum serta mengelap sisa keringat yang membasahi sebagian wajah Aretha. Sebelum akhirnya Azura menancapkan pedal gas untuk segera jalan menuju apartemen P'avenue.